[Freelance] Difficult Love : “There is still love in tears”

DSWFSF (1)

[Fanfiction] –Difficult Love : ‘There is still love in tears’

Part I

‘KYUNA VERSION’

||cast||

||-Im Yoona, Cho Kyuhyun, Choi Seunghyun (TOP)||

||Byun Baekhyun, Kwon Yuri||

||Genre||

||-Sad, Hurt, Romance-||

||Author||

||Windy fitri||

||Fb : Windy Fitri YoonAddict Ashari||

||Twiteer : @Windy_Imet||

||disclaimer: jalan cerita murni dan asli pemikiran saya (Windi fitri). Jika ada kesamaan dalam cerita itu benar-benar tidak sengaja. Disini saya hanya meminjam beberapa nama artis utuk melengkapi cerita. Dan saya harap readers menyukai karya saya dan menghargainya. Dengan mengirimkan kritik dan saran di bawah ini. author saranin bacanya jangan tergesa-gesa, pahami resapi setiap kata maka kalian akan mengerti.  Untuk Typo mohon di maafkan? J||

            <3<3

** Difficult love**

Sesungguhnya kini aku telah mati.

Seiring dengan kepergian dan dimana kini kau berdiri.

Kau mematahkan sayap jiwaku yang kini telah mati.

Aku kalah dan kau menang.!

 

Aku kalah. telak. Kau menghancurkan segalanya. Segalanya! Segala yang ku punya. Bagiku kini kau bukanlah sosok pria yang ku anggap sebagai pelindungku, AKU MEMBENCIMU! Tapi jujur kukatakan AKU MASIH MENCINTAIMU! Kau dimana?

Tak tahukah kau disini aku terbujur kaku lemah akan tanpamu. Merasakan sakit yang tak kau tahu,sementara kau pergi meninggalkanku, KAU JAHAT!. BAHKAN KAU BEGITU KEJAM BAGIKU! Jika kau datang nanti aku akan membunuhmu! Sial.

Dimana kau? Dimana sekarang kau menetap? Apa kau masih memikirkanku? Memikirkan bagaimana kondisi ku saat ini. Kau egois.

 

 

Kwon Yuri…

Eonni kau tahu? Dia pergi Eonni!. Dia pergi dengan segala kemenangan yang telah ia raih. Bagiku kini dia tak lebih dari seorang Bajingan dan pecundang yang membuatku muak dengan segala tingkah dan keegoisannya padaku. Bahkan ia pergi tanpa memberitahuku, Bajingan!

Dan kau tahu Eonni?. Tapi berjanjilah padaku untuk tidak membertahu siapapun mengenai hal ini. Baiklah aku percaya padamu. Dan aku akan mengatakannya padamu. Aku pergi, pergi dari tempat persinggahanku yang bahkan kini membuatku muak dengan segala cacian yang kini menghantam diriku. Oh tuhan sungguh ini benar benar memuakan.

Kini aku tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu mewah. Ya mungkin ku rasa ini cukup untuk menampungku dan calon anakku nanti. Ya aku membeli rumah ini dengan tabunganku. Ada apa? Kau bingung? Karena aku mengatakan calon anakku?

Eonni. Aku hamil!, Bodoh.bagaimana bisa aku menjadi wanita sebodoh dan setolol itu? Aku kecolongan. Sial!, andai saja dia tidak mabuk malam itu, mungkin semua tidak akan terjadi.

 

malam sialku bermula dari malam itu”

 

Eonni. Mungkin aku pantas mendapatkan semua ini, mendapatkan caci maki bahkan itu dari Eomma dan Appa ku sendiri. Kini aku bukanlah sosok gadis suci yang mereka banggakan dulu, aku kotor! Pria itu bukan hanya merampas kesucianku. Tapi juga pergi membawa separuh jiwa ku. Aku bingung.

Ditambah dengan kondisiku yang kini berbadan dua. Aku hamil! Semua membuatku pusing setengah mati. Aku ingin mati sekarang juga. Sekalipun jiwaku telah mati terlebih dahulu.

  1. Apa kau juga ingin memakiku? Menghujatku seperti apa yang mereka lakukan padaku?. Oya. Selamat atas pernikahanmu satu minggu yang lalu, maaf. Aku tidak hadir di hari Bahagiamu. Aku harap kau tak marah padaku. Dan salam untuk suamimu Yunho.

 

***

 

Sepiring scrambled eggs dan segelas jus yang kubuat menjadi dingin tak tersentuh. Aku hanya menatapnya. Sekali lagi hanya menatapnya tanpa nafsu. Aku melirik perutku yang belum terlihat buncit, ku usap lembut permukaan perutku yang terhalang oleh kain baju yang ku kenakan.

“Kau tadi menginginkannya bukan? Tapi kenapa sekarang kau tak ingin memakannya? Oh anakku sayang, aku harap kau tak membuat Eomma susah. Kau mengerti?” Aku tersenyum.

 

Apa kau mencariku?

Aku disini menunggumu. Sekalipun aku membencimu

Apa yang sedang kau lakukan?

Aku harap kau tak menertawakanku.

Dan jika kau lakukan itu, dengan jiwa dendamku dan nafas kebencianku

Aku akan membunuhmu. Sekalipun kau meminta ampun dan bersujud padaku.

Tapi bagaimana pun itu. Aku tetap mencintaimu.

