(Un) Believe | 2nd – Beginning Problem

Tittle : (Un) Believe | 2nd Chapter – Beginning Problem

Author : Riri

Main Cast :

  • Im Yoona
  • Cho Kyuhyun
  • Wu Yi Fan a.k.a Kris

Support Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Kwon Yuri
  • Jessica Jung
  • And other

Genre : Romance, Friendship, Family

Rating : PG-13

Length : Chapter

Disclaimer : This story is my own mind. Cast belong’s god. Plagiator Not allowed !!

(Un) Believe

Yoona merapikan dasinya yang sudah terpasang, kemudian merapikan bagian lain seragamnya. Ketika ia akan menuruni tangga, ia melihat pintu menuju balkon depan terbuka. Kemudian Yoona mengurungkan niatnya untuk menuruni tangga, samar ia mendengar suara isakan kecil. Ia mendapati ibunya tengah duduk sembari menunduk dengan bahu yang bergetar.

Eomma,” panggil Yoona pelan.

Ibunya buru-buru menghapus air matanya dan mendongak menatap Yoona, “Ada apa chagi?”

“Harusnya aku yang bertanya, ada apa eomma?” Yoona balik bertanya.

Sang ibu bungkam, tak mengucapkan sepatah katapun. Ibu dan anak itu saling menatap, berusaha berkomunikasi lewat tatapan mereka. Sang ibu sudah membuka mulutnya, bersiap untuk mengucapkan sesuatu tetapi kemudian suara klakson mobil membuatnya kembali bungkam. Suara klakson mobil itu kembali berbunyi.

Eomma berangkat dulu, ada pertemuan penting dengan salah satu hotel yang akan bekerja sama dengan restoran kita. Kau juga harus berangkat sekolah.”

“Tapi…”

Eomma pergi dulu, belajar yang rajin,” sang ibu mengecup kening Yoona lembut.

“Baiklah.”

Kemudian sang ibu pergi, meninggalkan Yoona yang masih memiliki banyak pertanyaan tentang penyebab ibunya menangis. Yoona hanya diam dan kemudian mendesah kecil, ayahnya membunyikan klakson pada saat yang tidak tepat. Kemudian ia pun meninggalkan balkon dengan semua pertanyaan yang belum terjawab dalam pikirannya.

***

Yoona memasuki kelas yang belum terlalu ramai itu. Ia berjalan menuju kursinya di pojok dekat jendela, kursi di sebelahnya juga masih kosong pertanda Yuri belum datang. Kemudian Yoona terlarut lagi dalam pikirannya, bayangan ibunya tadi pagi masih menggelayuti pikirannya. Ia memangku dagunya, tak sadar bahwa Baekhyun dan Yuri sudah ada di belakangnya.

“Hei,” Yuri dan Baekhyun mengejutkan Yoona dengan menepuk bahunya dan berteriak tepat di telinganya.

Yoona tersentak kaget dan membalik badannya, “Kalian! Ya Tuhan, jantungku hampir copot. Telingaku juga, bagaimana kalau aku jadi tuli?”

“Makanya pagi-pagi seperti ini jangan melamun,” Baekhyun duduk di kursi yang berada di depan Yoona.

“Itu tidak baik,” Yuri pun duduk di samping Yoona.

Yoona memutar bola matanya, “Tapi cara kalian itu salah, kalau ternyata aku punya penyakit jantung dan meninggal bagaimana?”

“Kau terlalu berlebihan,” Yuri mengangguk membenarkan ucapan Baekhyun.

“Kau kenapa?” Tanya Yuri.

“Tidak apa-apa,” Yoona mengedikkan bahunya tak lama kemudian seonsaengnim pun memasuki kelas mereka.

***

“Yoong, kau kenapa sih?” Tanya Yuri dengan volume suara yang sangat kecil entah untuk keberapa kalinya karena lagi-lagi Yoona melamun.

Yoona hanya melirik Yuri sekilas, “Tidak.”

“Ayolah ceritakan padaku,” bisik Yuri.

“Nanti saja.”

