I Am Interested In You -4th / END-

I Am Interesed In You

Fanfiction by Tania Kennyda / Author Ken.

Cho Kyuhyun – Im Yoona and Other cast in here.

Genre Romance and Action.

Rated PG 13

Fanfiction ini milik Author Ken dan http://­­allaboutkyuna.wordpr­e­ss.com/

.

.

.

+++

 
 
YOONA`S POV
 
 
Aku sedang menyantap Kimbab dengan lahap siang ini, bersama Kyuhyun tentunya yang kali ini memilih daging sapi panggang sebagai menu makan siangnya. Iced Coffee Latte sebagai suguhan segar mengingat aku sangat menyukai kopi sehingga Kyuhyun memesankannya untuk kami.
 
 
“Bagaimana rasanya sudah satu bulan hidup di rumah barumu?” tanya Kyuhyun membuka percakapan. Memang benar, sehari setelah pernikahan eomma, aku langsung tinggal dengan keluarga baruku, di rumah paman Lee Jungwoon yang terletak di Mokpo.
 
 
“Mmm. Sedikit mengganggu karna terlalu ramai. Ada hoobae-ku saat SMP, Lee Seohyun dan ternyata dia adik dari Lee Donghae.”
 
 
“Lalu hubunganmu dengan appamu?” Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Pria ini tau saja aku kini sedang dalam keadaan tidak mudah beradaptasi dengan orang baru.
 
 
“Aku tidak tau, tapi dia selalu berusaha agar aku merasa nyaman tinggal bersama dengannya dan kedua anaknya. Dia selalu mengajakku sarapan di rumah, mengingat aku sama sekali tidak menyukai sarapan dan lebih memilih makan siang di kampus.”
 
 
“Mwo? Sampai sekarang kau masih tidak bisa membiasakan diri sarapan pagi? Yak! Aku sudah bilang berapa kali kalau sarapan sangat penting Na~ya!” bentaknya. Aku memandangnya dengan malas, tanpa ekspresi apa-apa.
 
 
“Kau! Kenapa memandangku seperti itu?” bentaknya lagi. Aku mengedikkan bahu tidak peduli dan melanjutkan suapan terakhir.
 
 
“Tenang saja Hyun, aku mulai mengubah kebiasaanku untuk sarapan pagi bersama mereka. Lagi pula, jika aku lupa, bukankah ada kau yang selalu mengingatkanku?” ujarku santai.
 
 
Kyuhyun terdiam lama menatapku, dan entah kenapa wajahnya memerah tiba-tiba. Aku memutar bola mataku dengan malas. Memangnya aku sedang merayunya? Kenapa wajahnya berubah seperti kepiting rebus seperti itu?

 
“Hyun?” tegurku karena dia belum beranjak dari kegiatannya yang sedang menatapku. Dia tersentak kaget dan mengerjapkan matanya salah tingkah. Ah sial! Kenapa dia sempat-sempatnya melakukan tindakan seperti itu? Tidakkah dia tau bahwa baru saja aku mengakuinya kalau dia tampan?
 

Ponselku bergetar hebat, membuyarkan pikiranku yang sedang terpana olehnya.
 

“Yeoboseyo?”
 

“….”
 

“Ne, ada apa paman Lee?”
 

Kyuhyun mengerutkan keningnya, heran. Kenapa aku masih belum memanggil paman Lee Jungwoon dengan sebutan appa.
 

“….”
 

“MWO?!”
 

“….”
 

“Aku akan segera kesana!”
 

Tubuhku menegang mendengar kabar buruk yang baru saja aku terima dan aku langsung bangkit hendak keluar dari cafe ini ketika Kyuhyun menarik tanganku dengan cepat.

 
“Wae?”

 
Tanpa sadar aku mencengkeram ponselku kuat-kuat, berusaha menahan emosi yang tiba-tiba tidak bisa kukendalikan.

 
“Lee Seohyun. Dia diculik.”
 