 

 

 

Ku kunci pintu rumah ku. Dan mulai melangkah pergi dari Tempat persinggahanku. Gerbang ku sibakan hingga membukakan jalan bagiku untuk keluar. Dua orang wanita tua itu seakan berbisik, mereka menatapku dengan tatapan jijik. Tetapi dengan kelampangan hati aku tersenyum kepada Ahjuma-ahjuma itu.

Aku menutup pintu gerbangku. Dan mulai melangkah pergi menjauh. menghilangkan semua beban, yang bergumpal di dalam jiwaku. Aku lelah. lelah dengan semua ini.

 

Choi Seung Hyun..

 

Wahai kau pecundang gila. Dimana kau!. Tak tahu kah engkau aku menghadapinya sendiri. Kau dimana!

Kapan kau akan kembali? Bersujud padaku dan meminta maaf padaku? Oh tidak. Sepertinya aku terlalu berkhayal akan hal itu bukan? Satu hal yang harus kau tahu, karena kejadian itu, aku mengandung anakmu!. Kau bahkan tidak tahu bukan?.

Jika saja kau melihat dan tahu kondisi ku saat itu. Apa kau akan tetap pergi? Pecundang dimana kau!.

Choi seung hyun. Bahkan kini aku muak memanggilmu dengan sebutan oppa. karena apa? Itu terlalu manis untuku. kau ingat?bibirmu selalu mengatakan betapa sangat kau mencintaiku, Betapa bahagianya kau disampingku, dan betapa sempurnanya kau memilikiku.

Kau tak lebih dari seekor binatang jalang yang tega mencabik-cabik mangsanya. Ya, seperti itulah gambaran yang pantas untukmu. Bajingan dimana kau!. Kau membuatku gila dengan meninggalkan aku dengan calon anakmu. Kau gila Choi Seung Hyun. Kau Gila!

Ya kau benar, aku masih mencintaimu, tetapi kau jangan merasa menang. Karena kebencian ku lebih besar ketimbang rasa cintaku padamu, semua akan terkubur bahkan tak akan lagi sisa rasa itu untukmu. Karena aku benar-benar membencimu.

Andai saja kau tidak lari dariku. Mungkin aku tidak akan pernah membencimu, dan asal kau tahu, sekalipun aku membencimu itu tidak akan pernah merusak otakku untuk membunuh anak yang ada di dalam kandunganku. Sekalipun anak ini adalah anakmu. Aku tidak bodoh Choi seung hyun. Dan aku juga bukan seorang psikopat gila yang tega melakukan itu. Kau tenang saja, Aku akan menjaganya, sekalipun cacian dan hinaan akan menamparku. Kau tak perlu merasa sedih. Karena aku tak butuh dengan air mata buayamu.

Dan aku memikirkanmu bukan berarti aku merindukanmu, justru karena aku membencimu. Choi Seung Hyun, kau seorang pecundang besar yang telah singgah di hatiku, sial. Mengapa dulu kau bisa mendapatkan hati dan perhatianku. Apa kau memiliki beribu pelet untuk kau gunakan menarik perhatianku? Tidak masuk akal!

Micheo! Micheo! Mi-“ (Gila! Gila! Gi-)”

Terkutuk kau Choi Seung Hyun. Sumpahku padamu tidak akan pernah putus sekalipun kau bersujud padaku. Tidak akan pernah dan tidak akan pernah! Cam kan itu wahai sang pecundang terhormat Choi Seung Hyun.

 

* * *

 

Aku menyeruput secangkir café late  dan di hadapanku sudah tersedia maple bread. aku menghela nafas. Masih terasa sesak. Lelaki itu benar-benar membuatku tersiksa. Aku mengumpat dalam hati berharap seorang polisi menangkapnya dan memasukannya kedalam sebuah jeruji besi selama-lamanya. Bahkan jika perlu seumur hidupnya dia membusuk di penjara!

 

‘Tuhan bisakah sejenak kau ijinkan aku hidup tenang tanpa beban? Dan menghirup udara ini dengan nyaman ?’

 

Rasa mual mulai menjelajahi ragaku, aku memegang perutku. Aku mencoba untuk menahannya, Seorang pria yang duduk di ujung sana dia memperhatikanku, aku tak peduli dan mencoba untuk tak peduli. Aku meraih tas yang tergeletak disampingku, lalu bangkit dan berjalan menuju sebuah toilet. Ya sebuah toilet.

Aku memuntahkannya di wastaffle, memuntahkan isi perutku yang sungguh benar benar mengoyak isi perutku. Apakah orang hamil akan cenderung seperti ini? Oh tuhan ini benar benar menyiksa. Apa aku harus menunggu Sembilan bulan untuk menunggu semua ini, sehingga nanti aku bisa bebas?.

Aku membasuh mulutku dengan air, lalu ku ambil sehelai tisyu yang terletak di dekat wastaffle. Ku usapkan tisyu itu di permukaan bibirku, aku terdiam. Berkaca pada cermin yang kini ada di hadapanku, aku menghela nafas, kemudian merapikan sedikit penampilanku. Ponselku berdering  Kuraih ponselku dan ternyata 1 panggilan masuk dari Baekhyun, aku menatap ponselku tanpa mengangkatnya. Aku matikan ponselku dan kembali memasukannya kedalam tas.

 

     ‘Maafkan aku adikku…’       

 

Aku kembali duduk di meja ku, ku lihat sekitarku pengunjung Angle in us coffe sudah cukup ramai, beberapa orang datang dengan pasangan dan teman, tidak denganku duduk sendiri tanpa satu orang pun yang menemani. Aku tersenyum memperhatikan beberapa orang yang terlihat bahagia itu menyeruput secangkir coffe dan menikmati hidangan yang begitu enak dengan teman maupun pasangan. Mereka beruntung. Tapi tidak denganku.

