[Freelance] Difficult Love : Missing You Like Crazy

 

Title

[FF/ Kyuna Version]- Difficult Love: Missing you like crazy  [Episode 2]

KyuNa Version

Author: Windi fitri (Windy)

||Twiteer : @WindiFitrii – Fb :Windi Fitri||

Main cast:

Im Yoona | Cho Kyuhyun | Choi Seunghyun (TOP)

Other Cast:

Byun Baekhyun | Lee Jungsin | Jung Soojung

Kwon Yuri | Kim Joon Myeon

Genre:

Romance | Drama | Sad | Hurt |  friendship,

Rating : G

||disclaimer: jalan cerita murni dan asli pemikiran saya (Windi fitri /Windy). Jika ada kesamaan dalam cerita itu benar-benar tidak sengaja. Disini saya hanya meminjam beberapa nama artis untuk melengkapi cerita. Dan saya harap sahabat YWK menyukai karya saya dan menghargainya dengan mengerimkan kritik dan saran kepada saya. Dan satu hal ‘Bacanya pelan-pelan aja ya’.  Oia ff ini juga ku post di Yoonwonited sebagai Yoonwon version. Jadi kalau ada yang baca cek authornya ya. Masih Windy Fitri ko^^Untuk Typo mohon di maafkan? J||

Note: ‘ Untuk percakapan hurup italic/ catak miring itu Flasback’

 

 

 

*  * *

 

 

 

 

 

 

1-Sesak  nafasku merintih.

Luka yang semakin dalam dan membekas.

                                                Semakin sakit bila kurasa.

 

 

 

Aku menikmatinya, sungguh benar-benar menikmatinya. rasa sakit yang kau rengkuh padaku, aku nikmati semua itu. Aku gilai dan aku resapi. Sungguh siksa yang kau berikan untukku. Sakit dan perih yang kau lemparkan padaku. Aku mencoba terima semua itu.

Aku semakin sakit dalam luka yang tak berujung, saat mereka tahu tentang sebuah fakta, mereka menghujatku tanpa ampun, meski dalam hati. Aku tahu. Oh, sungguh pedih.

Aku adalah seorang mahluk tuhan dalam makna yang aku punya. Dulu ketika ku masih kecil, aku selalu menginginkan kelak aku akan tumbuh menjadi wanita dewasa, kuat dan dapat dijadikan tempat untuk berkeluh kesah bagi orang lain. Tapi ternyata, aku sendiri yang penuh dengan keluh kesah.

SeungHyun, Kau tahu? Cintaku padamu adalah cinta yang tulus. Cinta yang putih. Dan cinta yang utuh. Tak tersentuh, tak terbagi tak tergapai oleh siapapun. tak sedikitpun aku mencoba untuk membaginya. Kau tahu, bahkan kau teramat tahu akan itu. Tapi dengan mudahnya kau mengotorinya, dan mencabik-cabiknya tanpa ampun.

Choi Seunghyun, kau membuatku jengah dengan semua ini. ternyata aku manusia biasa yang mempunyai batas-batas kesabaran dan kekurangan. Pikiranku sudah lelah jika harus terus menerus mengingat-ngingat sosok mu. Tapi nyatanya hati kecilku tak pernah lelah akan hal itu. Sebuah paradoks yang membuatku sakit.

Kekasihku. Pecundang gila yang telah merampas kesucianku. Begitu bodoh dan begitu tolol kau mencampakanku. Kau tahu? Usia kehamilanku sudah berusia dua bulan. Ah, tidak. Kau bahkan tidak tahu aku mengandung anakmu bukan?

Perutku semakin membesar. Orang-orang sudah mulai curiga dengan kehamilanku. Jika mereka tahu aku hamil tanpa suami. Mungkin aku akan menjadi bahan untuk mereka bergosip ria. Tapi, kurasa saat ini pun aku sudah menjadi bahan perbicangan mereka. Ya, aku tahu itu. Tapi sudahlah, aku harus belajar, menjelma menjadi sosok yang apatis. Seperti kau bodoh!

SeungHyun, kau tahu? Saat ini entah kenapa pikiran ku kembali gila karenamu. Jujur, saat ini aku merindukanmu bodoh. dengan asyik aku membuka-buka album kenangan kita. Dan kau tahu? Sebuah foto membuat air mataku menitik. Lagi dan lagi. Aku menangis. Foto disaat kau mencium keningku. Terlihat tulus. Tapi ternyata menipu.

 

 

 

I’ve been alone with you inside my mind

And in my dreams.

Sometimes I see you pass outside my door

Hello..

Is it me you’re looking?

 

 

Kerinduan yang aku punya menjadikanku tersiksa. Antara  cinta dan dusta, seketika berkelit di dasar jiwa. Aku jatuh tertunduk dalam sebuah kehinaan. Mengingat kau. Dan mengenang segalamu, Kau tahu? Aku tidak pernah takut kehilangan apapun. Tapi aku takut kehilanganmu, Dan kehilangan cintamu padaku. Aku takut dan teramat takut akan hal itu.

Dan semua itu terjadi. Kau pergi. meninggalkanku terkapar hina dan keji. Menjadikan ku emosi. Membuat ku benci padamu. Menaruh sebuah dendam padamu. Aku membencimu sekarang, aku membencimu bodoh!

Tapi kenapa aku memikirkanmu. Sakit terasa perih jika harus berkelit antara cinta dan dusta.

Antara mencintaimu dan membencimu, menjadikanku sosok wanita munafik, bahkan pasik.

Tiga bulan yang lalu, desah nafasmu melatakan atap rumahmu. Menumbangkan tiang-tiangnya. Saat persetubuhan itu menjadikan sukma malam itu. Betapa deras hujan waktu itu. Langit dan serangga kecil menjadi resah dan cemburu.

Tatapanmu membuatku terkunci seketika. Aku terlanjur larut akan permainanmu. Saat dimana kita berjamu dengan kau yang setengah mabuk malam itu. Membuatku tak bisa menolak, sekalipun hanya sesaat. SeungHyun. Aku gila karenamu, aku kembali haus akan imajinasi tentangmu. Seperti aku haus akan hari-hari kebersamaan kita dimasa lalu.

Malam ini bibirku terkunci rindu segumpal. Mengenang selembar hikayat yang menjadikan kita seperti layaknya tokoh utama.  Kisah cinta kita yang dulu kita rangkai kurasa lebih indah dari kisah cinta siapa saja bukan?  Tapi kenapa harus berakhir seperti ini? menyakitkan dan membuat hatiku sakit.

Dan malam ini aku Memikirkanmu pencundang gila! kuharap tak setiap malam. karena aku tidak sanggup jika harus kembali berkelit antara cinta dan dusta. Dan mungkin aku akan benar-benar gila setelah itu.

