I Am Interested In You -1st-

I Am Interesed In You
 
Fanfiction by Tania Kennyda / Author Ken.
 
Cho Kyuhyun – Im Yoona and Other cast in here.
 
Genre Romance and Sad.
 
Rated PG 13
 
Fanfiction ini milik Author Ken dan https://allaboutkyuna.wordpress.com/
 
.
 
.
 
.
 
 
+++
 
 
“Kau menolakku ?” pekiknya tertahan. Suaranya bergetar dan nada bicaranya terkesan tidak percaya. “Kenapa?” tanyanya menatapku, sendu.
 
Aku tak membalas tatapannya, lidahku kelu. Mataku lebih memilih sibuk menatap mobil-mobil yang lalu lalang di jalan raya.
 
“Ada masalah denganku?” Aku rasa tatapannya tidak beralih sedikitpun, tapi dengan kentara terlihat bahwa aku mengacuhkannya.
 
“Tolong, jawab aku.. Im Yoona.” Aku meliriknya sejenak, menatapnya melalui sudut mataku dengan dingin.
 
“Kau butuh jawaban apa? Sedangkan kau tau aku tidak bisa menjawab apa-apa.” ujarku pelan, tidak ada rasa peduli sedikitpun.
 
“Tidak bisakah kau bersikap lembut padaku? Aku terlihat seperti lelaki bodoh, yang tidak sedikitpun mendapatkan perhatian dari gadisnya.”
 
Aku menegakkan kepalaku dengan cepat, “Aku. Bukan. Gadismu.” ujarku penuh tekanan. “Jadi, apa yang harus aku jawab agar kau tidak seenaknya berbicara seperti itu?” lanjutku.
 
Dia menghembuskan napas panjang, dan yang kutangkap dari caranya bernapas adalah putus asa dan lelah.
 
“Berhentilah bersikap dingin padaku, Yoona-ya.” Aku mengalihkan wajahku ke samping, tidak ingin bertatapan lagi dengannya.
 
“Kau mengartikan apa kedekatan kita selama satu tahun ini?” tanyanya lagi. Aku terdiam lama. Satu tahun? Jadi, aku melewatkan kehidupanku begitu saja selama satu tahun ini? Kenapa dengan mudahnya dia berbicara seperti itu? Tidakkah dia tau bahwa satu tahun ini kembali menyiksaku? Aku menghela napas berat.
 
“Mianhamnida, Donghae-ssi. Aku hanya ingin kita berteman saja.”
 
 
+++
 
 
Aku melangkah dengan berat, terseok-seok menelurusi dimensi dunia yang setiap harinya berubah. Menahan himpitan yang seharusnya sudah aku tinggalkan di celah kehidupan silam. Namun apa daya, aku justru masih berbelut dengan serangkaian kenangan yang tidak bisa dihapus dengan mudah. Tentang seseorang yang berhasil memenuhi hidupku selama 730 hari, memasang potongan kertas yang menjadi sebuah alas untuk menceritakan segalanya dengan goresan pena warna-warni. Aku sia-siakan hidupku selama satu tahun ini, membalikkan semua sifat yang sudah melekat pada diriku, mengubah dingin menjadi lebih dingin, melihat dengan tatapan mata elang yang semakin tajam, memudarkan senyum, melewati kepedulian dengan orang-orang yang justru peduli denganku, dan menyesali mengapa aku harus runtuh hanya karena seorang pria, yang bahkan dengan seenak jidatnya menghasilkan air mata yang mengalir di kedua pipiku. Sesak rasanya. Seakan beban hidupku semakin bertambah ketika dia mendadak meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Dan bodohnya aku sama sekali tidak melarangnya pergi, lebih memilih menyimpan kesakitan itu sendiri. Aku tau aku sulit untuk bangkit, merangkai kembali kepingan perasaan yang hilang mengudara. Akan tetapi, aku menyadari bahwa ini salah satu jalan terbaik yang diberikan Tuhan padaku, bahwa aku harus merasakan kehilangan untuk kedua kalinya setelah ayahku meninggal 7 tahun silam, bahwa aku sudah ditakdirkan memiliki seseorang yang kelak akan menjadikan diriku sebagai tujuan utama hidupnya. Dan dengan keyakinan itu aku percaya, Tuhan selalu dekat denganku.
 