 
+++

Yoona membuka pintu sebuah ruangan besar yang kumuh dengan kasar, menimbulkan sedikit kepanikan pada beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu. Enam orang pria yang lebih pantas disebut sebagai sekumpulan preman tengah berkumpul di depan seorang pria paruh baya yang sedang berusaha melepas jeratan tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya. Dia ingin menolong gadis kecil yang duduk tepat di sebelahnya, terisak pelan karena keadaannya tidak jauh berbeda dengan ayahnya sekarang, sama-sama terikat tali yang membuat dirinya kesakitan.
 
 
“Onnieee!!!” teriak Seohyun, gadis itu. Yoona menggeram kesal dan menatap bengis keenam preman yang kini berjalan pelan ke arahnya. Kyuhyun merapatkan tubuhnya pada Yoona, membisikkan sesuatu.
 
 
“Hati-hati,” Yoona menajamkan matanya dengan dingin, masih memperhatikan keenam pria di hadapannya yang ternyata memegang kayu panjang yang cukup besar.
 
 
“Aku harap kau bisa mematahkan kaki dari salah satu manusia bejat ini, Hyun.” bisik Yoona dengan suara yang amat sangat pelan. Tanpa sadar, Kyuhyun tersenyum menyeringai, jenis senyum yang pertama kali terukir di wajah tampannya.
 
 
“Arraseo.”
 
 
Seorang pria berkepala botak menyerang Yoona terlebih dahulu, berusaha memukul tubuh gadis itu menggunakan kayu yang dipegangnya. Dengan gerakan gesit, Yoona menarik kedua tangan pria itu ke belakang, memelintirnya kuat dan langsung membantingnya ke lantai bersamaan dengan kaki kanannya yang mendorong tubuh seorang pria yang berdiri di sampingnya. Dia beralih menonjok perut pria yang kali tampak lebih kecil daripada pria yang pertama kali dihabisinya. Dengan satu pukulan di wajahnya, pria itu pingsan seketika. Yoona tersentak kaget saat salah satu seorang pria lagi menahan kedua tangannya ke belakang, dengan cepat Jira mengunci kaki pria itu dengan kakinya, memukul dada pria itu dengan siku dan secepat kilat mengangkat sekaligus menjatuhkan tubuh pria itu ke lantai yang menimbulkan seperti suara retak pada punggungnya.
 
 
Mata Yoona membelalak melihat satu pria yang sedikit terhuyung akan menghantam kepala Kyuhyun dengan kayu yang sudah diacungkannya ke atas, sedangkan Kyuhyun masih berusaha melenyapkan seorang pria di hadapannya. Dan sebelum itu terjadi Yoona sudah menendang kepala pria itu hingga hidungnya berdarah. Namun kali ini, pria itu berbeda, dia tidak ambruk begitu saja. Dengan sedikit kekuatan yang masih dimilikinya, dia kembali hendak menghabisi Yoona. Akan tetapi, gadis itu jelas tidak bisa diremehkan. Ayah kandungnya sudah mengajarkan bela diri sejak gadis itu berumur lima tahun, sehingga kekuatan tubuhnya sangat besar, dan sebuah penghargaan dalam kategori wanita terkuat di Korea Selatan cukup membuatnya percaya diri melakukan hal ini.
 
 
Yoona mengepalkan tangannya kuat, menghantam bahu kanan dan kiri pria itu, memberikan pukulan pada matanya, dan menendang wajahnya hingga darah keluar deras dari mulutnya. Yoona menghembuskan napas lega melihat keenam pria itu sudah tidak berdaya lagi.
 
 
“Na~ya? Gwaenchana?” tanya Kyuhyun menghampirinya. Yoona mengangguk pelan.
 
 
“Eo. Kau sendiri?”
 
 
“Nado, gwaenchanayo,”
 
 
Mereka bergegas menghampiri Jungwoon dan Seohyun, melepas jeratan tali-talinya. Seohyun langsung memeluk Yoona dengan erat, menangis tersedu-sedu.
 