“Kumohon,” bujuk Yuri.

Yoona mendelik kesal,” Sudah kubilang nanti.”

Yuri menarik-narik lengan baju Yoona, “Ayolah Yoong.”

“Kwon Yuri, Im YoonA sedang apa kalian? Keluar!” Pekik Goo seonsaengnim, sang guru Biologi yang terkenal galak.

Yuri dan Yoona tersentak kaget, kemudian saling berpandangan. Yoona melemparkan tatapan membunuh pada Yuri, sementara Yuri hanya meringis kecil. Akhirnya mereka berdua keluar dari kelas dan berjalan pasrah. Mereka berdua duduk di lorong depan kelas yang menghadap ke lapangan basket.

“Kau sih,” gerutu Yoona.

“Tapi setidaknya kita mendapat keuntungan tidak belajar Biologi yang membosankan itu, jadi kita tak akan mati kebosanan.”

“Terserahmu.”

“Jangan marah Yoong,” Yuri menarik-narik lengan Yoona.

Ne aku tidak marah,” Yoona menyelonjorkan kakinya.

Ah ya, mana buku harianmu? Aku ingin membacanya, terakhir kali aku membaca buku harianmu itu dua bulan yang lalu.”

“Ada dalam tas milikku,” Yoona menjawab malas, “Kau bisa mengambilnya nanti.”

***

Bel pelajaran kedua berbunyi, sedangkan pelajaran Biologi itu tiga jam pelajaran. Yoona dan Yuri sekarang asyik mengobrol, mereka membicarakan banyak hal. Hingga akhirnya mereka menemukan lagi topik pembicaraan, murid baru. Karena ada seorang murid laki-laki dengan seragam yang berbeda dan kepala sekolah yang memasuki kelas mereka. Yoona merasa mengenal laki-laki tersebut dan Yuri pun terlihat memperhatikan murid baru tersebut. Yuri juga merasa mengenal murid baru tersebut.

Yoona dan Yuri pun cepat-cepat berdiri dan mengintip dari jendela.

Annyeonghaseyo,” laki-laki tersebut membungkuk untuk memulai perkenalan di depan kelas.

Choneun Cho Kyuhyun Imnida,” Yoona membulatkan matanya, ia tidak salah dengar kan?

“Yoong, dia teman kencanku yang aku ceritakan,” Yuri melirik Yoona dengan wajah yang berseri-seri, “Dia tampan kan?”

Yoona hanya diam, apa ia tidak salah dengar, dan tidak salah mengenali orang? Itu benar Cho Kyuhyun yang dulu ia temui? Yoona memicingkan matanya, berusaha meyakinkan dirinya. Tapi ia merasa tidak salah mengenali, mata, dan telinganya masih berfungsi dengan sempurna. Perkenalan berakhir –dan itu tidak disadari oleh Yoona-, kemudian Kyuhyun duduk di sebelah Baekhyun.

“Bagaimana? Dia tampan kan?”

Yoona hanya mengedikkan bahunya kemudian kembali duduk di lantai. Yuri mengikuti Yoona, duduk kembali di sebelah Yoona. Kemudian Yuri kembali berbicara panjang lebar tentang Kyuhyun. Yoona sama sekali tidak mendengarkan Yuri, pikirannya melayang kemana-mana.

***

Saat istirahat Yoona dan Baekhyun duduk berhadapan, mereka berdua sama-sama tidak selera untuk makan siang. Sesekali Yoona melirik Yuri yang duduk bersama Kyuhyun, sejak tadi Yuri selalu menempeli Kyuhyun. Seolah mendapat harta karun dan tak ingin melepaskan harta karunnya, apalagi kalau bukan karena teman kencannya yang sekarang satu kelas dengannya. Yoona dan Baekhyun telah membujuknya beberapa kali, tapi tetap tidak berhasil.