“Hy..” seseorang menyapaku. Pria yang memakai kaos putih oblong lalu ia lapisi sebuah jas, berdiri di hadapanku. Menarik.

“Bolehkah aku menemanimu disini?” sama halnya dengan lelaki lain, tidak bisa melihat seorang   perempuan cantik duduk sendiri. Ya,aku memang cantik. Tapi aku bodoh.

Aku hanya tersenyum sinis dan menyeruput café late ku kembali. Dan lelaki itu duduk di hadapanku. “Kau sendirian?” dia kembali bertanya.

Aku menjawabnya dengan angkuh. “Seperti apa yang kau lihat sekarang.” Dia terkekeh.

“Biar Aku duga, kau menganggapku seorang pria penggoda kan?” Rupanya dia pandai membaca pikiranku. Dan dia mendelik kearahku. Sorot matanya seakan mengikuti gerak-gerik ku.

Keangkuhan kembali ku tunjukan di wajahku. “ Menurutmu?”. Untuk kedua kalinya lelaki itu kembali  terkekeh geli.

“Hahaha.. Hei Nonna, aku ini lelaki baik-baik, aku seorang fotografer, dan ku rasa kau cocok menjadi seorang model, bagaimana? Apa kau tertarik untuk bekerja sama denganku?”

Aku menghela nafasku dan meraih tas yang ada di atas meja. Aku mulai berdiri kokoh, dan tetap memandangnya angkuh. “Kau salah orang tuan.” Aku melangkah pergi, tapi kurasa sebuah tangan menahan pergelangan tanganku, aku mendengus sebal dengan tingkah lelaki ini.  Dia menggangguku.

“Hei Nonna, berpikirlah lagi? Ini kesempatan, apa kau tak ingin mencobanya?” dia memaksaku.

 

Bukankah aku sudah mengatatakan TIDAK. Dasar pemaksa!’

Dan dia merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya “ ini kartu namaku, jika kau berubah pikiran kau bisa menghubungiku, Othokhe?” aku mengambilnya.

“ Baiklah, tapi bisakah kau biarkan aku pergi?” masih dengan nada angkuhku. Rasa-rasanya ingin ku lempar lelaki ini sekarang juga. Menyebalkan!

Dia melepaskan tanganku,,”aku harap kau menerima tawaranku Nonna……”  dia tampak berpikir.

“Im Yoona.” Jawabku dengan menyebutkan namaku.

“Ah Ya, Nonna Im Yoona, aku Cho Kyuhyun, senang bisa berkenalan dan bertemu dengan anda, semoga nanti kita bisa berkerja sama.“ dia mengulurkan tangannya, hendak meminta berjabat tangan. Dan aku hanya menatap pergelangan tangannya yang pengapung di udara tanpa sedikitpun untuk menyentuhnya. Lelaki itu terkekeh dan menarik uluran tangannya lalu ia gosokan ke dua tangannya. Aku menatapnya datar. Mendengus sebal dan menatapnya sebagai lelaki aneh.

Aku kembali berbalik dan melangkah pergi meninggalkan lelaki yang memiliki nama Cho Kyuhyun itutanpa peduli. Sepulu langkah berjalan, aku mematung, hingga dalam hitungan detik aku menengok kebelakang.

Ku lemparkan kartu nama yang menurutku tidak berguna itu. “Aku tidak membutuhkannya, karena kau salah untuk mengajak bekerja sama denganku, aku wanita hamil. Jadi tidak bisa untuk menerima tawaranmu Cho Kyuhyun.” Dia menatapku heran.

Ha-hajiman? Yoona-sshi”

 Aku menarik bandle pintu keluar dengan sedikit rasa sebal.

 

Naneun pyeonghwawa wanjeonhan, eseo salgo sip-eo

Amugeosdo, modeun geos-i  noumu bougjabhage

Saeng-gaghaji anheu.

 

***

 

Aku berjalan di tengah dinginya malam, pikiranku kembali melayang akan sosok seorang lelaki bajingan yang dengan teganya telah meninggalkanku. Aku menangis. Kembali aku meneteskan air mata untuk sebuah hal yang membuat hatiku sakit.

Tuhan. Apa salahku?

Apa kau ingin mempermainkanku?

Mempermainkan alur kehidupanku? Baiklah. Kau tahu? Ini menyakitkan bagiku.

Kau mendengarku bukan!

Ini benar-benar menyakitkan! Sekali lagi ini menyakitkan bagiku Tuhan!

Tubuhku mulai bergetar, rasa dingin mulai kurasakan, hembusan angin malam seakan merontokan tubuhku. Dan sialnya aku tidak membawa jaketku. Sial.

Langit mulai memperdengarkan kemarahannya, petir yang seakan-akan hampir menyambar dan menghantam tubuhku, membuatku tak sedikitpun merasa takut. Pikiranku kacau, hatiku suram, semua menjadi bertambah rumit. Aku harus apa?

Bagaimana dengan kehidupanku kelak? Dengan seorang bayi yang ku kandung, haruskah aku melakukannya dengan tanganku sendiri? Dengan tanpa ada kau pecundang! Babo!

Bajingan itu tidak bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat. Brengsek! Kau membuatku bingung dan linglung dengan beribu pertanyaan yang kubuat sendiri.