 
“Tenang Seonnie, sudah tidak apa-apa.” Yoona mengelus punggung gadis itu pelan. Meredam tangisannya, agar gadis itu tidak trauma dengan kejadian yang sudah menimpanya hari ini.
 
 
“Paman baik-baik saja?” tanya Kyuhyun.
 
 
“Ne. Terima kasih Kyuhyun-ah. Terima kasih Yoona-ah.” Jungwoon mengulas senyum lega. Yoona masih menenangkan Seohyun yang kini sudah mulai diam, meski sesekali terdengar isakan kecil dari bibirnya.
 
 
“Sebenarnya apa yang terjadi Paman?”
 
 
Sebelum Jungwoon menjawab pertanyaan Kyuhyun, seseorang datang dari dalam sebuah ruangan tanpa pintu sambil bertepuk tangan dan tertawa mengejek.
 
 
“Bahagia sekali keluarga ini ya?”
 
 
Mereka menegakkan kepala, terkejut dengan kedatangan seorang pria yang mengenakan jaket hitam. Perlahan, Kyuhyun bangkit dan membantu Jungwoon berdiri. Yoona bergegas merangkul Seohyun dan mempersiapkan tenaganya kembali jika sewaktu-waktu pria gila ini melakukan tindakan di luar dugaannya.
 
 
“Kau siapa?”
 
 
“Jadi ini anak dari istri barumu, Jungwoon hyung?” tanya pria itu sambil tersenyum sinis.
 
 
“Cih! Senyumnya saja sama sekali tidak mengerikan, masih berani memasang wajah sesantai itu?” ujar Yoona dalam hati.
 
 
“Sudah kuduga! Kau adalah pelaku di balik semua kejadian ini! Apa yang kau inginkan dariku, Yangwoon?” bentak Jungwoon pada pria itu.
 
 
“Kau jangan pura-pura tidak tau, hyung!” teriak Yangwoon.
 
 
“Hyung? Pria gila ini adikmu?” tanya Yoona sinis. Jungwoon beralih menatap Yoona dengan rasa bersalah. Kegelisahan menyelimuti hati gadis itu, apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang ini?
 
 
“Serahkan semua aset perusahaan dan warisan peninggalan appa padaku!” sahut Yangwoon keras.
 
 
“Sampai matipun, aku tidak akan pernah menyerahkan apapun kepada anak durhaka sepertimu.” tegas Jungwoon.
 
 
“Itu hanya masa lalu dan kau tidak perlu mengungkitnya lagi!!”
 
 
“Masa lalu kau bilang? Kau tega membunuh ayahmu sendiri hanya karena harta! Itu yang kau bilang masa lalu? Apa kau masih belum sadar juga?”
 
 
Yoona dan Kyuhyun sangat terkejut mendengar pengakuan Jungwoon yang tiba-tiba itu. Yoona tidak habis pikir mengapa pria gila itu masih bisa bertahan hidup setelah melakukan perbuatan nistanya.
 
 
“Salahkan polisi-polisi bodoh itu yang membiarkanku pergi dari penjara. Hahaha.” Yangwoon tertawa lagi, sama sekali tidak ada rasa bersalah dan penyesalan.
 
 
“Kali ini aku pastikan kau akan mendapat hukuman mati, Yangwoon.” Raut wajah Jungwoon yang terlihat sedikit lebih tua daripada biasanya memperlihatkan sarat kemarahan yang dalam pada adiknya.
 
 
“Brengsek!!”
 
 
Kyuhyun menendang keras perut pria itu tepat ketika dia akan memukul wajah Jungwoon. Yangwoon mundur beberapa langkah sambil memegang perutnya. Kyuhyun menatap Yoona sebelum mendekati Yangwoon. Tidak ada rasa takut sedikitpun dalam dirinya, yang dia inginkan pria ini segera tersungkur, bahkan mungkin lebih parahnya mati saat ini juga. Harga diri keluarga gadisnya perlu dipertaruhkan.
 