_Im Yoona_
 
 
+++

YOONA`S POV | 09:10 KST
 
 
“Yoona-ya, eomma pergi ke pasar dulu, tolong jaga toko sebentar ya.” Aku mengalihkan perhatianku dari laptop, dan tersenyum pada ibuku.
 
“Ne, hati-hati di jalan,” Aku memindahkan laptop ke meja kasir agar lebih mudah menjaga toko bunga ibuku sekaligus mengerjakan tugas akhir yang diberikan para dosen menjelang ujian akhir semester. Baru saja aku menyentuh beberapa huruf pada keyboard laptop, pintu masuk berderak pelan.
 
“Annyeonghaseyo.” Sapaku pada seorang pria muda yang mengenakan jas hitam rapi.
 
Dia tersenyum sambil melihat bunga-bunga di rak yang tersusun apik dari tangan ibuku.
 
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanyaku.
 
“Aku mencari bunga Azalea, Nona. Bisakah kau memberikannya untukku?” Aku terkesiap sejenak. Pria ini mencari bunga Azalea?
 
“Ne. Anda mau pesan berapa tangkai Tuan?”
 
“Apakah ada yang ditanam di dalam pot kecil? Aku membutuhkannya.”
 
“Baiklah, mohon tunggu sebentar, Tuan.” Aku masuk ke dalam, menemukan dua pot bunga Azalea yang satu terbungkus plastik dengan rapi dan yang satu lagi dibiarkan tidak terbungkus apa-apa.
 
“Anda akan mengambil yang mana Tuan?” tanyaku sambil menahan kedua pot di tanganku.
 
“Mmm, Nona mengambil pot yang mana dulu?” Aku mengernyit. Apakah berpengaruh?
 
“Yang ini, Tuan.” jawabku, memajukan tangan kananku sedikit, bunga Azalea yang tidak terbungkus plastik.
 
“Baiklah. Saya ambil yang ini.” ujarnya.
 
“Apakah perlu dibungkus plastik bening seperti ini?”
 
“Tidak perlu Nona. Saya memilih bunga pertama yang Nona ambil.” ujarnya masih dengan senyum yang mengukir wajah putihnya. “Kesan pertama jauh lebih baik bukan?”
 
Aku terkesiap lagi, apa yang sedang dia bicarakan? Pria muda ini seakan mengerti apa yang ada di pikiranku, karena detik berikutnya dia memberikan alasan yang aku anggap adalah sebuah bencana awal untuk kelangsungan hidupku.
 
“Aku melihatmu untuk pertama kalinya setelah satu bulan ini aku berkunjung kesini. Dan pilihanku untuk memilih bunga tidak salah. Kau juga mengambil bunga tanpa ada bungkusan apa-apa, bukankah itu seperti suatu bentuk kebetulan? Bahwa kau menginginkan bunganya, sama seperti aku yang pertama kali melihatmu dan memutuskan.. untuk menjadikanmu sebagai milikku.”
 
Cho Kyuhyun, pria tanpa basa-basi yang menyerahkan beberapa lembar uang pada meja kasir tanpa mengambil bunganya, sudah satu minggu ini tidak berkunjung ke toko. Aku mengetahui namanya dari ibuku, dia biasanya membeli mawar putih, entah untuk siapa. Bunga Azalea yang kuanggap adalah pemberiannya, aku letakkan di atas meja di sudut kamar. Aku hanya penasaran mengapa dia mengatakan pernyataan itu dengan mudah. Dia bahkan tidak tau apa-apa tentangku, tapi kenapa memutuskan bahwa aku.. ehmm, akan menjadi miliknya? Berpikiran sampai kesanapun aku tidak pernah, bahwa di dunia ini ada seorang pria yang dengan mudahnya menyatakan hal seperti itu pada gadis yang baru pertama kali dilihatnya. Apakah dia jatuh cinta pada pandangan pertama? Oke. Aku akui kini aku sedang gila hanya karna percakapan tidak bermutu sama sekali tadi pagi. Dengan kesal aku menampar pipiku sendiri, menghentikan khayalan yang tidak seharusnya berkeliaran di benakku.
 
“Apa yang terjadi denganku? Sebenarnya siapa pria itu? Dan kenapa tiba-tiba dia menghilang?”