Sejak pelajaran Biologi berakhir dan kemudian dilanjutkan oleh pelajaran Sejarah, Yuri terus memperhatikan Kyuhyun yang duduk di depannya. Biasanya Yuri akan mengantuk dan tak jarang gadis itu akan tidur pada pelajaran Sejarah. Jika pelajaran Sejarah, jangan takut ketahuan guru sedang tidur atau mengobrol, karena sang guru akan asyik menerangkan di depan kelas tanpa memperhatikan muridnya.

Meski Yuri sudah dibujuk beberapa kali oleh Baekhyun dan Yoona tadi, Yuri tetap bersikeras akan makan siang dengan Kyuhyun. Bahkan sekarang dua sahabatnya dilupakan.

“Anak itu benar-benar,” Baekhyun membuka suara setelah ia melirik ke arah Yuri entah untuk keberapa kalinya.

“Sudahlah, biarkan dulu. Ia baru saja menemukan mainan barunya,” Yoona berkata dengan acuhnya.

“Tapi dia tidak pernah mengacuhkan kita sebelumnya, setidaknya tidak sampai separah ini.”

“Yeah.”

Yoona juga masih ragu apakah itu Kyuhyun yang ia kenal. Pasalnya laki-laki itu belum menyapanya sama sekali, ia jadi semakin ragu. Ia juga masih ragu-ragu untuk menyapa duluan, kalau misalnya itu bukan Kyuhyun yang ia kenal bagaimana? Mau ditaruh dimana mukanya karena malu.

“Aku malas makan,” Baekhyun akhirnya meletakkan sendok yang sedari tadi ia mainkan.

“Jangan makan kalau begitu,” Yoona ikut-ikutan meletakkan sendok yang sedari tadi ia mainkan juga.

“Kembali ke kelas saja,” Baekhyun berdiri dan merapikan bajunya sedikit, “Ayo.”

Yoona ikut berdiri dan mengekor Baekhyun menuju kelas. Sebelum itu ia sempat melirik kembali meja Yuri dan Kyuhyun, bukan untuk melihat Yuri tapi untuk melihat Kyuhyun.

“Menurutmu sampai kapan Yuri seperti ini?” Tanya Baekhyun.

Molla,” Yoona mengedikkan bahunya, “Mungkin sampai ia mendapatkan Kyuhyun.”

***

Keesokan harinya Yuri telah ada di kelas dan ia sedang berbicara dengan Kyuhyun. Yoona hanya mendesah kecil, kenapa juga Kyuhyun harus duduk di depan Yuri? Ia menyimpan tasnya di atas meja dan duduk di sebelah Yuri, bahkan Yuri tidak menyadari bahwa ia sudah datang. Tak lama Baekhyun pun datang dan duduk di sebelah Kyuhyun lalu menyimpan tasnya di atas meja.

Baekhyun kembali keluar dari kelas setelah ia menyimpan tasnya dan menyempatkan duduk sebentar di kursinya. Yoona hanya diam, tak ada yang bisa ia ajak bicara. Ia hanya memandang keluar jendela, memandang lorong dan lapangan basket yang ramai.

“Yoona,” Yuri mengakhiri percakapannya dan menyadari Yoona telah ada di sampingnya, “Sudah lama kau datang?”

“Cukup lama untuk membuatku mati kebosanan karena tak ada yang bisa diajak berbicara dan kau juga mengacuhkanku,” jawab Yoona malas.

“Yoong, mianhae, jangan marah padaku.”

“Aku tidak marah, hanya kesal.”

“Itu sama saja.”

“Tentu berbeda, jika aku marah aku sudah menghancurkan isi kelas ini. Jika aku kesal mungkin aku hanya akan membunuhmu,” Yoona berkata asal.

“Ya!” Yuri mendorong pelan bahu Yoona. “Yoong, mana buku harianmu? Kemarin aku tak sempat mengambilnya.”

Yoona merogoh tasnya dan memberikan buku hariannya pada Yuri, “Ini.”

“Aku pinjam ini,” Yuri memasukkan buku harian Yoona ke dalam tasnya.

Hmm,” Yoona bergumam malas untuk menanggapi perkataan Yuri.