 
“Hentikan langkahmu sekarang!” perintah Yangwoon. Dia menodongkan pistol ke arah pria itu. “Jika kau berani mendekat, kau akan habis dalam sekejap!”
 
 
“Hyun!” teriak Yoona cemas.
 
 
“Diam kau! Jangan ada yang bicara jika kau ingin pria-mu ini tetap selamat!”
 
 
Yangwoon mengernyit memandang pria di hadapannya.
 
 
“Tampaknya kau tidak takut sama sekali. Kau itu pria. Harga dirimu dipertaruhkan.” Kyuhyun hanya diam, tidak menanggapi penyataan Yangwoon. Raut wajahnya biasa saja sejak Yangwoon mengeluarkan pistol dari balik saku jaketnya.
 
 
Ada sesuatu yang tidak disadari pria itu pada pistolnya sehingga membuat Kyuhyun tersenyum menyeringai. Senyum khasnya yang mengerikan.
 
 
“Kau kenapa tersenyum seperti itu? Apa kau mau mengucapkan kata-kata terakhir pada orang-orang di belakangmu? Ah, terutama gadismu itu.” ejek Yangwoon.
 

Kyuhyun mengalihkan tatapannya ke arah lain sebentar dan kembali menatap dingin pria itu. Dia sedikit memincingkan mata kirinya melihat pistol itu, dan dugaannya tepat. Mereka terdiam cukup lama, sampai sebuah suara berat mengagetkan suasana yang mencekam di ruangan itu.

“Letakkan senjatamu sekarang, Yangwoon-ssi.”
 

Mereka semua menoleh ke arah kanan, beberapa polisi sudah bersiaga dengan senjatanya masing-masing. Mereka datang bersama Donghae yang langsung menghampiri Seohyun dan appanya. Yangwoon gelisah dirinya sudah dikepung, dengan gugup dia menarik pelatuk pistol itu dan terperanjat hebat seketika. Tidak ada satupun peluru di dalamnya.

 
Kyuhyun kembali tersenyum menyeringai dan rasa puas memancar dari wajahnya saat polisi berhasil melumpuhkan pria gila itu sedetik kemudian, menggiringnya menuju kantor kepolisian.
 

“Hyun, bagaimana matamu bisa sangat cepat mengetahui hal itu?” tanya Yoona takjub. Pria itu menatap Yoona dengan tenang, bibirnya membentuk senyuman yang hampir tidak terlihat, senyuman yang membuat gadis itu sadar bahwa pria itu tidak akan menjawab pertanyaannya.
 

+++

YOONA`S POV
 
 
Aku duduk terdiam di sofa ruang keluarga, Donghae duduk di sampingku, eomma dan paman Lee duduk di hadapan kami. Sebenarnya, aku sangat lelah hari ini, ingin segera menutup tubuhku dengan selimut hangat dan bergelung di dalam kasur. Namun, menurut eomma, ada hal yang harus dibicarakan mengenai kejadian hari ini.
 
 
“Maafkan aku dan appa, Yoona-ah.” ujar Donghae memulai pembicaraan.
 
 
“Kami tidak memberitahukan hal ini sebelumnya, tapi kami juga tidak tau sama sekali kalau pria itu datang lagi untuk mengacaukan semuanya. Sekumpulan pria menculik Seohyun saat dia baru keluar dari sekolah dan langsung menelepon appa untuk datang ke tempat itu. Appa tidak tau kalau pria bejat itu yang menyuruh anak buahnya untuk menculik Seohyun, jadi saat datang kesana ayah ikut disekap.” Kulihat mata paman Lee terpejam, wajahnya terlihat sangat sedih dan eomma menggenggam tangannya erat.
 