+++

 
AUTHOR`S POV | 11:00 KST

 
Seorang gadis yang mengenakan kemeja biru langit, dalaman kaos putih dan celana jeans warna hitam tampak dihadang oleh tiga orang mahasiswi yang terlihat fashionable daripada gadis itu. Dia hendak melanjutkan perjalanannya ke ruang Multimedia, karena lima menit lagi dia harus berada disana untuk mengumpulkan tugas akhirnya di semester 4 ini.
 
“Jadi ini yang menolak Donghae oppa?” tanya perempuan yang berada di tengah, mengenakan cardigan warna ungu.
 
“Gadis natural yang tidak tahu diri, huh.” lanjut salah satu temannya dengan ketus.
 
“Im Yoona yang sok jual mahal!” tambah perempuan satu lagi yang terlihat paling kurus diantara mereka berempat.
 
“Ada urusan apa denganku, Jung Sooyeon-ssi?” tanya Yoona dengan tenang pada gadis yang mengenakan cardigan warna ungu itu.
 
Sooyeon tersenyum meremehkan, berjalan pelan mengitari Yoona, dan tiba-tiba menarik rambut panjangnya dari belakang. Yoona hanya mendengus sebal, tidak melawan perbuatan Sooyeon. Dia bukan tipe mahasiswi yang dengan mudah membuat keributan di kampusnya.
 
“Aku senang kau menolak cinta Donghae oppa, tapi bukan berarti kau menjadi gadis yang jual mahal! Donghae oppa jadi semakin menjauhiku setelah kau menolak cintanya. Dia frustasi. Kau gadis tidak berperasaan!” Sooyeon berbisik di telinga Yoona dan detik berikutnya mendorong kepalanya hingga nyaris terjungkal ke depan. Yoona menoleh dengan segera, menatap Sooyeon dengan tatapannya yang dingin, membuat nyali gadis itu agak sedikit menciut tiba-tiba.
 
“Kau berani berhadapan denganku, Nona Jung Sooyeon? Ah, ani. Maksudku Ice Princess Jessica Jung. Dengar baik-baik, aku tidak mau membuat keributan dengan orang yang tidak pantas menjadi lawanku. Kau tau bukan? Aku bisa saja menggunakan kekerasan dan melukai wajah cantikmu itu.”
Yoona tersenyum sinis, menunjukkan sisi wajahnya yang sarat kebencian, menimbulkan nyali yang semakin ciut pada diri Sooyeon yang kini sedang menelan ludah dengan susah payah, wajahnya mengeras, ingin meneriaki Yoona saat ini juga.
 
“Ja..Jangan mentang-mentang gadis paling kuat dan bertenaga di Korea Selatan, kau bisa seenaknya berkata seperti itu denganku!” bentak Sooyeon dengan gugup.
“Hey, siapa yang melakukan tindakan seenaknya? Seharusnya kau menjaga imej ayahmu disini sebagai rektor, agar kau tidak disangka sebagai anak yang tidak tau sopan santun.” Yoona tersenyum separuh, masih menatap anak rektor kampusnya dengan sinis.
 
“Kau bisa saja dikeluarkan dari kampus ini, Yoona-ssi.” tantang Sooyeon. Senyum mengerikan Yoona makin mengembang mendengar Sooyeon menantangnya.
“Benarkah? Aku tidak yakin aku bisa keluar dari kampus ini hanya karena ancamanmu, Nona. Dewan kampus, dekan fakultas, dosen, mahasiswa bahkan ayahmu tidak akan pernah dengan mudah mengeluarkanku dari sini, kecuali..”
 
“Kecuali apa?” tanya Sooyeon cepat. Membuat Yoona mendekatkan wajah kearahnya, meletakkan tangan kanannya di bahu kanan Sooyeon yang seketika mengubah suhu badan gadis itu menjadi dingin, sekaligus membuat pikiran gadis itu kemana-mana, bahwa Yoona akan membantingnya ke lantai dengan satu hentakan dari tangannya.
“Aku lulus kuliah dari kampus ini.” jawabnya santai lalu pergi dari hadapan Sooyeon dengan senyum puas terpancar dari wajah putihnya.
 
Sooyeon mengepalkan kedua tangannya, mengerang keras saking kesalnya.
 
“Alasan macam apa itu! Tentu saja itu hal yang membuatnya bisa keluar dari kampus ini! Sial!”