Baekhyun kembali memasuki kelas dan duduk di kursinya, “Mana Kyuhyun?”

“Pergi ke kamar mandi sebentar,” jawab Yuri sementara Baekhyun hanya mengangguk mengerti.

***

Yoona mengedarkan pandangannya, ia mencari keberadaan Yuri dan Baekhyun. Tadi ia harus menemui guru Fisika karena ia belum melaksanakan susulan ulangan harian, saat itu ia izin tidak masuk sekolah. Tapi setelah dari ruang guru, Yuri, dan Baekhyun menghilang begitu saja. Yoona terus mencari-cari dua sahabatnya, ia menyusuri lorong-lorong sekolah.

Kemudian ia sampai di lapangan belakang sekolah, ia mendengar suara-suara dari sana. Yoona semakin berjalan mendekat dan menajamkan telinganya. Tanpa pikir panjang ia pun berteriak.

“Yuri-ah, Baekhyun-ah,” Yoona berteriak sembari memasuki lapangan belakang.

Seorang laki-laki yang sedari tadi mendribble bola basket itu berhenti dan menatap gadis yang muncul dari balik dinding gedung. Yoona segera menghentikan langkahnya, ia terdiam, dan mendapati bahwa orang yang ia cari tak ada di sana. Yoona hanya membungkuk dan menahan rasa malunya.

Mianhae, aku salah orang,” Yoona kembali membungkuk, “Aku pergi dulu.”

Tapi kemudian sebuah tangan menahan langkah Yoona, “Tunggu.”

Eh? Ada apa?” Yoona membalikkan tubuhnya sehingga kini ia berhadapan dengan laki-laki tersebut yang ternyata adalah Kyuhyun.

“Kau benar Im YoonA?” Tanya Kyuhyun dengan ragu-ragu.

Ne,” Yoona mengangguk pelan.

“Masih ingat padaku?” Yoona memicingkan matanya dan mengangguk lagi.

“Kukira kau bukan Kyuhyun yang aku kenal,” ucap Yoona.

“Dan aku masih ragu-ragu untuk menyapamu,” Kyuhyun melepaskan tangannya dari lengan Yoona.

“Kukira kau bukan Yoona, aku lupa di mana sekolahmu jadi aku kira kita tidak akan satu sekolah, dan satu kelas,” lanjut Kyuhyun. “Ternyata benar.”

“Aku juga sempat ragu apakah itu benar kau,” Yoona tersenyum manis, “Sedang apa kau?”

Kyuhyun berjalan sembari mendribble bola, “Bermain basket.”

“Kenapa tidak bermain di lapangan basket yang ada di depan?”

“Memangnya jika bermain basket harus di sana?” Kyuhyun pun duduk di kursi taman yang ada di sana.

“Tidak juga,” Yoona mengikuti Kyuhyun dan duduk di sebelah laki-laki tersbeut.

“Kau suka bermain basket?” Tanya Kyuhyun.

“Aku tidak bisa bermain basket,” jawab Yoona jujur.

“Padahal bermain basket itu menyenangkan, sangat rugi jika kau tak bisa memainkannya,” Kyuhyun memainkan bola basket yang ada di tangannya.

“Kalau aku tidak bisa bagaimana? Lagipula tak ada yang mengajarkanku bermain, Baekhyun selalu malas mengajariku padahal ia bisa bermain basket.”

“Jadi kau juga dekat dengan Baekhyun?”

“Begitulah,” Yoona melirik Kyuhyun yang ada di sebelahnya. Tiba-tiba jantungnya seperti menambah kecepatan berdetaknya, ia bisa merasakan detak jantungnya menjadi cepat seperti ia habis lari maraton.

“Bagaimana kalau aku yang mengajarimu bermain basket?” Tawar Kyuhyun.

Eh?” Yoona menatap Kyuhyun bingung.

“Aku serius,” Kyuhyun membentuk peace sign dengan jari-jarinya yang bermaksud untuk menunjukkan pada Yoona bahwa ia benar-benar serius.