 
“Pria itu sudah dipenjara empat tahun silam terlibat kasus pembunuhan, dengan tangannya sendiri menusukkan pisau pada perut kakek karena kakek tidak mau hartanya-“
 
 
“Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi, Donghae-ssi.” selaku dengan tegas sebelum dia menyelesaikan penjelasannya.
 
 
“Kau tidak perlu melanjutkan cerita itu. Aku tidak peduli. Aku tau kalian berdua adalah orang yang baik. Hanya saja, aku tidak ingin ikut campur dalam masalah keluargamu, sekalipun kau menceritakan semuanya kepadaku.” Mataku menatap ujung meja tanpa berkedip, sebenarnya tidak juga, hanya sedang mengalihkan perhatianku sendiri untuk tidak menatap mereka bertiga yang justru memandangku dengan antusias. Kami terdiam cukup lama, dan mataku kini beralih memandang paman Lee dengan sarat kekhawatiran yang cukup besar.
 
 
“Aku tidak menyesal eomma menikah dengan paman, tapi sekarang aku khawatir. Aku memang tidak mengenal pria itu, tetapi mengingat dia pernah membunuh ayah kandungnya sendiri, kemungkinan sekecil apapun ia bisa kembali. Sifat jahat sudah meracuni dirinya hingga ke urat nadi, dia punya cara segudang untuk melanjutkan tujuannya, untuk menghancurkan Paman.” Entah kenapa, sekujur tubuhku ikut meremang mendengar perkataanku sendiri. Aku menghembuskan napas pelan sejenak.
 
 
“Aku tidak bermaksud menakut-menakuti kalian. Paling tidak, kau harus selalu menjaga Seohyun, Donghae-ssi. Jangan sampai dia lengah dari pengawasanmu untuk beberapa tahun ke depan. Bukan berarti juga kau menerapkan sifat terlalu protektif padanya, jika kau tidak bisa, suruhlah orang-orang kepercayaan ayahmu untuk menjaganya dari jauh.” Aku melirik sejenak ke arah Donghae, wajahnya tegang namun aku tau dia sangat yakin bisa melakukannya.
 
 
“Paman orang yang baik, presdir perusahaan software yang sukses, banyak orang yang menghormati paman, banyak orang yang bersedia bekerja untuk menjaga keluarga paman. Oleh karena itu, aku… mempercayakan eomma padamu.”
 
 
Eomma menatapku dengan raut wajah yang amat cemas, jadi aku menyunggingkan sedikit senyum canggung untuknya.
 
 
“Tenang saja eomma, aku berbicara seperti ini karena ingin melindungi kalian. Aku tidak selalu bisa datang tepat waktu jika ada kejadian seperti hari ini, dan sebelum itu terjadi alangkah baiknya kalian selalu waspada.”
 
 
Sedetik kemudian, aku tertawa kecil mencairkan suasana. Sepertinya pembicaraan ini membuat darah mereka ikut tegang.
 
 
“Jalani saja hari-hari selanjutnya dengan bahagia, tidak perlu sampai dipikirkan.”
 
 
“Terima kasih Yoona-ah. Paman tidak tau harus mengatakan kata-kata apa lagi untuk menunjukkan rasa terima kasih karena kau sudah mau memikirkan cara untuk melindungi kami.”
 
 
Aku tersenyum dan mengangguk.
 
 
“Lalu, bagaimana dengan dirimu, Yoona-ya?” tanya Donghae.
 
 
“Aku? Aku baik-baik saja, Hae-ssi.” jawabku sambil bangkit dari sofa.
 
 
“Kau butuh orang juga untuk mengawasimu?”
 
 
Aku melirik Donghae melalui sudut mataku dengan tajam. “Kurasa kau sudah tau apa jawabanku. Mmm, aku lelah, aku ingin istirahat.” Ujarku membungkukkan kepala sedikit dan berlalu dari hadapan mereka.
 