 

 

Hey Tuhan! Aku berteriak padamu. Dengarkan aku! Kau tidak menulikan telingamu untukku kan. [Maaf]

 

* * *

 

 

 

Pagi kini telah datang menyapaku. Menyambutku dengan hangat. aku tidak bangkit dari ranjangku. melainkan terdiam dalam hening yang membuatku membisu. Pagi baru saja datang, tapi kenapa hatiku di sambut oleh sebuah kesakitan. air mata kian mengucur. Membuatku kembali mengingat sosok tentang lelaki itu.

Hatiku kembali sakit. Dan aku kembali rapuh.

Lantas begitu saja aku menangis tanpa suara. Dadaku sesak mengingat mu dan menahan segala kerinduan. Pagi ini aku masih menjadi wanita bodoh dan munafik. Hapeku terus saja berdering. Dan mati dengan sendirinya. Tak tahu siapa yang menghubungiku. Yang pasti aku terlalu malas jika harus mengangkatnya. Sekalipun itu penting. Tapi pikiranku menolaknya. Maaf.

Aku menyibakan selimut yang menutupi tubuhku, mengusap air mataku dan mehembuskan nafas kasar. Aku mulai turun dari ranjangku. tak lupa memakai sebuah sandal yang berhias boneka Rillakuma. Sebuah pemberian dari adikku, terdengar terlalu murah dan biasa, tapi tak apa, aku menyukainya. Sangat.

Aku sempoyongan berdiri. Rasa-rasanya kepalaku mendadak pusing. Bumi seakan kembali bergoyah. Aku mendudukan diriku di tepi ranjang. Memijit-mijit pelipisku. Terasa baik, sekalipun belum sepenuhnya.

Hapeku berbunyi menandakan ada pesan masuk.  Aku menoleh, bangkit berjalan terseok-seok, mengambil sebuah benda persegi. Tanganku lihai bermain di layarnya. Sebuah nomor yang tidak ku kenal berkali-kali menghubungiku. Aku tak meperdulikannya. Kurasa itu hanya orang iseng atau nomor salah sambung.Ya kurasa begitu.

Aku membuka kontak masuk di ponselku. Aku merenyitkan dahi ketika ku tahu ternyata sebuah pesan dari Kyuhyun. Lelaki itu mengirimkanku sebuah pesan. Mengajakku untuk berjalan-jalan?

Aku tidak membalasnya. Kurasa itu tidak penting. Saat ini aku terlalu malas untuk pergi keluar.

Satu pesan kembali masuk. Aku kembali merenyitkan dahiku. Sebuah nomor yang tidak kukenal. Nomor yang sedari tadi menghubungiku. aku membuka pesan itu. Seketika uluh hati ku tersentak.

 

 

 

‘Yoona-ya. Maafkan aku. Aku pergi tanpa memberitahumu.

Mungkin ini keterlaluan. Tapi sekali lagi maafkan aku.

Keadaanlah yang membuatku bungkam dengan semua ini. meski begitu, aku masih mencintaimu.

Yoona-ya, aku merindukanmu. Mianhae. Aku tidak bisa mengatakan apapun padamu.’

 

 

 

Gambar 1 (DF 2)

 

 

 

Aku ternganga seketika, tenggorokanku tercekat. sebuah pesan yang dapat ku pastikan dari lelaki itu. Uluh hatiku tersentak. Deru nafasku memburu. Aku segera menghubungi nomor itu kembali. Tapi hanya suara operator yang kini ku dengar. Dia mematikan ponselnya kembali. aku tercengang, hatiku kembali sakit di buatnya. Tubuhku terasa lemas, bahkan lututku tak bisa lagi menompang tubuhku. Aku ambruk. Tertunduk di lantai yang dingin. Air mataku kembali menitik. Untuk kesekian kalinya.

Air mataku kian mengucur semakin deras. Kenapa? Kenapa dia pergi? dan sekarang apa? Dia menghubungiku. Dan membuatku berharap. Apa yang sebenarnya kau mau? Mempermainkanku terus-menerus seperti ini? kau gila! membuatku hancur berkali-kali.

Aku merintih. Perutku kini benar-benar terasa sakit. Sama sakitnya dengan hatiku saat ini. kulihat sebuah darah mengalir di kakiku. Aku mengusapnya. Membuat tanganku ternodai oleh bercak darah. Tanganku bergetar, air mataku tak kian berhenti. Aku merintih. Sakit sangat sakit. Tuhan, apa ini akhir dari segalanya?

 

 

{…2-kehidupan yang membuatku jengah.

Tuhan, kapan semua ini berakhir…}

 

 

***

 

Pagi yang cerah kini kembali menyambut. Sebuah mobil tiba-tiba saja berhenti di depan sebuah rumah yang tak terlalu mewah. Kyuhyun keluar dari mobil tersebut. Merapikan sedikit penampilannya, dan selesai. Ia berjalan menuju sebuah pagar dari kayu yang tidak terlalu tinggi. Kyuhyun membukanya dengan perlahan. Ia masuk. Berjalan menuju kearah pintu masuk. Hingga kini ia tepat berada di depannya.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya. Tangannya terangkat, mengapung di udara. Ia hendak mengetuk pintu. Tapi tiba-tiba saja ia mengurungkan niatnya dan berbalik untuk pergi. dua langkah ia berjalan kemudian berhenti.

“Baiklah kau harus menemuinya.” Kyuhyun berbalik kembali. kini tanpa ragu ia mengetuk pintu tersebut. Tak ada sahutan dari dalam, dan sekali lagi ia mengetuk pintu tersebut.

“Yoona-ya, apa kau di dalam?”

Tak ada jawaban. Lelaki itu merenyitkan dahinya. Kyuhyun kembali mengetuk pintu itu untuk ketiga kalinya. “Yoona-ya, kau mendengarku?” masih saja tak kunjung ada sahutan.

Kyuhyun berjalan menuju belakang rumah gadis itu. Terlihat sepi, matanya menoleh pada sebuah jendela yang masih tertutup oleh tirai. Kyuhyun mengangkat tangannya yang terkepal. dan Mengetuk jendela tersebut.

“Yoona-ya, jam segini apa kau masih tidur?,”

Kembali ia tak mendapatkan jawaban, Siwon menghembuskan nafasnya. “Baiklah, Yoona-ya, aku pergi.” Kyuhyun hendak melangkah. Baru saja ia melangkah. Sebuah rintihan suara menghentikan langkahnya. Ia terdiam sesaat, mencoba untuk memastikan.

“Kyuhyun-ah…” Kyuhyun kembali menoleh, “Yoona-ya, apa kau didalam?”

“To-tolong aku..” matanya membulat, ia merasa sesuatu buruk telah menimpa gadis itu. Kyuhyun mengetuk-ngetuk pintu tersebut. Nafasnya memburu, kini pria itu tengah panik.