Yoona terdiam sebentar, tiba-tiba ia teringat Yuri. Bagaimana caranya agar ia bisa belajar basket dengan Kyuhyun tanpa diketahui oleh Yuri? Ia tak mau Yuri salah sangka padanya, dan Yuri marah padanya. Ia benar-benar tak mau kehilangan sahabatnya, tapi disisi lain ia juga ingin diajari oleh Kyuhyun.

“Kita belajar setiap sore di sini,” tawar Kyuhyun lagi.

Yoona masih diam, ia bingung mau menerima tawaran Kyuhyun atau menolaknya.

“Bagaimana?”

“Baiklah,” Yoona akhirnya menerima tawaran Kyuhyun.

Sore ini Yoona habiskan untuk melihat Kyuhyun bermain basket. Sebenarnya ia masih ragu-ragu untuk menerima tawaran Kyuhyun, kenapa lagi kalau bukan karena ia memikirkan Yuri. Tapi akhirnya ia menerima tawaran Kyuhyun karena ia benar-benar tertarik untuk menghabiskan waktu dengan laki-laki yang kini tengah asyik bermain basket tersebut. Untuk menjelaskan semuanya pada Yuri ia akan mencari waktu yang tepat, baru ia akan menceritakan semuanya pada Yuri. Tapi Yoona juga tak sadar bahwa ia sudah melupakan janjinya bersama Yuri dan Baekhyun.

***

“Yoong kemarin kau kemana saja?” Tanya Yuri ketika ia sampai dan duduk di sebelah Yoona.

“Kemarin aku mencarimu dan Baekhyun,” jawab Yoona.

“Kita kan sudah membuat janji untuk pergi ke game center bersama. Karena kau pergi untuk mengurus ulangan harian Fisika milikmu itu, kita berdua menunggumu di game center.

“Oh Tuhan, aku lupa,” Yoona menepuk jidatnya pelan. Ia sudah merasa melupakan sesuatu kemarin, dan ternyata ini yang ia lupakan. Kemarin ia terlalu asyik melihat Kyuhyun bermain basket, ia pulang pada pukul lima sore kemarin.

“Kau ini, jadi kemarin aku bermain berdua dengan Baekhyun.”

Mianhae,” Yoona memasang wajah bersalagnya.

“Ini buku hariamu,” Yuri mengeluarkan buku harian milik Yoona dari tasnya dan menyerahkannya pada Yoona. “Aku sudah membaca isinya.”

“Siapa alien aneh yang dua bulan terakhir ini mengisi buku harianmu itu?” Tanya Yuri dengan tatapan yang menggoda sembari menaik turunkan alisnya.

Yoona tersentak kecil dan bergumam tak jelas karena takut Yuri mengetahui semuanya, “Hmm.”

“Ayolah beritahu aku,” bujuk Yuri, “Sepertinya kau menyukai orang yang kau sebut alien aneh itu.”

“Ayolah,” Yuri tak jera membujuk Yoona.

“Nanti saja,” Yoona berusaha mengelak.

“Beritahu aku.”

“Kubilang nanti.”

“Janji kau akan memberitahuku nanti?”

“Kapan-kapan.”

Yuri hanya mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban dari Yoona, gadis bermarga Kwon itu benar-benar tidak puas dengan jawaban sahabatnya. Yoona hanya terdiam, bagaimana kalau Yuri sampai tahu bahwa alien aneh yang tertulis di buku hariannya. Ia tak bisa membayangkan apa reaksi Yuri jika sahabatnya itu mengetahui semuanya.

TBC

Nah, ini lanjutannya. Mian klo aneh, mian untuk typo, mian klo jelek, pokoknya mian untuk segala kekurangan ff ini. Kris belum muncul disini, nanti dia muncul sama naganya :P *mulai ngaco (-_-)*. Ayo komentar ya klo mau dilanjut, komentarnya ditunggu :D

FF ini murni dari pemikiran saya dan http://winstion.wordpress.com adalah blog pribadi saya. 

26 thoughts on “(Un) Believe | 2nd – Beginning Problem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s