 
+++

KYUHYUN`S POV

 
Aku tidak tau apa terjadi pada gadis itu, sejak pulang dari tempat kejadian menegangkan kemarin, dia sama sekali tidak berbicara kepadaku. Dia lebih memilih diam menutup mulutnya rapat-rapat. Bukan berarti aku tidak berani bertanya, aku sudah terbiasa membaca raut wajahnya yang jelas sangat ingin tidak diganggu saat itu, dan karena itulah aku juga ikut lebih memilih diam. Namun, aku tidak menyangka bahwa gadis itu tidak memberiku kabar sedikitpun hingga sore ini, sampai dengan tergesa-gesa aku mencarinya ke seluruh penjuru kampusnya sekarang. Hasilnya pun nihil, aku tidak menemukan keberadaannya dimanapun. Sudah kuhubungi dan kukirim sms ke ponselnya ratusan kali, berharap dia mengaktifkan ponselnya dan menghubungiku sesegera mungkin.
 
 
Aku masuk ke dalam mobilku, menyandarkan tubuh pada tempat kemudi, memejamkan mata dan menghembuskan napas panjang.
 
 
“Na~ya? Kau dimana?” Aku tersentak sendiri mendengar suaraku bergetar pelan.
 
 
“Apa yang sedang kau lakukan? Tidakkah kau tau aku sangat khawatir tidak bisa menemukanmu dimana-mana? Tidak bisa menjangkau pandangan untuk sekedar melihatmu? Aku takut, Na~ya.” Lirihku. Aku membuka mataku perlahan, tanpa sadar mencengkeram setir mobil kuat-kuat.
 
 
“Apakah kau sedang mengajarkanku tentang arti kehilangan? Jika memang benar, aku bisa merasakannya Ra~ya. Aku tidak akan sanggup tidak melihatmu lebih lama lagi daripada hari ini. Aku tidak suka kehilangan cara untuk menarik napas dengan benar seperti ini, Na~ya. Rasanya mengerikan sekali, mengetahui kau tidak berada dalam jangkauan mataku.”
 
 
Aku berpikir sejenak dan semenit kemudian aku mengemudikan mobil menuju rumah, setidaknya aku harus mengisi perutku sebelum melanjutkan pencarian untuk menemukan gadis itu.
 
 
+++

Aku berjalan pelan menyusuri Jembatan Banpo, jembatan yang menghubungkan distrik Yongsan dan Seocho. Jembatan yang melewati Sungai Han yang terdapat air mancur besar dengan ditemani gemerlapnya lampu warna-warni. Melihat setiap 20 menit sekali bagaimana air mancur itu menunjukkan pesonanya yang mengagumkan, membuat suasana hatiku sedikit membaik. Aku menghentikan langkahku tepat saat aku menatap ke depan, membeku melihat seorang gadis yang mengenakan hoodie berwarna hitam dan celana jeans biru tua yang sedang berjalan pelan ke arahku. Gadis itu, aku melihatnya kembali. Aku sudah bisa bernapas lega hanya dengan melihatnya saja. Dia menghadapkan kepalanya ke depan, tersentak kaget melihatku sedang berdiri menatapnya tajam. Perlahan, aku berjalan ke arahnya, berdiri sedekat mungkin di hadapannya.
 
 
“Kau? Apa yang kau lakukan hari ini?” tanyaku tegas. Yoona menundukkan kepalanya, nampak merasa bersalah.
 
 
“Mianhe.”
 
 
“Aku sangat khawatir tidak bisa menemukanmu dimana-mana. Apakah kau sedang mencoba mengujiku, Na~ya? Seberapa kuat ketika kau meninggalkanku sendiri?”
 
 
“Bukan begitu, Hyun.” Dia menggelengkan kepalanya cepat, menatap mataku dengan cemas.
 
 
“Kau punya aku. Ada aku di sampingmu. Kuharap kau tidak akan pernah melupakan hal itu.” lirihku. Aku menatap matanya lekat-lekat, meyakinkan dirinya agar dia tidak lagi bertindak gegabah seperti hari ini.
 