 

 

 

Tentang sebuah kebencian yang membara…

Tentang sebuah kesakitan yang ku rasa

 

 

            Kurasakan tetesan air mata langit sedikit demi sedikit mulai mengguyurku, aku masih bertahan dalam egoku. Aku tidak lari, bahkan mencari tempat berteduhpun pikiranku keras menolaknya, beberapa orang sibuk dengan pribadinya sendiri, berlari kesana dan kemari seperti sebuah laron yang tengah bermain dimalam hari. Mereka bodoh! bahkan begitu Tolol bagiku. Tentu saja benar, untuk apa mereka berteduh sementara keadaan meperlihatkan mereka sudah basah, bodoh!

Tubuhku telah basah, dingin dan membeku. Aku melipatkan kedua tangan di dadaku, terasa lebih baik walaupun masih saja merasakan dingin. Aku berhenti sejenak, menadahkan kepalaku menatap langit, dan membiarkan tetesan hujan yang begitu deras menyapu permukaan wajahku. Aku menangis, menangisi semua kebodohanku, kesialanku, bahkan kehidupanku. Tak ada lagi yang bisa ku banggakan, hidupku hancur seiring dengan kepingan kehancuranku. Mereka semua memakiku, menghujatku!. Brengsek! Semua ini bukan hanya kesalahan dan kebodohanku. Sampai sekarang lelaki itu belum juga menampakan batang hidungnya. Bajingan kau Choi Seung Hyun, Bajingan!!

Aku lelah, badanku mulai terasa lemas, pandanganku tak lagi terlihat nyata, semua terlihat membingungkan, dan membayang-bayang. Bumi ini seakan goyah. Dan aku pun terjatuh. Pertahananku runtuh, aku terkapar di atas aspal yang dingin dan basah. Dan semua menjadi gelap.

 

 

‘Inilah ikatan hati tanpa sebuah nama

Dan inilah ikatan yang tak akan pernah lepas,

Sekalipun itu hanya sesaat.’

 

 

Aku membuka kedua mataku, terbangun dari tidur panjangku, kulihat sekitarku. Dimana aku?

”Oh tidak, kepalaku sakit.” Aku memegang kepalaku yang terasa begitu sakit, kusibakan selimut yang menutupi tubuhku, aku tertunduk di atas ranjang, memegang kepalaku. Sakit, benar-benar sakit.

“Kau sudah bangun Yoona-sshi.” Suara seorang lelaki memanggilku. Lelaki itu menghampiriku dengan membawa segelas susu putih dan sepiring roti.

“Hei, kau sudah bangun?” dia bertanya padaku. Dan aku mencoba tak mengubrisnya, lelaki ini, lelaki menyebalkan yang mencoba memaksaku untuk menjadi seorang model.

Aku melihat diriku sendiri, pakaian yang ku kenakan berbeda dengan yang semalam ku kenakan, baju ini sangat kebesaran, siapa yang menggantikan bajuku? Brengsek! apa dia memperkosaku? bajingan!.

aku menatapnya tajam, pandangan membunuhku tertuju padanya. “Apa yang kau lakukan padaku bodoh!” Emosi mulai merajaiku. dia terlihat begitu bingung.

Na- Naega,- ? (A-aku,-?)”

“Jangan berpura-pura bodoh seperti itu, apa yang kau lakukan? Dan bagaimana bisa aku berada disini, ini dimana! Kau memperkosaku bukan!”

Mwo?  apa kau sudah gila Nona Im? Sudah ku katakan padamu. Aku ini pria baik-baik, bukan sosok pria seperti apa yang kau pikirkan terhadapku. Dan mengenai pakaianmu, aku tidak mungkin berbuat segila itu padamu. Semalam kau pingsan di jalan, dan aku menemukanmu, aku mencoba untuk mencari kartu identitasmu, dan tidak ada sama sekali, dan aku menemukan ponsel di tas mu, aku pikir aku bisa menghubungi anggota keluargamu. Tapi ternyata sia-sia ponselmu lowbat. aku tidak mungkin membiarkanmu tergelak di aspal seperti itu tanpa identitas yang jelas, jadi aku putuskan untuk membawamu ke apatermenku.” lelaki itu menjelaskannya secara gamblang.

“Lalu, siapa yang menggantikan pakaianku, dan kenapa aku mengenakan pakaianmu?”

“Tadi malam pakaianmu basah, dan aku meminta seorang pegawai perempuan untuk menggantikan pakaianmu Nona Im, karena kau tidak memiliki pakaian wanita, jadi maaf terpaksa kau harus memakai kemejaku, tapi kau tenang saja aku tidak memiliki penyakit kulit Arrasheo,-?”

kau pikir dengan mudahnya aku akan percaya pada seorang pria?”

“Ishh, Yak! Jika kau tak percaya padaku, kau bisa tanyakan langsung kepada pegawai wanita itu, aku bisa mengantarmu.”

Aku terdiam. Ternyata aku salah menilai sosok pribadinya, semua karena Choi Seung Hyun. Ya, karena lelaki itu. Dia yang membuat kepercayaanku luntur pada semua pria.

Gomawo, Siwon-ah.” Untuk  pertama kalinya aku tersenyum kepadanya.

Cheonmanayo,- Yoona-sshi, ini, minumlah? “ dia memberiku segelas susu putih, “Mianhaeyo, karena telah berprangsangka buruk terhadapmu.”

gwenchana Yoona­­-sshi.”  kembali ku mengukir senyum. Aku mencoba untuk meminum cairan kental itu, susu krim yang membuatku sedikit mual. “Gwenchanayo?” kyuhyun menatap hawatir kepadaku.