“Yoona-ya, apa yang terjadi?” tak ada jawaban. Kyuhyun segera berlari menuju pintu. Sesampainya ia di depan pintu, lelaki itu tak segan-segan mendobraknya, beberapa kali ia mencoba untuk mendobraknya, dan akhirnya pintu itu terbuka lebar, sekalipun harus dipaksa.

Kyuhyun segera berlari menuju sebuah kamar. Ia mencoba untuk membuka pintu tersebut, tetapi pintu itu terkunci dari dalam. “Yoona-ya, buka pintunya, ini aku Yoona-ya.” Berkali-kali juga ia mengetuk keras pintu tersebut.

Kyuhyun semakin panik. Ia kembali mendobrak pintu tersebut. Dua kali ia mendobraknya tak kunjung terbuka, hingga ketiga kalinya pintu itu akhirnya terbuka, menimbulkan suara gebrakan yang kencang.

Matanya membulat, ketika dia melihat Yoona terkapar di atas lantai. terlihat sebuah darah di ujung kakinya. Kyuhyun segera mengangkat tubuh yoona.

“Bertahanlah, Yoona-ya.”

 

 

 

***

 

 

 

Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut, Kyuhyun bangkit. Ia berjalan tegesa-gesa. “Dokter, bagaimana keadaannya?”

Dokter itu membenarkan jas putihnya, “kondisinya sudah mulai membaik, pendarahan yang terjadi terhadap istri anda disebabkan karena stress berlebihan, di tambah dengan perutnya yang selalu kosong. “ jelas dokter lee.

“Mwo!”

“Ya, tuan cho. Saya sarankan anda lebih memperhatikan kondisi istri anda, apalagi mengingat kehamilannya masih terlalu muda, dan itu cukup rawan untuk ibu hamil.”

“Baiklah dokter lee, saya mengerti. Terima kasih atas perhatiannya.” dokter itu mengangguk dan tersenyum, “ dokter, bisakah saya masuk kedalam?”

“Tentu, tapi jangan terlalu lama. Karena pasien harus banyak beristirahat, kusarankan untuk dua hari dia menginap di rumah sakit.”

“Baiklah, aku akan mengurus semuanya. Sekali lagi, terimakasih dokter lee.” Dokter itu tersenyum. Kyuhyun membungkukan badanya.

“Baiklah, permisi.” Sebelum dokter itu pergi ia membungkukan badanya.

Sesaat sebelum ia masuk, Kyuhyun terdiam. Perkataan dokter tadi membuatnya heran seketika, “Suami?” Kyuhyun terkekeh kecil. “Kurasa, dokter itu salah menduga.” Gumamnya

Kyuhyun menarik bandle pintu tersebut, terlihat Yoona tebaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Gadis itu menoleh, tersenyum menatap kedatangan Kyuhyun. Kyuhyun membalas senyumannya, seketika ia mulai masuk sepenuhnya. Menutup bandle pintu, dan berjalan ke arah Yoona.

“Gomawo, Kyu-ah.” kyuhyun mengangguk, dan menarik sebuah kursi lalu ia duduki.

“Dokter lee mengatakan padaku, akhir-akhir ini kau terlalu banyak pikiran, dan itu membuatmu stres. Dan satuhal kau tidak memperhatikan makanmu bukan? Kau tahu? Itu sangat membahayakan janin yang ada di perutmu Yoona-ya.”

“Aku tahu.” Yoona terdiam. gadis itu menolehkan pandangannya yang kini tak lagi menatap Kyuhyun.

Kyuhyun meraih tangan Yoona, “Kau seharusnya tidak terlalu memikirkan masalahmu, kau punya sebuah tanggung jawab, kau tak boleh egois.”

Yoona menatap Kyuhyun, “kau ingin aku tidak egois? Kau juga ingin aku memikirkan bayi ini. Kyu-ah. kau bahkan tidak mengerti masalahku.”

Siwon terdiam, ia memang tidak terlalu tahu mengenai masalah yang kini gadis itu hadapi, yang ia tahu hanya Yoona kini tengah mengandung, dan dia tidak memiliki suami.

“Mianhae Yoona-ya, aku memang tidak tahu detail mengenai masalahmu. Tapi aku hanya ingin mengingatkanmu. Bahwa kau masih memiliki tanggung jawab dengan bayimu.”

Matanya kini mulai basah, Yoona menundukan kepalanya, dan kini kembali linangan air mata mengucur dia kedua matanya. “Jika kau menangis, kau akan sangat terlihat jelek, “ Kyuhyun mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.

“Percayalah, semua akan berakhir dengan indah.” Yoona tersenyum miris, apa yang dikatakan pria itu memang ada benarnya, ia tidak boleh egois. Ia juga masih memiliki tanggung jawab.

 

 

 

***

 

 

Gadis itu kini sudah terlelap, terlelap damai dalam tidurnya. kuperhatikan setiap inci wajahnya dan seketika jantungku berdebar, aku tidak bisa menafsirkannya bahwa ini adalah cinta. Tidak, aku tidak ingin terlalu cepat. Bukankah semua butuh proses bukan, termasuk untuk urusan hati.

Matanya sembab, dan dapat ku tebak gadis ini terlalu banyak menyimpan kesedihan, hingga selalu membuatnya menangis. Aku memang tidak terlalu mengerti dengan apa yang kini dihadapi Yoona, yang ku tahu hanya, dia hamil tanpa suami. Saat pertama kali aku mendengarnya aku memang sedikit shock. Bagaimana bisa seorang pria berbuat itu padanya, benar-benar bukan pria sejati. Kurasa Yoona telah salah memilih seorang pasangan, atau mungkin dia terlalu bodoh untuk ini.  entahlah, aku tidak ingin terlalu ikut campur mengenai masalahnya.

Gadis itu tertidur begitu lelap, aku memandangnnya tanpa henti. Hingga sebuah deringan suara ponsel membuatku tersadar. Sebuah panggilan masuk dari kantor. Baiklah aku mengingat sesuatu kali ini. Siang ini aku harus melakukan sebuah pemotretan. Astaga aku hampir lupa dengan ini. Aku harus pergi. tapi bagaimana dengan Yoona? Aku tidak mungkin meninggalkannya.

Apa aku harus membangunkannya? Ah, kurasa itu bukan ide yang baik. Mataku menemukan sesuatu, sebuah buku catatan tepat di atas meja, ku ambil buku itu. Dan merobek selembar dari salah satunya. Ku ambil sebuah pulpen dari dalam kantung jaketku, dan bernafas lega setelah tahu pulpen itu masih ada di kantung jaketku.

 

Ku letakan selembar kertas itu di atas meja, Tepat disampingnya. Aku mulai berdiri, menatapnya untuk sekali lagi. “Mianhe, aku harus pergi.”

 

 

***

 

“Hyung apa kau merindukannya?” Tanya Minho. Lelaki berwajah pucat yang kini tengah duduk di sebuah kursi roda hanya tersenyum tipis menanggapinya.