 
“Aku ke rumahmu, Na~ya. Dan ibumu menjelaskan terkait penyelesaian masalah keluarga yang diutarakan olehmu kemarin malam. Aku tau… Kau tidak harus selalu menceritakan segala kegelisahanmu padaku. Aku tidak akan pernah memaksamu. Kau berhak menyembunyikan segalanya dariku.”
 
 
“Kau… membenciku?” tanyanya sedih. Matanya sedikit berkaca-kaca. Aku menelan ludah dengan susah payah.
 
 
“Aku terlalu mencintaimu, tidak akan pernah aku membayangkan bisa membencimu. Bahkan aku tidak mempunyai celah sedikitpun untuk bisa marah padamu.”
 
 
Kali ini aku merasa menjadi seorang pria jahat, dengan mudahnya gadis itu meneteskan air mata di hadapanku. Kedua tanganku mengepal kuat, tubuhku gemetaran melihatnya pertama kali menangis di depan mataku sendiri.
 
 
“Mianhe.” ucapnya pelan. Aku tidak bisa menahan diriku lagi untuk bergegas menariknya ke dalam pelukanku. Membenamkan wajahku di sela-sela rambut panjangnya, mengelus punggungnya pelan. Dia mencengkeram kuat kemeja biruku, tubuhnya bergetar hebat dalam pelukanku.
 
 
“Aku menyakitimu?”
 
 
“Tidak. Kau tidak menyakitiku.” isaknya.
 
 
“Lalu kenapa kau menangis?” Dia terdiam sejenak, menghembuskan napas pelan di dadaku.
 
 
“Sudah lama aku tidak menangis. Melihat matamu yang begitu menyeramkan, aku jadi takut. Jadi, aku menangis tiba-tiba.” ucapnya sedikit merajuk. Aku mendengus pelan.
 
 
“Mata elangmu jauh lebih menyeramkan, Na~ya.” Dia melepaskan tubuhnya, menghapus sisa-sisa air matanya. Aku memegang pipinya dengan kedua tanganku, membantu membersihkan air mata yang seharusnya tidak keluar dari mata tajamnya.
 
 
“Aku pergi untuk menenangkan diriku, Hyun.” Aku tersenyum lembut, membelai pipinya dengan punggung jari-jariku. Bahagia melihat wajahnya yang mulai merona di bawah puluhan lampu yang menghiasi sepanjang jembatan ini.
 
 
“Tapi tidak harus pergi ke Nowon, kan?”
 
 
“Eomma memberitahumu?” Aku mengangguk sebagai jawabannya.
 
 
“Lain kali aku pasti yang akan memberitahumu.”
 
 
“Tidak perlu. Jika kau berada di dekatku, kau pasti akan merasa tenang.”
 
 
Dia mengerucutkan bibirnya, membuatku berpikiran yang tidak-tidak. Bibirnya terlalu…err, menggoda. Aku memajukan wajahku ke depan, meraih tengkuknya dan perlahan menempelkan bibirku pada bibir mungilnya. Manis.
 
 
Darahku berdesir hebat ketika aku menyentuh bibirnya. Karena dia tidak memberikan respon apapun, aku mulai melumat bibirnya dengan pelan dan lembut. Aku melakukannya dengan hati-hati, penuh rasa sayang yang besar, agar dia mengerti bahwa aku tidak ingin menyakitinya. Perlahan matanya terpejam rapat, menikmati sentuhanku.
 
 
Aku tidak ingin bertindak terlalu jauh, karena hal ini masih belum saatnya. Kulepaskan tautan bibir kami dan menatap matanya dalam. Dia mengerjapkan matanya pelan, terlihat seperti kebingungan untuk menemukan oksigen di sekitarnya. Aku tersenyum geli, mencoba menggodanya.
 
 
“Kenapa? Belum puas?”
 
 
“YAK! CHO KYUHYUN! ITU CIUMAN PERTAMAKU!”

END

22 thoughts on “I Am Interested In You -4th / END-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s