I Am Interested In You -2nd-

I Am Interesed In You (CHAPTER 2)

Fanfiction by Tania Kennyda / Author Ken.

Cho Kyuhyun – Im Yoona and Other cast in here.

Genre Romance and Sad.

Rated PG 13

Fanfiction ini milik Author Ken dan http://­allaboutkyuna.wordpre­ss.com/

.

.

.

+++

“Kau masih ingat Cho Corporation pernah mengadakan perlombaan web design untuk merancang produk baru agar terlihat menarik?”

“Itu satu tahun yang lalu bukan?”

“Benar. Dan kau menjadi peserta termuda saat itu.”

“Tapi aku tidak berhasil.”

“Aku juga tidak peduli dengan hasilnya, itu bukan pekerjaanku dalam menyetujui design produk baru, aku lebih memilih untuk menilai fungsi, manfaat, kualitas, efisiensi dari setiap produk yang akan dikeluarkan di pasaran. Jadi, aku melihatmu pertama kalinya disana, peserta yang duduk sendirian di pojok ruangan.”

Yoona tersenyum tiba-tiba, memperlihatkan deretan giginya yang putih, dan entah mengapa kali ini aku yang mendadak kehilangan cara untuk menarik napas dengan benar, seakan oksigen menghilang tanpa diduga dan aku hampir sekarat karenanya.

“Dan apa yang kau lakukan setelah itu? Bukankah kau bilang kau baru melihatku untuk pertama kalinya setelah satu bulan mengunjungi toko bunga Ibuku?” tanyanya.
Aku menghembuskan napas pelan. Kenapa aku jadi seperti remaja yang pertama kali jatuh cinta? Dan parahnya, pikiranku benar, bahwa aku sama sekali tidak pernah jatuh cinta sebelum bertemu dengan gadis ini.

“Mencari tahu tentangmu. Semuanya. Selama satu tahun. Tentu saja untuk menyembunyikan identitasku. Kau kan sangat sulit dekat dengan seorang pria.” Dia mengerjapkan matanya bingung.

“Selama satu tahun? Untuk apa?”

“Mempersiapkan diri agar kau menerimaku di hidupmu. Dan itu tidak mudah bukan?”

+++

YOONA`S POV

“Mempersiapkan diri agar kau menerimaku di hidupmu. Dan itu tidak mudah bukan?”

Sekali lagi, aku terkesiap mendengar jawabannya yang gamblang. Bagaimana semudah itu ia mengatakannya? Aku menatap keluar kaca yang membatasi café ini, menghembuskan napas berat.

“Aku tidak tau kenapa aku harus bersikap dingin kepada orang lain, aku hanya –“

“Kau tidak perlu menceritakan apa-apa Na~ya. Aku tidak ingin kau sedih mengingat masa lalumu.”

Aku kembali menatapnya. “Kau sangat tahu tentangku ya?”

“Mmm, sedikit lebih banyak dari orang lain.” Senyumnya kembali menghiasi wajahnya yang putih. Aku terdiam, meneliti dengan intens raut wajah direktur perusahaan besar ini. Rambutnya yang coklat berantakan namun justru itu yang membuatnya nampak menawan, hidungnya mancung ditambah dengan bibirnya yang penuh dan selalu menunjukkan seringaian khas, begitu aku menyebutnya. Rahangnya yang keras, mata besarnya yang terlihat sangat tajam, dan wajah polosnya memberikan efek tanpa sadar padaku bahwa sekali lagi aku tidak berkedip hanya untuk menatapnya dan sialnya dia mengejekku sambil tertawa karena aku ketahuan terpesona padanya.

+++

Aku sibuk berkutat melatih murid-murid di perguruan Taekwondo cabang Yongsan pada tingkat sabuk biru, sebentar lagi ujian kenaikan sabuk akan diadakan dan karenanya aku harus melatih mereka lebih giat lagi agar tidak ada kesalahan sedikitpun pada kenaikan sabuk nanti.

“Yoona-ya, ada yang mencarimu.” bisik Heechul oppa, pemimpin perguruan ini. Aku menoleh padanya, “Aku sedang melatih oppa, bisakah orang itu menungguku sebentar saja?” Heechul oppa menggelengkan kepalanya.