“Sangat. Bahkan lebih dari yang kau tahu.”Minho berlutut dihadapan lelaki yang kini duduk di kursi roda, “Sampai kapan kau akan membuatnya menunggu Hyung?”

“Tidak tahu. Kuharap secepatnya, agar aku bisa kembali padanya.” Lelaki itu hanya menatap kosong sebuah pemandangan yang kini ada dihadapannya. Minho tak menaggapinya lagi, ia diam. Hening seketika.

“Minho-ya, antarkan aku ke kamarku. aku lelah. “ Minho bangkit, berjalan dan mendorong kursi roda itu.

 

* * *

 

 

Yoona membuka kedua matanya perlahan. Tak ada siapapun di ruangan ini, angin berhembus dari arah jendela, membuat tirai yang sudah di buka sedikit mengapung. Gadis itu membenarkan posisinya. Mendudukan dirinya di atas kasur tersebut. Sejenak ia kembali terdiam. Matanya seakan-akan sedang mencari sesuatu. Hingga ia melihat sebuah kertas di atas meja, tepat di sampingnya. Yoona meraihnya, sebuah pesan di tujukan untuknya.

 

‘Yoona-ya, maaf aku mendadak pergi. ada sebuah pekerjaan yang harus ku selesaikan dikantor. Dan setelah semua selesai, aku akan kembali.’

_Cho Kyuhyun _

 

Yoona melipatkan kertasnya, dan kembali menaruhnya di atas sebuah meja. Seseorang suster masuk kedalam ruangan tersebut, membuat pandangan Yoona teralihkan. Suster itu membawa sebuah makanan untuk Yoona.

“Saatnya untuk makan Nona Im.” Yoona tersenyum, suster itu menaruh makanannya di atas meja, tepat disamping Yoona berada. Sebelum suster itu benar-benar pergi dia membungkukan kepalanya.

Yoona meraih ponsel yang terletak di samping makanan itu. Melihat sebuah panggilan tak terjawab. Sebuah nomor membuatnya diam, ia hanya menatap nomor tersebut. Seketika ia mencoba untuk menghubunginya. Sedikit ia menunggu, Yoona hendak berbicara, tapi ternyata suara operator yang menjawabnya. Ia mendesah.

Yoona menyimpan kembali ponselnya. Membaringkan tubuhnya yang kini masih terasa lemas. Makanan yang suster itu bawa, tak sedikitpun membuat gadis itu ingin memakannya. Perut nya menolak untuk di beri asupan gizi.

“Kau bahkan kembali mempermainkanku, SeungHyun. Kau gila.” Yoona memiringkan posisi tidurnya, air matanya kembali menetes. Yoona menutup matanya, mencoba untuk tidak memikirkan masalah ini. ya, sepertinya ini lebih baik.

 

 

*Difficult Love*

 

 

“Cho kyuhyun Tunggu!”  baru saja Kyuhyun menginjakan kakinya saat turun dari mobil pribadinya, seseorang sudah menyahutinya dari jauh.

Kyuhyun menoleh. Melambaikan tangannya ketika ia tahu Jungshin lah yang memanggilnya. Jungshin sedikit berlari kearah Kyuhyun. “bagaimana dengan keadaan Joon Myeon?” Tanya Jungshin.

Mereka berjalan beriringan. “Lebih baik dari yang sebelumnya. Ah Ya, kau bilang hari ini akan ada model baru? Nugu?” tanya Kyuhyun.

“Setahuku seorang gadis yang masih duduk di bangku SMA, kalau tidak salah…euhh…ah, sebentar, biar kupikirkan…euhh…namanya itu…Jung Soo…aihh aku lupa.”

“Ish, kau terlalu berpikir lama Jungshin-ya.”

“Setidaknya aku mengingat marganya bukan.” Jungshin mendengus sebal.

 

Kali ini dua orang pria tengah menanti di depan sebuah lift. Sedikit lama mereka menunggu, hingga akhirnya. Dentingan lift terdengar, dan membuat seketika lift itu terbuka. beberapa orang keluar dari lift tersebut, dan setela kosong. Keduanya berjalan masuk, Kyuhyun menekan sebuah tombol yang ada di dinding lift, pintu lift mulai tertutup.

“Cho Kyuhyun Tunggu!” Kyuhyun repleks menahan pintu lift yang hampir tertutup  dengan kakinya. Karena mengingat atasannya lee joon hyuk lah yang memanggilnya. Dua orang masuk kedalam lift tersebut. Seorang pria dan wanita.

“Terima kasih Kyu-ah. “

Kyuhyun menganggukan kapalanya. Mata Kyuhyun teralihkan pada seorang gadis yang kini ada di samping atasannya itu, gadis itu tersenyum kearah Kyuhyun dan Jungshin.  “Sajangnim. Siapa dia?”  seketika Joon hyuk tersadar, ia telah melupakan sesuatu.

“Astaga, aku lupa memperkenalkanmu dengan rekan kerjamu yang baru Kyu-ah,” joon hyuk tertawa kecil, “Soojung, kenalkan dia Cho Kyuhyun, salah satu fotografer  di perusahaan kami, dan sekaligus rekan kerjamu yang baru. Dan Kyu, dia Jung soojung. Model baru yang akan menjadi rekan kerjamu.” Keduanya tersenyum dan berjabat tangan.

“Semoga kita bisa berkerja sama Nona Soojung.” Soojung tersenyum manis, dan menganggukan kepalanya.

“Dan dia Jungshin, salah satu staf di kantor ini.” kali ini Yoonghwa dan soojung bersalaman.

“Senang bisa berkenalan dengan anda, semoga kita bisa bekerja sama.” Wanita itu kembali menganggukan kepalanya. Dan tersenyum kembali menatap Yoonghwa.

 

*Difficult love*

 

Kyuhyun kini tengah duduk di sebuah sofa dengan kamera di tanganya, wajahnya tampak serius melihat-lihat hasil dari pemotretan tadi. Seketika ia tersenyum senang, menandakan bahwa ia puas dengan hasil jepretannya.

“Bagaimana? Apa fotoku terlihat bagus oppa?” Kyuhyun menoleh, soojung tanpa izin duduk di sampingnya. Kyuhyun mengangguk “Tentu, sangat bagus. Apa kau ingin melihatnya?” Soojung menganggukan kepalanya. Ia mendekatkan posisi duduknya. Dan sama halnya dengan Kyuhyun.

“Lihatlah. Yang ini benar-benar terlihat bagus dan sangat natural.” Kyuhyun tersenyum senang, sama halnya dengan wanita itu.

“Ya, oppa itu sangat bagus.”

“Yak! Cho Kyuhyun, kau tidak pulang?” Tiba-tiba saja Jungshin muncul di hadapannya. Keduanya menoleh.