Aku memegang perutku, kembali aku merasak rasa mual yang begitu menjengkelkan. Aku segera bangkit dan berlari menuju wastaffle.

‘Oekkk, Oekkk.’ Rasa mula ini benar benar menyiksaku. Aku memegang perutku dengan nafas yang tersengal-sengal.

“Ini minumlah?” kyuhyun dia memberikanku segelas air putih hangat. Aku meraihnya dan dengan dengan cepat ku teguk dengan habis. kyuhyun menggosokan tangannya ke punggungku.

Aku menatapnya heran. “ Apa yang sedang kau lakukan?” Dia melepaskan tangannya dan menatapku dengan tampang bodohnya. “Hanya ingin membantumu.”

Aku berjalan keluar, ku ambil posisi duduk di tepi ranjang. Ku lihat pria itu menghampiriku dengan membawa bajuku. “Ini pakaianmu. Oya, apa suamimu tidak mencarimu?”

suami?’ aku menatapnya diam. Dia terlihat begitu heran  Seketika aku tersenyum padat. Menerangkan misteri kepahitan yang ku simpan pada lipatan kebencian.  Tentang kebencian yang mendalam, tentang sebuah ketidakpastian yang panjang.

“Kenapa diam?” dia menghentikan pencarianku dalam sebuah imajinasi, “aku belum menikah, dan dia pergi.”

“Lalu apa yang kau maksud dengan kehamilanmu?” sepertinya ia bingung mendengar pernyataan ku.

{Hamil tanpa sosok suami…}

“Nothing, lupakanlah.”

Ha-Hajiman-,” segera aku beranjak cepat menuju Toilet, ku tutup pintu dengan sedikit gebrakan.

 

***

Detik ini aku masih terlalu sibuk menulis apapun tentang dirimu. Menyebut-nyebut namamu dengan kebencianku. Merangkai harap atas namamu. Berharap kau kembali dan memohon maaf padaku.

Aku terlalu sakit dalam luka yang kau torehkan padaku. Karena kau lah aku menderita. Semua terasa mumet. Tentang kebencian dan cinta. Antara dendam dan pinta. Dan Antara Luka dan harap. Luka yang timbul tenggelam, kini telah membias di dasar jiwa.

Ku pikir, akulah satu-satunya yang menjelma wanita terseok-seok. Terkapar lemah dan hina!

Jiwaku hampir mati merindumu. Sesak nafasku meratap. Tuhan aku ingin bajingan itu mati.

Inikah suatu cinta yang pernah kau katakan dulu? Inikah kebahagiaan yang pernah engkau janjikan dulu? Inikah hidup indah yang pernah kau janjikan padaku dulu? Dan inikah sebuah surga kehidupan yang pernah kau iming-iming dulu? Tuhan, Tertipukah aku?

Mana Surga dunia yang kau ceritakan dulu?

Kurasa Bukan surga yang kau katakan, tapi neraka kepedihan..

 

Untuk sebuah luka yang bersarang dalam jiwa, langit dan bumi dengarkanlah rintihan hatiku. Aku kehilangan. Aku di tinggalkan. Apalah kini ada. Dimana kini aku berada.

Teriaklah tawa. Karena, aku telah terlajur luka oleh sebuah kehinaan dalam jiwa. Ikatlah aku. Dan tertawalah sekencang-sekencangnya. Remukanlah aku dan musnahkan aku dalam nestapa.

Oh Tuhan, ribuan tetesan air mata aku biarkan terjatuh. Apa hanya aku umatmu yang tolol? Adakah manusia yang lebih tolol dari pada aku? Kurasa akulah satu-satunya. Ya, hanya aku.

Malam ini aku tak lagi dapat berkata-kata. Tergantikan oleh tatap mata yang sahaja. Tangis yang tak biasa mebeludak isi hati dan perasaan. Goresan luka semakin terasa dalam dan pedih. Aku menyesal. Menyesal akan sebuah takdir yang telah memperkenalkanmu padaku. Aku benci. Benci dengan semua alur kehidupanku. Aku muak. Muak dengan segala kebodohan ku.

Andai saja aku tak mengenalmu. Mungkin aku akan bahagia. Ya, bahagia dengan seorang lelaki yang hendak Appa dan Eomma jodohkan padaku. Tapi dengan  bodohnya aku malah memilih lelaki pecundang sepertimu. Padahal aku belum melihat tampang lelaki itu. Appa selalu bilang bahwa lelaki itu lelaki baik-baik. Tapi Setiap kali Appa ingin aku  melihat foto lelaki itu, aku selalu menolaknya. Dengan alasan aku ingin menentukan hidupku sendiri. Karena apa? Karena hanya kau yang aku mau saat itu. Aku mencintaimu bodoh. Tapi kau mempermainkanku. Pencundang. Kau menang!

 

 

Dalam doa aku selalu mengutukmu. Dalam diam aku menghujatmu. Dalam tangis aku membencimu. Kau tahu? Aku menjelma menjadi wanita malang dalam kesedihan. Dan kau selamanya akan menjadi seorang pecundang yang telah menang. Apa kau dengar? Apa kau rasa? Kau bahkan tak peduli. Pecundang Besar!