“Dia memaksaku untuk menarikmu keluar jika kau tidak menemuinya sekarang.”

“Hah? Aish.. memangnya siapa dia?” geramku. Aku bergegas keluar dari ruang latihan dan menemukan sosok pria yang sedang bersandar di pintu mobilnya, pria yang sudah satu bulan ini selalu mengangguku kemana-mana.

“KAU!! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI HAH?” bentakku keras setelah berdiri di hadapannya. Dia memasang senyum tanpa dosa, membuatku kelimpungan setengah mati bagaimana bisa aku kehilangan oksigen lagi secara mendadak pada situasi seperti ini, padahal jelas sekali aku sedang tidak berada dalam ruangan yang sempit.

“Aku ingin bertemu denganmu tentu saja.” Jawabnya santai. Aku menggertakan gigiku kesal.

“Kau bisa menemuiku setelah aku selesai melatih, Hyun.” ujarku penuh tekanan. Sudah satu bulan ini, aku memanggilnya tanpa embel-embel oppa meskipun dia dua tahun lebih tua di atasku, dan dia dengan senang hati menerimanya.

Dia mengedikkan bahunya tidak peduli. “Aku maunya sekarang, dan aku tidak mau menerima alasan apapun.”

Aku menghembuskan napas cepat. “Lalu ada masalah apa kau ingin menemuiku sekarang?”

“Hmm… tidak ada.” Jawabnya dengan senyum yang melekat pada wajah polosnya yang ternyata hanya tipuan belaka. Dia adalah pria yang sangat menyebalkan. Aku menghembuskan napas pelan, menenangkan diri sehingga saat aku melatih kembali muridku tidak menjadi sasaran kekesalanku padanya.

“Aku masuk dulu.” ujarku pelan. Namun, dia menarik tanganku cepat. Sekejap aku membelalakkan mata kaget. Di..dia ke..kenapa tiba-tiba mencium pipiku? Napasku tertahan, kepalaku pusing mendadak tetapi perutku merasa aneh, dan parahnya aneh yang kumaksud adalah menyenangkan. Aku rasa aku sudah gila sekarang. Bibirnya masih menempel di pipi kiriku. Baru saja aku ingin menjauhkan wajahnya dari pipiku, dia sudah melepaskannya dan tersenyum senang melihatku membeku karena ini adalah sentuhan pertama dari bibir penuhnya itu.

“Sudah sana masuk, aku akan menunggumu sampai selesai melatih.” Aku masih membisu di tempat, pikiranku sudah menyuruhku untuk segera meninggalkannya agar malaikat pencabut nyawa tidak mengambil nyawaku sekarang juga hanya karena tindakan gilanya tadi, tapi tubuhku seakan tidak mau bekerjasama, tidak sedikitpun ia beranjak dari sini.

“Na~ya, cepatlah masuk. Baru kucium saja kau sudah linglung seperti ini.” Kyuhyun dengan seenaknya menyentil dahiku dengan jari telunjuknya.

“YAK!!” sahutku keras, kembali ke alam nyata. Dia tertawa terbahak-bahak sebagai balasannya.

+++

“Kau mau makan apa, Na~ya?” tanya Donghae sambil menyalakan mesin mobilnya. Aku baru saja selesai melatih dan berniat makan malam dulu sebelum pulang ke rumah.

“Aku ingin Jajangmyeon.” jawabku. Mobil Kyuhyun perlahan meninggalkan pelataran perguruan dan bergabung bersama mobil lainnya di jalan raya.

“Tidak boleh! Kau harus banyak makan sayuran, Na~ya. Terutama ikan.”

“Kau menasehatiku akan tetapi kau sendiri yang membenci sayuran.” cetusku.

“Aku tidak peduli. Malam ini kau dilarang makan mie, baru tadi siang kau makan semangkuk besar mie ramen, kau tau?”

“Kalau begitu aku mau ikan salmon.” ujarku sambil mencari ponselku yang bergetar di dalam tas ransel.