“Ya! kalian sedang apa berdua dengan jarak sedekat itu eoh?” seketika Kyuhyun dan soojung segera menjaga jarak keduanya, Jungshin  mendelik, “Cho Kyuhyun, kau sedang tidak melakukan pendekatan bukan?” Todong Jungshin. Soojung terekeh.

“Yak! Jangan berbicara sembarangan, tadi kami berdua sedang melihat hasil pemotretan tadi bodoh.” Tukas Kyuhyun, Jungshin  mengerucutkan bibirnya lucu ketika mendengar kata bodoh yang di tujukan padanya.

Kyuhyun melirik jam yang melingkar di tangannya. “Sepertinya aku harus segera pergi. “ Kyuhyun mulai membereskan barang-barangnya.

“Yak, kau mau pergi kemana? Kau tidak ingin pergi makan bersamaku?”

“Jungshin-ya, aku lelaki normal. Sedikit aneh jika kau mengajaku makan bersama.” Seketika Jungshin terkejut dengan yang dikatakan Kyuhyun. Soojung terkekeh. “ Yak! Cho Kyuhyun, perkataanmu bisa membuatnya salah paham, Ish..” Pekik Jungshin.

“Nona, kau tidak perlu mendengarkan omongannya yang tadi oke.” Jungshin mencoba untuk meyakinkan Soojung. Tapi wanita itu hanya menganggukan kepalanya dan tertawa kecil.

Kyuhyun menggelengkan kepalannya, berkedip kearah soojung, dan mulutnya bergerak-gerak  seolah-olah ia mengatakan jangan percaya dengan apa yang dikatakan Jungshin.

Kyuhyun terkekeh, Yoonghwa geram dengan tingkah lelaki itu. Rasa-rasanya Jungshin ingin sekali menyumpal mulut Kyuhyun dengan sepatu. Dan soojung, Sedari tadi ia hanya tertawa kecil karena menyaksikan sebuah pertengkaran lucu antara Kyuhyun dan YoongHwa.

“Ish, Yak! Kau menyebalkan sekali!” pekik  Jungshin. Dan membuat Kyuhyun tertawa keras, Lelaki itu benar-benar jail. Temannya saja ia kerjai.

 

**Difiicult Love**

 

Aku disini. Terbaring lemah menatap rinai butiran air langit. Sesekali dia menyapaku dengan dinginnya, menyapu dan seketika aku tersenyum meraba, mengenang waktu dulu. Saat pertama kali kau memangut rawan bibirku di atas ranjang. Kau bahkan tak memberikanku ruang untuk bernafas ketika itu.

Kerap kali memikirkanmu selalu membuat uluh hatiku sakit, dan air mataku menitik. Aku mencoba untuk tak mengingatmu, tapi keadaan. Seolah-olah membuatku harus mengingatmu.

Tuhan, air mata menggeserkan ribuan kata yang terencana ini. apa ada ketololan lain setelah ini? Tuhan yang lembut menyapa, sampaikanlah sebuah cerita tanpa kasta ini. ceritakanlah, ceritakanlah rindu yang menggelegak ini.

 

 

 

Dentuman music di sebuah pub terdengar begitu jelas dan berisik, membuat semua orang yang ada di dalam seketika terhanyut dalam aliran music itu.  Im Yoona. gadis yang memakai sebuah piama tidur dan dibalut sebuah jaket, mulai memsauki area pub tersebut. Beberapa orang terlihat menatapnya aneh, tapi bahkan ada laki-laki yang mencoba untuk menggoda. Tapi syukurlah, Yoona tak menanggapinya sama sekali.

Baru saja pertama kali masuk ke dalam pub, banyak sekali pemandangan menjijikan yang gadis itu lihat, gadis itu menghela nafas kasar, mencoba untuk tidak memperdulikan pemandangan menjijikan di sekitarnya.  Matanya sibuk mencari-cari orang yang kini di pikirannya.

“Seunghyun Oppa, kau dimana.?”

Gadis itu mulai berjalan masuk lebih dalam, sorot matanya sibuk mencari sesuatu di dalamnya, bahkan secara tak sengaja dia menabrak seorang wanita sexy yang kini tengah menggandeng seorang lelaki yang sudah dipastikan sudah cukup tua. Yoona memohon maaf beberapa kali.

“Dasar bodoh!” wanita seksi itu melengos pergi, meninggalkan Yoona yang sibuk meminta maaf dengan membungkukan badannya.

Gadis cantik itu kembali berjalan, matanya seketika tertuju pada seorang pria yang kini tengah duduk dengan segelas Wine di lengannya. Gadis itu melangkah mendekat.

“Yak! Apa yang kau lakukan, Seunghyun Oppa, Hentikan!” Yoona mengambil kasar segelas wine ditangan seunghyun. Lelaki itu menoleh denngan mata sayunya.

“Uhuk.. Yoong, Kau tahu? Uhuuk. “

“Oppa, kau mabuk berat.” Yoona segera merangkul tangan seunghyun, “Ya.. dan mereka ingin mengancurkanku, haha Uhukk..” Racau Seunghyun.

“Kita pulang sekarang,”

 

Yoona membaringkan Tubuh laki-laki itu di atas ranjang, Choi seunghyun. Seketika laki-laki itu mulai terlelap dalam tidurnya. Yoona memperhatikan wajah kekasihnya, tersenyum simpul, dan mengusap kepala seunghyun dengan lembut.

“Orang-orang itu bodoh. Uhukk..” kembali laki-laki itu meracau. Yoona menghela nafas lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh Seunghyun.

Yoona mulai bangkit, baru saja ia berbalik. Tapi sebuah tangan menarik lengannya, hingga kini ia tepat berada di atas tubuh seunghyun. Seunghyun membuka matanya yang masih –teler-. Ia tersenyum manatap Yoona, mengusap wajah gadis yang dicintainya dengan lembut.

Yoona hendak bangkit, tapi seunghyun memeluk gadis itu dengan sangat erat.

“Oppa, lepaskan aku. Aku harus pulang.”

“Jangan pergi Yoona-ya, jangan pergi.” tiba-tiba saja seunghyun menarik tekuk Yoona, mencium dan melumat bibir mungil gadis itu dengan ganas. Yoona mencoba untuk menolaknya, tapi ternyata percuma saja,  gadis itu tidak bisa berbuat apapun, bahkan kini menolakpun ia seakan tak mampu. Tubuhnya terlanjur terkunci, dengan seunghyun yang memeluknya erat -sangat erat-

 

 

 

 

3-Nasibku seperti sebuah daun yang jatuh kepelataran.

Dengan disaksikan oleh daun-daun lain yang bertebaran.

Terinjak, hina. dan terasa perih untuk dirasakan.