 

 

Cintaku telah berganti menjadi benci. Sumpahku senantiasa menyertaimu, Seung Hyun. Kau pikir, setelah kau menghancurkanku seperti ini kau akan selamanya menjadi pemenang? Tidak! Karena aku akan bertahan. Bertahan dalam sebuah kesakitan. ada atau tanpa kau. Aku yakin aku bisa. Walau sulit aku yakin aku bisa.

{Adalah bodoh memberikan hidup pada sebuah hati yang rapuh}   

 

***

 

Sore itu aku dan teman-temanku sedang berkupul di sebuah kafe dipinggir kota,  kami empat orang perawan sedang bercanda ria dengan obrolan-obrolan yang terkadang menggelitik hingga menimbulkan suara tawa yang benar-benar membuat kami lepas dari berbagai masalah.

Lalu, seorang pemuda menghampiri kami. Tampan, bahkan sangat tampan. Aku tersipu malu ketika dirinya mengajakku untuk berkenalan. ke tiga temanku terlihat menggodaku. Sementara aku, ya aku hanya tersenyum dan meraih tangannya.

Disitulah untuk pertama kalinya aku bertemu dengan lelaki itu –Choi Seung Hyun- Lelaki yang membuatku melupakan akan sosok Lee donghae, lelaki yang sebelumnya aku cintai.

Lelaki itu dengan sekejap merampas jiwaku. Tidak tahu bagaimana prosesnya ia telah berhasil mencuri perhatianku.

Saat ia duduk disampingku. Aku tidak mendengar lagi, nada nada lionel richie  karena aku begitu terlalu khidmat mendengarkan alunan dari detak jantungku sendiri. Laki-laki itu begitu hebat, dia telah mengalahkanku untuk pertama kalinya. Dan kini aku kalah untuk kesekian kalinya. Sungguh aku benar-benar terlalu lemah dan tolol dimatanya.

Sidikit untuk kembali bercerita lebih dalam. Sewaktu aku dan dia menjadi pasangan kekasih di selalu membelikanku bunga mawar putih palsu. Dia bilang bunga palsu itu tidak akan pernah layu dan akan selalu mekar, seperti cintanya terhadapku. Setiap kami bertemu dia selalu memberikanku satu tangkai. Hingga bunga itu menjadi berkumpul dalam satu ikatan. Tapi nyatanya? Semua bohong. Cinta? Bullshit!

 

 

Satu hentakan kau merenggut perhatianku.

Dan satu depakan kau menghancurkanku

 

Sudahlah, terlalu sakit jika harus mengingatnya.

Sepasang kupu-kupu berkejaran di serumpunan bunga yang kini bersemi. Sesaat aku tersenyum. Sepasanng kupu-kupu itu seolah-olah tak menghiraukan kehadiranku di dekat mereka. Mereka benar-benar terlalu asik bercanda dalam cinta. Sepasang mahluk tuhan yang kini sedang menikmati cinta. Ya, cinta.

“Nunna aku benar-benar merindukanmu?” Sebuah suara yang begitu ku kenal mengagetkanku, aku menoleh.

“Baekhyun.”

Dia menghampiriku, dan duduk disampingku. Di sebuah taman yang tak terlalu ramai dia menemukanku.

“Kami semua merindukanmu. Ayo ikutlah bersamaku. Kita pulang.” Dia meraih tanganku.

Aku tak bergeming, mataku mulai terasa basah. Dia menatapku dengan tatapan rindu. Aku menatapnya, dan berteriak dalam hatiku agar air mataku tidak tumpah di hadapan adikku.tapi ternyata pertahananku runtuh. Air mataku menetes.  Aku mencoba untuk berbicara, tapi mengapa bibir ini sulit untuk di gerakan.

“A-aku takut.” Aku menunduk. Membiarkan air mataku terjatuh ke dasar bumi. Baekhyun meraih pipiku, aku menatapnya dan dia menatapku.

“Nunna tidak perlu takut, aku ini adikmu, dan aku akan selalu berada di pihaku.” Dia menyeka air mataku.

“Nunna tidak bisa. Baekhyunie, Mianhae.” Aku bangkit. Berlari menjauh darinya. Kudengar dia berusaha memanggil-manggil namaku. Tapi aku terlalu egois.

Aku berlari sekuat tenaga. Air mataku kini mengalir begitu deras. Beberapa kali aku menabrak orang, diantara mereka ada yang mengataiku karena tidak berhati-hati.

Aku berlari menorobos jalan raya, aku tak peduli banyaknya mobil kencang melintasi jalan itu.

Teriakan seseorang menghentikan langkahku. Ku lihat sebuah bus di ujung sana melaju. Aku menutup kedua mataku. Pikiranku kacau. Mungkin ada baiknya jika aku mati. Bis situ semakin dekat dan aku dapat merasakanya, ku dengar beberapa orang meneriakiku. Bis itu menekan klaksonnya untuk kesekian kali, tetapi pikiranku menariku untuk tetap berdiri, hingga kurasakan seseorang menarik tanganku dan membawaku dalam dekapannya. Cukup lama. Dan itu membuatku nyaman.

Gwenchana?” dia menarik daguku.

“Kau?”

 

***

“Sedang memikirkan apa?” kyuhyun mengaggetkanku.

“Tidak, aku tidak memikirkan apapun.”

“Ini untukmu.” Dia memberikanku Ice Cream strobery.

“Kau pikir aku ini anak kecil kyu,” Cetusku. Dia duduk disampingku.