“Bagus! Sering-seringlah makan ikan, Na~ya. Siapa yang meneleponmu?” tanyanya ketika aku hendak menyentuh ponselku.

“Eomma. Tetap konsentrasi menyetir, Hyun.” sahutku memperingatkan karena dia lebih memilih melihatku daripada mengemudikan mobilnya dengan baik.

“Yoboseyo? Waeyo eomma?”

“…..”

“Sekarang?”

“…..”

“Baiklah.”

“Ada apa?” tanya Kyuhyun.

“Eomma memintaku pulang sekarang. Katanya dia akan mengajakku menemui seseorang.” Kyuhyun menolehkan kepalanya cepat.

“Siapa?”

“Mollaseo. Eomma bilang dia ingin mengenalkanku pada temannya.”

“Kau akan dijodohkan?”

“Yak! Kau pikir eomma akan melakukan tindakan seperti itu padaku?”

“Semoga saja tidak.”

“Takdirku itu kau bodoh,” gumamku lirih tanpa sadar. Yak! Kenapa aku bisa mengeluarkan kata-kata menjijikkan seperti itu?

“Mwo? Kau bicara apa tadi?” Kyuhyun juga seakan tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan.

“Tidak ada! Sudahlah Hyun, konsentrasilah menyetir dan antarkan aku pulang sekarang.” Aku memilih menatap ke depan, menghindari tatapannya. Aku mendengarnya menggumamkan sesuatu sambil menggaruk tengkuknya.

“Tadi dia bilang apa ya?” Aku hanya tersenyum dalam diam.

+++

Aku dan eomma masuk ke dalam restoran yang cukup mewah, dan detik itu juga aku terperanjat melihat salah satu orang yang sedang duduk di samping gadis yang lebih mudah satu tahun dariku memakai baju putih dan tersenyum sumringah melihatku.

“Yoona onnie!” Aku hanya tersenyum kaku tapi tidak melihatnya. Eomma menarik tanganku pelan agar duduk di hadapan mereka bertiga, pria dewasa berumur sekitar 40 tahunan dengan jas hitam rapi, mungkin dia teman eomma, pria yang sekampus denganku mengenakan kemeja coklat muda, dan adiknya yang masih berumur 19 tahun.

“Apa kabar Yoona-ya? Maaf, Paman mengganggu waktumu untuk bertemu.” ujar pria itu tersenyum. Aku hanya terdiam, tidak menggubris pertanyaannya. Aku menoleh ke arah eomma.

“Apa eomma berencana menikah lagi?” tanyaku langsung, sebenarnya masih menebak antara pertemuan bisnis dan rencana pernikahan.

“Mmm, begini Yoona-ya.”

“Eomma jawab saja.” Sahutku sedikit lebih keras, jauh dari kata sopan.

“Benar. Eomma berencana menikah dengan Paman Lee Jungwoon.” Aku menatap eomma melalui sudut mataku dengan dingin, sedikit tertohok dengan pernyataannya. Dengan segera, aku bangkit dari dudukku tanpa mengucapkan sepatah kata dan keluar dari restoran.

“Im Yoona!” Aku menghentikan langkahku di halaman parkir.

“Kau tidak setuju Ayahku menikah dengan Ibumu?” tanyanya berdiri di sampingku.

“Aku tidak tau.” jawabku tak peduli.

“Kau tidak tau kalau Ibumu mencintai Ayahku begitupun sebaliknya?” Aku menggeleng pelan.

“Eomma tidak pernah bercerita apa-apa.” Aku mendengarnya menghembuskan napas pelan.

“Dan sekarang setelah kau tau, apakah kau akan menyetujui rencana pernikahan ini?” tanyanya lagi. Aku memejamkan mataku sejenak, merasakan dinginnya angin malam menerpa wajahku.

“Entahlah. Aku tidak merasa harus mengambil sebuah keputusan.”

“Tapi kau anak satu-satunya.”

Aku menghembuskan napas berat. “Aku pikir… itu bukan urusanku, Donghae-ssi.”

TO BE CONTINUED

21 thoughts on “I Am Interested In You -2nd-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s