 

 

* * *

 

Gadis itu masih bertahan dalam diamnya, terbaring dengan menatap kosong kearah jendela. Di luar hujan lebat, bahkan sangat lebat, matanya terus terpokus pada rintikan air hujan.

“Andai saja jika air hujan bisa menghapus setiap luka di hati. Maka aku akan meminta padamu [Tuhan]- agar terus menurunkan hujan untukku.”

Terlihat gadis itu mulai menutup kedua matanya perlahan, menghembuskan nafas tenang, dan kembali menatap kearah jendela.

 

“Sedang memikirkan apa?” sontak gadis itu menoleh pada seorang pria yang kini baru saja datang. Laki-laki itu perlahan mulai masuk,  berjalan mendekat dan meletakan sekeranjang buah-buahan di atas meja tepat disamping Yoona. Kyuhyun menarik kursi lalu ia duduki. Yoona kembali menolehkan pandangannya kearah jendela. Seperti tak peduli dengan lelaki yang kini ada dihadapannya.

“Tidak.”  Jawaban singkat itu seketika membuat Kyuhyun tersenyum dan menghela nafasnya. Sesaat hening, hingga kemudian laki-laki itu meraih sesuatu dalam tas ranselnya. Kyuhyun mengeluarkan sebuah kamera, ia bangkit berjalan mundur dengan kamera di tangannya, Yoona masih belum tersadar dengan apa yang kini akan dilakukan pria jahil itu.

“Hey, lihatlah kemari.” Yoona menolehkan pandangannya dengan ekspresi datar dan mulut yang sedikit menganga.

Klikk..

 

 

“Yak! Apa yang kau lakukan, menfotoku tanpa izin seperti itu. Cih.” Amuk Yoona. Kyuhyun tertawa, memperhatikan hasil jepretannya tadi .

“Yak, cepat hapus foto itu. Pasti sangat jelek, kau ini tidak penting sekali menfotoku secara tiba-tiba.” Yoona mendengus sebal. Kyuhyun berjalan mendekat kearah Yoona, duduk di kursi dan kembali tertawa.

“sampai kapan kau akan tetawa eoh?” Lelaki itu malah semakin keras tertawa, ia memegang perutnya yang terasa geli dan sakit, “Hahaha, ini sangat lucu. Bahkan lebih lucu dari film kartun. Hahaha,”

“Lihatlah (menunjukan kamera pada Yoona).” Kyuhyun memperlihatkan hasil jepretannya tadi.

“Ekspresimu sangat lucu. Hahaha.” Kyuhyun kembali tertawa keras sambil menghentakan kakinya ke lantai, Yoona merenyitkan dahinya. “Sangat tidak lucu!”

“Hey, ayolah bukankah itu sangat lucu, Hahaha.”

“Hentikan tawamu itu, kau tahu? Tidak ada lucunya sama sekali!” Ketus Yoona. Kyuhyun mencoba untuk menghentikan tawanya, seasaat ia terhenti. Tapi seketika tawanya pecah kembali, Yoona menatapnya tajam “Yak! Hentikan itu.” Pekik Yoona.

Lelaki itu menutup mulutnya, sekalipun seperti itu tetap saja tawanya masih terdengar, Yoona mendengus sebal “Yak! Kau ingin mati eoh?” gadis itu mengangkat tangannya dan memukul lengan Kyuhyun untuk beberapa kali. Kyuhyun tidak menghentikan tawanya, melainkan ia kembali tertawa. “Hahaha~ baiklah-baiklah aku mengalah.” Mendengarnya membuat Yoona mengentikan aksinya itu.

Kyuhyun menghela nafas, tapi seketika ia melihat yoona yang kini mentapnya sebal malah membuatnya ingin kembali tertawa.  Yoona melotot, membuat Kyuhyun tidak jadi tertawa.

 

 

Hening. Tiba-tiba saja suasana mendadak hening. Kyuhyun mendesah, ia tidak suka jika harus terjebak di situasi tidak menyenangkan ini. Gadis itu kini kembali diam, diam dan pokus menatap jendela, hujan kini sudah mulai reda.

Deringan suara ponsel yang berasal dari ponsel Yoona seakan memecah keheningan, Yoona meraih ponselnya yang terletak di atas meja tepat disampingnya. Sesaat gadis itu kembali terdiam. Byun baekhyun. Namja itu kini menghubunginya.

Kini pikiranya bingung, haruskah ia mengangkatnya?

Seketika Kyuhyun mengambil ponsel di tangan Yoona, sedikit memaksa. Yoona hendak mengambilnya, tapi dengan cepat laki-laki itu menjauhkannya.

“jika kau tidak ingin bicara, biar aku yang bicara. Oke.” Gadis itu mengalah, ia mendesah. Dan ketika itu juga Kyuhyun mengangkat telponnya.

“Yeobosheo?” lelaki itu menatap Yoona.

“…………….”

“Dia sekarang berada di rumah sakit, Nuna mu mengalami pendaarahan.” Yoona melotot ketika Kyuhyun mengatakan sebenarnya.

“…………….”

“Ya, bisa datang ke Wooridul spine hospital seoul.”

“…………….”                         “

“Ya, kami tunggu.”

“…………….”

“Cheonmanayo.” Kyuhyun mematikan sambungan telponnya, seketika Yoona memukul lengan Kyuhyun, “Yak, kenapa kau mengangkatnya? Dasar bodoh!”

“Bukannya dia adikmu, kau tahu dia sangat menghawatirkanmu.”

“Ishh..”

“sebentar lagi ia akan datang, dia bilang akan mengajak orang tuamu,” terang Kyuhyun,  Yoona sedikit terkejut dengan apa yang di katakan Kyuhyun, kyuhyun melihat ekspresi berbeda dari wajah Yoona, “Waegeurae?” gadis itu tak menjawab, Kyuhyun masih menatapnya heran. Seketika laki-laki itu bangkit, melirik jam yang melingkar di tangan kekarnya.

“Aku akan kembali Yoona-ya,” baru saja Kyuhyun hendak melangkah, tapi gadis itu menahannya.

“Jangan pergi.” Kyuhyun menatapnya, ia kembali duduk dan memegang tangan Yoona,  gadis itu menangis, Kyuhyun mengangkat dagu Yoona lembut, kini keduanya bertatapan, satu tetes air mata meluncur di pelupuk matanya, Kyuhyun mengusapnya dengan lembut.

“Bukankah sudah ku katakan, kau sangat jelek jika menangis Yoona-ya,”Yoona tak bergeming, bahkan kembali ia meneteskan air mata, Kyuhyun beranjak dari duduknya, merengkuh gadis itu dalam dekapannya, “tenanglah, kau bisa ceritakan semua padaku.”

Yoona terisak dalam dekapan Kyuhyun,  ia memeluk laki-laki itu dengan erat, bahkan sangat erat. Kyuhyun mendekapnya dengan hangat, mengusap kepala gadis itu dengan –sayang-

 

 

 

4-[sekedar titipan, mataku bengkak karenanya.]