“Memangnya kenapa? Hey, kau tahu. Bukankah banyak orang mengatakan dengan memakan Ice Cream perasaan kita akan menjadi lebih baik. Dan kurasa itu benar.” dia menjilat Ice creamnya. Aku terkekeh. “ Hey, apa yang kau tertawakan Nona?”

Aku mengangkat tanganku membersihkan sisa Ice cream di sudut bibirnya. “Oh, ternyata aku memakannya blepotan. Terimakasih” dia terkekeh. Dan kembali menyodorkan Ice cream strobery itu. Kini dengan lampang aku menerimanya.

“Makanlah dan nikmatilah. Ice cream ini sangat enak.” Aku memperhatikan Ice cream di tanganku. Entah karena apa aku mulai menjilatnya. Aku tersenyum ketika merasakan sensasi manis dan dingin menjadi satu di mulutku.

“Bagaimana? Perasaanmu sudah lebih baik kan?” aku tersenyum dan mengangguk mengiyakan.

Entah karena apa aku cukup tersanjung dengan apa yang kyuhyun lakukan terhadapku. Hanya karena Ice Cream, dia berhasil membuatku tersenyum dan sedikit bahagia.

Gomawo.” Aku menatapnya dan dia menatapku. Pandangan kami bertemu, seketika senyumnya merekah menatapku.

 

 

Kami berjalan di sepanjang pinggir jalan kota seoul. Lelaki itu sesekali melirikku dengan senyumanya.  “Kau ini kenapa?” dia terkekeh.

“Tidak, hanya saja hari ini aku sangat senang.”

“kenapa?”

“Hmmm..” dia memutar bola matanya dan melipat kedua tangan di dadanya.

Aku menghentikan langkahku. Di sini dapat kulihat baekhyun tengah berdiri di depan pagar rumahku. ‘bagaimana dia tahu alamatku? Pasti Yuri Eonni yang memberitahunya. Ah, sial.

 

“Ada apa?” aku menarik tangan kyuhyun. Lelaki itu sedikit protes.

“Hey, apa yang kau lakukan? Bisakah tidak menarikku seperti ini?”  aku tak mengubrisnya. Dan aku tetap menariknya, hingga kini aku berada di hadapan baekhyun.

“Nunna. “

“dari mana kau mendapatkan alamat nunna?”

“dari Yuri Nunna, Nunna? Appa dan Eomma memintaku untuk membawamu pulang. Ayo kita pulang.” Baekhyun hendak menarik tanganku.

“Bukankah mereka yang telah mengusirku? Tidak, aku tidak akan pulang. “

“Tapi Nunna?”

“sudahlah, aku tidak ingin memberikan beban untuk kalian.”

“kau bukan beban bagi kami. Nunna, apa kau masih menganggapku sebagai adikmu? Kembalilah Nunna kembalilah.”

Aku bingung, disatu sisi aku ingin kembali. Tapi di satu sisi pikiranku menolak. Air mataku kembali menetes.

“ Maaf, tapi aku tidak akan pulang.”

Aku berlari masuk kedalam rumah, kudengar baekhyun memanggil-manggil namaku. Dan kurasa dia mengejarku. Ku kunci pintu rumahku dari dalam. Air mataku tumpah dan semakin deras. Sakit sangat sakit. Pertahanan ku runtuh aku lemah. Lututku terasa lemas hingga aku tidak bisa lagi menompang tubuhku. Tubuhku merosot seketika.aku terkepal, mataku memejam meski lelehan air mata menjadi semakin deras, itu tidak akan bisa menghapus rasa sakit di hatiku.

Di luar sana, dapat ku dengar baekhyun mengedor pintu rumahku. Dan aku juga mendengar suara kyuhyun dan baekhyun yang memanggil-manggilku dari luar.

“Yoona-sshi, buka pintunya.”

“Ya, Nunna kumohon buka pintunya.”

Semua membuatku mumet. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bertahan dalam kesendirian atau aku kembali dan siap menerima caci maki. Semua membuatku gila. karenanya masalah ini menimpaku. Karenanya aku menderita. Bajingan! Aku benci semua ini. aku benci!

 

Adakah kau dengar?

                                                   Adakah kau rasa?

 

Terbaring di atas rerumputan. Menikmati malam dibawah terang sinar rembulan. Bintang dan bulan seakan menyapaku. Mendengar gemercik air dari kolam ikan. Angin malam seakan berbisik. Membuatku merinding ketika desiran angin menyentuh kulitku.

Dingin yang dihadirkan malam. sunyi yang dihadirkan pekat. Melesatkan ilusi yang sarat.

Tatapanku nanar menatap langit. Ku pejamkan kedua mata. Telingaku mendengar Gemerisik angin yang menggesekan daun-daun, semerbak wangi bunga dan semak semak yang mengitariku. Seolah-olah menemani sepiku.

Semakin gelap. Semakin sunyi. Dan semakin dingin. Semua menyatu dalam satu kesatuan malam. aku menarik nafasku dan menghempaskannya. Setidaknya  perasaanku menjadi lebih baik.

“Kau mau Ice Cream?”

Aku membuka kedua mataku. Aku menoleh dan mendapati lelaki itu kini tengah berbaring di sampingku.

“Kau?”

“Ini  untukmu.” Dia Memberikanku sebuah Ice Cream.

“Bagaiamana bisa kau masuk?”

“dengan memanjat tembok rumahmu dan menghampirimu ke taman belakang rumahmu. Simple bukan?” Aku menghela nafas.