+++

Yoona berjalan menuju perpustakaan yang terletak di seberang gedung fakultasnya sambil menyampirkan ransel hitam di bahu kirinya, bermaksud mengembalikan novel Sherlock Homes yang dipinjamnya dua minggu yang lalu. Langkahnya terhenti dan mendadak ia merasa rotasi tubuhnya tidak berfungsi dengan baik. Rongga pernapasannya tersumbat, ia seperti mengalami struk tiba-tiba yang melemahkan seluruh jaringan tubuh dan membuat ranselnya terjatuh begitu saja, tanpa ia bisa menahannya. Pria itu, pria yang memberikannya bunga azalea, pria yang seminggu ini tidak mengunjungi toko bunga ibunya, ada di hadapannya sekarang. Dengan santai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans putihnya, tetapi kali ini tidak terlihat seperti seorang pengusaha muda, kemeja hitam pas badan dengan lengan yang dilipat sampai siku melekat di tubuhnya yang kekar. Cho Kyuhyun, pria yang membuat pikirannya berkecamuk tersenyum manis memandangnya saat ini.

KYUHYUN`S POV

 
Gadis yang secara tidak langsung aku lamar satu minggu yang lalu berdiri di hadapanku sekarang, wajahnya tegang namun pipinya merona merah. Ransel yang ia letakkan di bahunya tiba-tiba terjatuh tanpa ia sadari. Aku melangkah pelan mendekatinya, menarik bahunya mendekat ke arah tubuhku dan melingkarkan kedua lenganku ke punggungnya, atau bisa kujelaskan dengan mudah, aku memeluknya. Merasakan wangi bunga lili yang menguar dari tubuhnya, menghembuskan napas lega di lehernya, bahwa akhirnya aku menemukan tubuh yang tepat, tubuh gadis yang terlihat kuat namun aku tau ia mengalami masa kelam yang membuatnya bersikap dingin pada semua orang kecuali Ibunya. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang dalam pelukanku. Aku melepaskan tubuhku darinya dan mensejajarkan wajahku dengan wajah cantik sekaligus angkuh yang bisa dia tunjukkan dalam waktu yang bersamaan. Mata tajamnya tak berkedip sedikitpun, hanya bola matanya yang bergerak menatapku seakan menanyakan ‘apa yang baru saja kau lakukan padaku?’. Aku hanya tersenyum menanggapi, mengulurkan tangan untuk merapikan poninya yang sedikit berantakan, dan mengambil ranselnya yang terjatuh. Aku menggenggam tangan kanannya, mengaitkan jari-jariku di tangannya dan mengajaknya berjalan menuju mobilku.
“Kau merindukanku, Na~ya?” Sedikitpun matanya tidak lepas memandang wajahku, jadi kuajukan pertanyaan yang justru membuatnya salah tingkah, tindakan yang sangat jarang dilakukan olehnya mengingat sifat dinginnya yang akut.
 
“Tidak.” jawabnya cepat, mengalihkan wajahnya dengan segera. Aku terkekeh pelan.
 
“Aku merindukanmu, sangat merindukanmu.” jelasku. Dia menghentikan langkahnya. Aku mengernyit heran.
 
“Ada apa?” tanyaku. Yoona menunduk, meremas tanganku sedikit, menggigit bibir bawahnya dan menatapku kembali. Aku terhenyak melihatnya melakukan tindakan-tindakan seperti itu, walaupun raut wajahnya tetap seperti biasa, tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.
 
“Kau pergi kemana? Kenapa tiba-tiba pergi seenaknya dan datang mendadak seperti ini? Apakah ini sifatmu yang sebenarnya?”
Aku menaikkan kedua alisku, dia mengajukan pertanyaan atau mengejekku? Aku tertawa pelan.
 
“Aku pergi ke Jepang, menemui klien dan para investor perusahaan. Maaf tidak memberitahumu.”
 
“Ibuku bilang kau seorang direktur perusahaan. Lalu bagaimana kau mengenalku?”
 
Aku mengulum senyum sambil mencubit pipinya, dia mengerucutkan bibirnya kesal.
 
“Sebaiknya kita cari tempat yang lebih nyaman untuk berbicara, kau tidak mau jadi tontonan seperti ini kan?”
 
Dia membelalakkan matanya kaget. Kepalanya bergerak ke kanan dengan cepat dan melihat sekumpulan mahasiswi sedang menatapnya sangsi, heran dan seakan tidak percaya. Aku tau gadis ini terkenal dengan sifat ketusnya dan pandai beladiri, jadi pria mana yang berani berdekatan dengannya seperti ini. Aku melihat dengan malas sekumpulan mahasiswi lain yang terang-terangan memandangku dengan kagum, apa mereka tidak melihat aku sedang menggenggam tangan seorang gadis?