 

* * *

 

 

Jika saja mengatakan sebuah kenyataan tak sepahit untuk dirasa mungkin aku akan mengatakannya padamu. Sayang, Maaf membuatmu harus menunggu, menunggu untuk sesuatu yang tak pasti akan hadirku. kasih, segumpal rindu kini  merajai hatiku, tak kan putus takan lepas. Dan tak akan pernah lelah walau sesaat.

Kerap kali aku selalu memikirkanmu,  memikirkan bagaimana kau disana. Tanpa ku,-sosok lelaki bodoh yang telah meninggalkanmu-.

Apa kau terluka?

Apa kau menangis?

Aku harap tidak, karena kau tahu. Itu akan membuatku sakit. Disini aku terluka, menangis dalam sebuah kehampaan cinta.

Maaf dan maaf, hanya itu yang bisa ku katakan padamu. Sayang, kuharap kau tak berpaling dariku, tetaplah berdiri dengan keutuhan cintamu padaku, tetaplah kau titipkan hatimu untukku. Karena aku akan tetap merengkuhnya. Dalam jiwa dan segumpal rindu.

Aku akan kembali, tapi tidak untuk sekarang. Ada beberapa hal yang membuatku pergi  dan menghilang dari hadapanmu. Bukan karena ku tak mencintaimu, hanya saja aku tak bisa mengatakannya padamu. Sayang, aku disini. Mencintaimu dan akan tetap mencintaimu. –Maaf-. Telah menorehkan luka dihatimu.

“Hyung, apa yang sedang kau lakukan disini? “ tanya minho yang kini muncul dihadapanku.

“Tidak melakukan apa-apa.” Jawabku singkat.

“Apa kau sedang memikirkannya hyung?” aku menghela nafas, tidak perlu ditanyakan. Karena pasti dia mengetahuinya, “Ya, selalu dan selalu begitu.”

“setelah kakimu sembuh, aku akan membantumu untuk bertemu dengannya, dan kupastikan Appa tidak akan tahu, Hyung kau harus bertahan.” Aku menoleh, Minho tersenyum meyakinkan padaku.

“Terimakasih, Minho-ya.”

 

 

[Aku akan datang. Walau dengan waktu yang tidak bisa di pastikan. ]

 

* * *

 

Yoona menoleh, ketika seseorang membuka pintu ruang rawatnya. terlihat baekhyun menyembulkan kepalanya di pintu, seketika bibir gadis itu merekah ketika baekhyun datang. Pria imut itu mulai melangkah masuk. Senyuman itu tiba-tiba saja pudar ketika sang ayah datang menyusul dari belakang dengan seorang wanita yang dapat dipastikan itu adalah istrinya.

Nyonya Im, seketika dirinya berlari menghambur memeluk Yoona, wanita tua itu sedikit mengeluarkan air mata, bagaimana tidak. dirinya adalah seorang ibu, dan ibu mana yang tak menangis ketika sang anak terbaring dirumah sakit, dengan kondisi seperti itu.

“Yoona-ya, maafkan eomma. Seharusnya kami menjagamu.” Yoona mengusap punggung sang ibu, rasa-rasanya kini matanya mulai basah |-lagi-|.

“mianhae, eomma.”  Haneul melepaskan dekapannya, menatap sang putri yang kini kembali mengeluarkan air mata, haneul lantas mengusap air mata itu dengan ibu jarinya, “Kami sangat merindukanmu,” gadis itu mengangguk dengan sisa-sisa air mata di pipinya.

“Bagaimana dengan laki-laki bajingan itu Yoona-ya?” yoona menoleh ketika ayahnya menanyakan hal itu lagi, ia menunduk, “Aku tidak tahu.” Jawab Yoona sedikit takut, Young Jae menghembuskan nafas kasar. “Sudah ku duga, laki-laki itu melarikan diri, bajingan!” Young jae sedikit emosi, Yoona merasa takut jika ayahnya kembali mengamuk.

Baekhyun dengan sigap menenangkan sang ayah.,“Appa, sudahlah, saat ini Yoona Nuna harus istirahat. Jangan marah-marah seperti itu.”

“Ya! Kau tahu apa hah?” Baekhyun terdiam , ia menundukan kepalanya.

“Sampai matipun aku tidak akan pernah memaafkannya.”  Runtuk Young Jae.

 

Pintu terbuka seketika,“Yoona aku datang, lihatlah aku membawakan sesuatu untukmu,” Kyuhyun menghentikan langkahnya, ketika tiba-tiba saja ia muncul di ruangan itu. Kyuhyun mematung, laki-laki itu sedikit terkekeh dan mengusap tekuknya.

“Maaf aku tidak tahu mereka telah datang.” Young Jae menoleh, “ Cho Kyuhyun?” Kyuhyun terdiam.

“Ahjusshi?”

 

 

*Difficult Love*

 

 

“Bagaimana kabarmu dan keluargamu, serta joon myeon?” Kyuhyun menghela nafas, lalu sedikit tersenyum.

“Kabarku tentu baik-baik saja, dan keluarga ku juga baik, dan joon myeon sedikit lebih baik dari kondisi sebelumnya.” Jawab Kyuhyun. Young Jae mengangguk, kini dua orang pria sedang berada di sebuah kedai kopi di pinggir jalan.

“Kyu-ah apa kau baru mengetahui semuanya? Mengenai Yoona?” Kyuhyun mengangguk, dan seketika ia kembali menyeruput kopi hangat di tangannya.

“Tidak, aku tidak pernah tahu bahwa Yoona adalah gadis yang hendak kalian jodohkan denganku.” Young Jae merenyitkan dahinya. “Apa Kihan tidak pernah memperlihatkan foto Yoona?” Kyuhyun menggeleng, “Ishh… “

“Appa tidak pernah memperlihatkan fotonya kepadaku, yang pasti dia ingin aku menerima perjodohan itu, saat itu aku tak peduli sama sekali mengenai hal itu, jadi aku mengiyakan saja Ahjusshi.”

“Tapi maaf Kyu-ah, aku sudah membatalkan perjodohan itu, apalagi kau sudah tahu dengan kondisinya yang saat ini sedang mengandung bukan? Isshh lupakanlah, putriku memang bodoh.”

“Mwo? Kenapa di batalkan?”

“Ya! apa ayahmu tidak pernah mengatakan apapun?” sekali lagi Kyuhyun menggeleng pelan.

“Ah, sudahlah lagi pula semua sudah berakhir bukan. Ya, itu lebih baik. Ayo, Minumlah,” Young Jae menyeruput secangkir kopi di tangannya. Kyuhyun mengangguk. Dan kini ia diam.

“Yak, Kyu-ah ada apa denganmu eoh?”