“Baiklah terserahmu saja, aku terlalu malas untuk bertanya lebih jauh.” Aku membenarkan posisiku. Ku tarik kedua kaki dan tangan kiriku mendekapnya.  Ku ambil Ice Cream dan mulai untuk menikmatinya.

Ku tatap langit dengan diam. “Setiap manusia pasti memiliki masalah yang sulit, tapi percayalah. Tuhan mengadakan masalah dan dia juga mengadakan jalan keluarnya.”

“benarkah? Apa kau juga memiliki masalah? Kurasa tidak, kau terlalu bahagia. Dan kurasa begitu.”

Dia menatapku. “Kau ini tidak tahu apa-apa.” Aku menatapnya bingung.

“Jika kau berfikir juga hidupku bebas tanpa ada masalah kau salah. Aku memiliki seorang adik, aku sangat menyayangi adikku. Dia masih duduk di bangku sekolah, adikku seorang lelaki berumur 17 tahun dia sosok yang sangat lucu, ramah, aktif, tapi kurasa dia menyebalkan. sekarang dia terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Penyakit tumor otak yang menyebabkannya seperti itu. Bisa kau bayangkan bukan? Tumor otak. Ya, itu bisa membuat seseorang kehilangan nyawanya.  “ aku tertegun mendengar ceritanya.

“Dokter mengatakan pada kami, bahwa tumor itu sudah semakin ganas, Bahkan dokter memprediksi bahwa hidupnya hanya sekitar 1 sampai 2 bulan lagi. aku terpukul mendengar apa yang dokter itu katakana pada kami. Ibu jatuh sakit setelah mendengar kabar itu. Dan kini ia di rawat dirumah.”

“Tapi kenapa kau seperti tidak memiliki masalah. Kau terlihat biasa saja. Kau bahkan masih bisa tersenyum dan mencoba menghiburku.”

“karena inilah aku. Aku rapuh, tapi aku ingin menunjukan pada dunia kalau aku baik-baik saja.”

“kau hebat.” aku tersenyum menatapnya, ku sandarkan kepalaku di bahunya dan kembali ku menatap langit yang berhias bintang dan bulan.

“Aku yakin kau bisa melewati semuanya, Yoona-sshi.”

 

 

 

 

Kau mendengarku.

Kau memberikanku kekuatan. Terimakasih tuhan.

 

 

To be continue

 

Sebelumnnya terima kasih untuk admin all about kyuna yang udh sempet-sempetin post ff ini.

Next chapter di protek, karena ada sedikit ncnya, so buat kalian yang mau lanjut baca. Komen dulu dan beri kritik serta sarannya, terimakasih. J

Oia ff ini pernah di post di Yoonwonited kingdom. Don’t COPAS !!!  and SIDERS.

Link Difficult Love Yoonwon version >  http://yoonwonitedkingdomstory.wordpress.com/2014/06/29/ff-difficult-love-there-is-still-love-in-tears/#more-4188

 

 

20 thoughts on “[Freelance] Difficult Love : “There is still love in tears”

  1. Kenapa baru nemu ya ff ini… Biarpun telat tapi seneng bisa baca ff ini. Kyu jadi penyelamat yoona ditengah patah hati nya dia. Mudah2an nanti KyuNa jadi saling jatuh cinta.. Next part nya di tunggu..

  2. hy, aku reader baru, seneng dech vaca ff kyuna, ceritanya bagus dan sempat berpikir klo yg jahat itu kyu oppa tp ternyata bukan, monolognya terlalu banyak,
    lanjut

  3. Huuhhh akhirnya allaboutkyuna memposting FF bru. Semoga ff ini bisa memuaskan para readers yg menunggu lama klnjtn dr FF” di allaboutkyuna😦
    Semoga FF KyuNa yang ini Happy Ending🙂 yaa… Aku lg bosen baca FF Kyuna yg sad ending😦
    Crtanya bgus bgt, kirain Kyuhyun yg jahat, tp ternyata choi seung hyung yg jahat.

    Next Chapter-nya ditunggu bgt lho! klo bsa udh ada KyuNa moment wks
    KYUNA JJANG…😀
    AUTHOR FIGHTING

  4. Akhirnya ada new KyuNa fanfic… Thank u ya author sudah bikin ff ini. Ceritanya bagus.. Kirain ini oneshoot tapi ternyata chapter, baguslah..hehehehe.. Please segera di update next part nya ya.. Thank u

  5. hy aku readers baru🙂, salam kenal🙂
    masih agak bingung sama jalan ceritanya😦.tapi gpp udah cukup bagus ko🙂, semoga aja di part selanjutnya bisa lebih bagus dan gak bikin aku bingung lagi😀

  6. lanjuttt,.😀
    dtggu next part ny,.

    moga kyu bs kluarin n gantiin ksedihan yoona dg kbhagiaan,.😀

    oy saya reader baru, salam kenal chingu,.

  7. pnasaran m klanjutan ny,. mgkin kah kyu cwo yg pngen d jodohin m yoona,.

    moga kyu bs bkin yoona cria lagi n kluar dr ksedihan ny,.

  8. ? ampun kasian banget yoona ,, dtinggalin sama TOP ,, tp ad kyu yg ngehibur dia ,, :’) tp ak curiga deh jgan2 kyu sama TOP itu adik kaka’ .. Dan yg dmksud kyu dgn adiknya yg lg sakit itu TOP .. itu sih mnurut ak ? thor ;p dtunggu part 2-nya ,,🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s