+++

-Kona Beans, Apgujeong, Seoul-
 
16:40 PM
 
“Cho Corporation?” Gerakan tangannya terhenti ketika ia hendak meminum Cappicunonya.
 
Aku mengangguk dan tersenyum.
 
“Kau sangat ingin bekerja disana bukan?”
 
“Aku tidak percaya kau direktur perusahaan disana, Kyuhyun-ssi.” Aku mengerutkan keningku, dia masih memanggilku dengan embel-embel ssi? “Kenapa kau memanggilku dengan panggilan seformal itu, Na~ya?”
 
“Lalu?” tanyanya dingin.
 
“Kita sudah sedekat ini dan hentikanlah sifat dinginmu itu.”
 
“Jadi aku harus memanggilmu apa?” tanyanya, tidak menanggapi permintaanku.

“Mmm, bagaimana kalau yeobo?”
 
Dia tersedak dan aku buru-buru melepaskan cangkir besar yang dipegangnya.
 
“Kau gila?” pekiknya.
 
Aku tertawa pelan. Memangnya aku salah apa?
 
“Aku hanya memintamu untuk memanggilmu seperti itu, kau keberatan?”
 
“Jangan harap!”
 
“Benarkah? Tapi kau tau? Kau banyak menunjukkan sikap yang selama ini kau sembunyikan dari orang lain kepadaku hari ini.”
 
Dia terbatuk pelan, mengalihkan wajahnya ke samping. Aku hanya tersenyum memandangnya. Mmm, rasanya sangat bahagia, bahwa aku melihat sisi sifatnya yang lain, bahwa aku cukup berhasil untuk menarik perhatiannya.
 
“Okelah. Aku hanya bercanda. Kau bisa banggil aku Hyun oppa.”
 
“Kau mengenalku dari mana?” tanyanya. Aku menghembuskan napas pelan, sepertinya aku akan banyak bicara jika sudah berhadapan dengannya. Rasa ingin tahunya cukup besar kan?

“Kau masih ingat Cho Corporation pernah mengadakan perlombaan web design untuk merancang produk baru agar terlihat menarik?”
 
“Itu satu tahun yang lalu bukan?”
 
“Benar. Dan kau menjadi peserta termuda saat itu.”
 
“Tapi aku tidak berhasil.”
 
“Aku juga tidak peduli dengan hasilnya, itu bukan pekerjaanku dalam menyetujui design produk baru, aku lebih memilih untuk menilai fungsi, manfaat, kualitas, efisiensi dari setiap produk yang akan dikeluarkan di pasaran. Jadi, aku melihatmu pertama kalinya disana, peserta yang duduk sendirian di pojok ruangan.”
 
Yoona tersenyum tiba-tiba, memperlihatkan deretan giginya yang putih, dan entah mengapa kali ini aku yang mendadak kehilangan cara untuk menarik napas dengan benar, seakan oksigen menghilang tanpa diduga dan aku hampir sekarat karenanya.
 
“Dan apa yang kau lakukan setelah itu? Bukankah kau bilang kau baru melihatku untuk pertama kalinya setelah satu bulan mengunjungi toko bunga Ibuku?” tanyanya.
Aku menghembuskan napas pelan. Kenapa aku jadi seperti remaja yang pertama kali jatuh cinta? Dan parahnya, pikiranku benar, bahwa aku sama sekali tidak pernah jatuh cinta sebelum bertemu dengan gadis ini.
 
“Mencari tahu tentangmu. Semuanya. Selama satu tahun. Tentu saja untuk menyembunyikan identitasku. Kau kan sangat sulit dekat dengan seorang pria.” Dia mengerjapkan matanya bingung.
 
“Selama satu tahun? Untuk apa?”
 
“Mempersiapkan diri agar kau menerimaku di hidupmu. Dan itu tidak mudah bukan?”
 

To Be Continued

26 thoughts on “I Am Interested In You -1st-

  1. Wah gk nyangka ternyata kyuhyun udh suka sama yoona udh lama juga yah..
    Aku kira tadi diawal pas yoona nolak lelaki aku kira itu kyuhyun loh..
    Ternyata bukan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s