Kyuhyun menghela nafas, “Ahjusshi, apa boleh jika aku meminta perjodohan itu di lanjutkan, karena aku ingin menikahi Yoona-ah? bisahkah ahjushi?”

Young Jae terkejut, “Mwo??”

***

 

 

“Eomma, aku benar-benar kenyang. Sudah ya?”. Yoona menolak ketika Haenul hendak menyuapkan kembali satu sendok bubur ayam kemulutnya. Haneul kini menghembuskan nafas pasrah, ia meletakan sendok itu kembali dan dan menarunya di atas meja, tangannya kini meraih segelas air putih lalu ia sodorkan kepada Yoona, “Yoong, minumlah.” Yoona meraihnya, meminum air tersebut, dan setelah merasa puas ia meletakan gelas itu tepat di atas meja.

“Yoong, kau harus menjaga kodisimu, dan kau tidak boleh stress, ingat kau sedang mengandung. Ne?” kata haneul seraya tangannya mengusap lembut kepala Yoona. Yoona tersenyum miris, “Ne, aku akan lebih memperhatikan kondisiku.” Jawab Yoona.

“Yoona Nona, lihatlah ini.” tiba-tiba saja baekhyun yang sedari tadi duduk di sofa dengan ponselnya, kini berdiri dan berjalan menuju Yoona. Hendak memperlihatkan sesuatu.

“Nona, lihatlah (menunjukan ponsel kearah Yoona)” Yoona mengambil ponsel tersebut. Seketika dahinya berkerut, “Nama-nama bayi? Untuk apa kau mencarinya di internet eoh?” Tanya Yoona yang kini menatap baekhyun bingung.

“Ya tentu saja untuk keponakanku,”

“Ya! Itu masih terlalu jauh bodoh.” cetus Yoona, baekhyun mendengus sebal. “Isshh…Nona ini, seharusnya kau mempersiapkannya dari jauh-jauh hari.”

“Untuk apa? Nanti saja, kalau dia sudah lahir. Lagi pula aku bingung untuk memberi nama apa.” Gadis itu kini terlihat murung, melihat perubahan sikap dari Yoona, lantas baekhyun segera menghibur Yoona. “Ishh.. Nona kau tidak perlu susah payah, aku sudah menemukan nama yang bagus untuknya. Nona, apa kau mau tahu?” Yoona menaikan halisnya bingung.

“Secepat itukah?”

“Ne, bagaimana jika dia laki-laki namakan saja dia atau Manse. Aku melihat nama itu di internet Bagaimana?”

“Manse? “ Tanya Yoona memastikan, “Lalu jika dia wanita?” tanya Yoona lagi.

Baekhyun terlihat berpikir, Haneul terkekeh dengan tingkah putranya yang satu itu.

“Aku tidak tahu, coba saja kau pikirkan. Atau malas untuk berpikir, cari saja di internet.” Jawab baekhyun acuh, Yoona melotot “Yak!” baekhyun tertawa bodoh. “Hehehe…Aku kan hanya bercanda Nuna. Hehehe~”

Pintu kamar rawat itu tiba-tiba saja terbuka, terlihat Kyuhyun dan Tuan Im sedang berjalan masuk. Wajah mereka kini tampak serius dan sedikit tegang, berbeda dengan biasanya. Kini mereka berdiri, Kyuhyun menatap kearahYoung jae, seketika laki-laki itu mengangguk.

Tatapan Young jae seakan-akan menyuruh haneul sang istri untuk beranjak dari duduknya. Lantas istrinya mengerti. Ia segera beranjak dan berdiri.

Yoona dan baekhyun hanya diam, mereka menatap satu sama lain, tatapan Yoona kepada baekhyun seolah-olah ia bertanya ada apa. Tapi dengan ekspresi polosnya dia hanya mengedikan bahunya.

“Kyu-ah, duduklah.” Kyuhyun berjalan mendekat, menarik kursi lalu ia duduki. Laki-laki itu kembali menatap Young jae. Young Jae tersenyum dan mengangguk.

Kini Kyuhyun terlihat serius menatap Yoona, ia meraih tangan Yoona, menggenggamnya dan seketika membuat gadis itu bingung. “Kyu-ah ada apa denganmu?” Tanya Yoona, gadis itu menatap sang ayah –Im Young Jae-

“Appa, ada apa ini?” tanyanya dengan suara pelan. Young jae tak menjawab, ia bungkam.

“Yoona-ya, menikahlah denganku?”

 

 

 

 

 

 

To Be continued..

(Back sound: SHINee Taemin – Steps)

 

Preview Episode 3>>

 

“Cho Kyuhyun di hadapan tuhan apakah kau berjanji akan menjadi suami dari Im Yoona dan akan menemaninya baik dalam keadaan suka dan duka?”

“Ne, aku berjanji. Aku akan menjadi suami yang akan selalu menemainnya dalam keadaan suka dan duka.”

“Im Yoona, di hadapan Tuhan apakah kau berjanji akan menjadi istri dari Cho Kyuhyun dalam keadaan suka mau pun duka?”

“Aku…”

“Nona Im Yoona?”

 

* * *

“Aku akan selalu ada di sampingmu.”

“Kau bodoh!”

“Ya, karena aku mencintaimu. “

“Cukup!”

 

 

* * *

“Bukankah dia—“

 

“IM YOON-AH!!”

 

Brak..

 

Ckitt..!!

 

 

 

***

 

 

“Suster, tolong bersihkan lukanya.”

 

“Dokter Lee! pasien telah mengalami keguguran. Dan terjadi masalah dengan rahimnya, kita harus segera melakukan operasi!”

 

“Argghh..!!”

 

 

 

 

***

 

 

“Oppa, apa ini rumah kekasih Seunghyun oppa?”

 

 

“Oppa lihatlah!”

 

 

 

 

“Hong ahjuma!”

 

“Ah ternyata kau! Astaga kau sangat berbeda,”

 

 

. “Apa? Menantu? Yoona sudah menikah, dengan siapa?”

“Sepertinya kau tidak tahu sama sekali Yuri-ya, “

 

 

 

***

 

 

Silahkan tinggalkan jejak kalian alias RCL oke. J

Oia ini FF juga di post di Yoonwonited. Sebagai YoonWon Version. ^^

Dan satuhal. Hanya ingin mengatakan Minal aidin walfaizin. Mohon maaf lahir batin untuk semua penghuni All about Kyuna.

Buat admin, makasih banyak ya ^^

One thought on “[Freelance] Difficult Love : Missing You Like Crazy

  1. Ahhh seneng bgt bacanya🙂
    Ternyata kyuppa udh jatuh cinta sm yoong eomma. Itu d preview-nya yoona k guguran y? Kasian bgt… Trs kyuna nikah kan? Smga kyuna happy end trs yaaa….
    Authot lnjtnya jan lama2 yaaa…
    Next chap d tunggu trs😀

    Semangat ya author wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s