Bittersweet | Chapter 7 – End

Tittle : Bittersweet Chapter 7 – End

Author : Ririw/Riri

Main Cast :

  • Im Yoona as Lee Yoona
  • Cho Kyuhyun
  • Seo Joo Hyun/Lee Joo Hyun a.k.a Seohyun

Support Cast :

  • Lee Jinki a.k.a Onew as Yoona brother
  • Kwon Yuri
  • Lee Taemin
  • And other

Genre : Romance,Family,Angst

Rating : PG-13

Length : Chapter

Disclaimer : This story is my own mind. Cast belong’s god. Plagiator Not allowed !!

Poster by : J.Joker , jeongmal gomawo eonni buat poster yang waw ini *.*

Bittersweet Chapter 7 – End 

Yoona membuka matanya, berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk. Gambar pertama yang ditangkap retinanya adalah sebuah ruangan serba putih. Tangannya terasa berat, ia menoleh. Yoona mendapati ayahnya sedang tertidur di tangannya, ia hanya memandang ayahnya. Kemudian ia teringat kejadian malam itu, semuanya terjadi begitu cepat. Tangannya bergetar membuat ayahnya terbangun.

“Kau sudah bangun?” tanya Mr. Im, Yoona sedikit tersentak mata ayahnya sembab. Ia tak pernah melihat ayahnya menangis, kecuali ketika ibunya meninggal.

“Berapa lama appa? Berapa lama aku…”

“4 hari,” potong Mr. Im.

“Selama itu?”

“Ya, hampir 5 hari jika kau tak bangun sekarang,” suara Mr. Im serak, seperti terlalu banyak menangis?

Kemudian hening, tak ada yang memulai percakapan. Keheningan ruangan itu, ditemani dengan suara deru nafas dari keduanya. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Yoona masih sibuk memperhatikan ayahnya, memperhatikan matanya yang sembab. Memperhatikan lingkaran hitam yang terlihat jelas itu, menelisik lebih dalam mata sayu yang ada di depannya kini.

Appa menyayangiku?” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Yoona memecah keheningan di sana, ia juga tak tahu mengapa kalimat itu bisa meluncur dari mulutnya.

Mata sayu Mr. Im memandang Yoona dengan tatapan nanarnya, “Tentu saja.”

“Seberapa besar?” pertanyaan yang entah berasal dari mana itu terus keluar dari mulut Yoona.

Mr. Im tertegun, ia hanya memandang putrinya itu, “Tentu saja itu tidak bisa dihitung.”

“Apakah appa lebih sayang Seohyun?” Yoona menunduk, entah kenapa pertanyaannya kini terlalu memojokkan ayahnya.

“Kau terlalu banyak berbicara, lebih baik istirahat lagi. Kau baru sadar,” Mr. Im mengelus kepala Yoona lembut.

“Aku tahu jawaban appa,” Yoona menaikkan selimutnya, ia sudah tahu jawabannya.

“Tentu saja appa menyayangimu,” Yoona hanya diam dibalik selimut mendengarkan kata-kata selanjutnya, “Sangat menyayangimu.”

Appa menyayangimu dan Jinki lebih dari apapun yang appa miliki di dunia ini.”

“Kau adalah sosok pengganti, sosok yang menggantikan eomma di samping appa,” mata Yoona tertutup, tapi ia mempertajam pendengarannya.

Appa tak ingin kehilanganmu, seperti appa kehilangan eommamu.”

Kemudian Mr. Im berdiri, mengecup singkat dahi Yoona dan meninggalkan ruangan tersebut. Mata Yoona masih tertutup sampai suara pintu tertutup terdengar, Yoona membuka matanya. Ia merenungkan perkataan Mr. Im, ia kenapa? Kenapa ayahnya berkata tidak ingin kehilangannya? Seolah-olah ia akan pergi meninggalkan ayahnya. Dan juga, kalau Mr. Im menyayanginya, kenapa dia menikah lagi? Teka-teki itu terus memenuhi pikiran Yoona dan satu lagi ia akan pergi?

Apakah aku benar-benar akan pergi?

***

Kedua orang yang tengah duduk itu bercengkrama dengan keheningan. Tak ada yang membuka percakapan, seolah keheningan itu adalah hal yang paling indah untuk diajak bercengkrama. Merasa tak akan ada percakapan jika salah satu dari mereka tak memulainya, akhirnya sang pria membuka suara karena ia yakin perempuan yang ada di sampingnya ini tak akan membuka percakapan sekarang.

“Aku ingin berbicara sesuatu denganmu,” Kyuhyun membuka percakapan diantara mereka berdua.

“Apa? Katakan saja Oppa,” balas perempuan yang ada di sampingnya, Seohyun.

Kyuhyun kembali terdiam, ia bingung untuk mengungkapkannya. Di satu sisi, ia tak ingin melukai perasaan perempuan yang notabenenya adalah tunangannya sendiri dan sekarang duduk di sampingnya. Di sisi lain ia tak ingin membohongi perasaannya sendiri, membohongi perasaan sendiri sama saja menghancurkan hatinya secara perlahan-lahan.

“Sebenarnya aku ingin mengakhiri pertunangan ini, aku sudah bosan bermain peran.”

Seohyun hanya membisu, sebenarnya pertunangan ini telah berlangsung selama 2 bulan. Tapi baru 4 hari yang lalu pertunangan ini diumumkan kepada orang lain selain keluarga dan pada saudara tirinya, Yoona. Dan ia juga tak menyangka, Kyuhyun hanya memanggap ini sebagai sebuah skenario. Meskipun memang benar karena ini telah direncanakan dan Kyuhyun bermain peran dalam skenario tersebut bersamanya. Tapi ia tak pernah menganggapnya seperti itu, karena ia mencintai pria yang duduk di sampingnya itu.

“Aku benar-benar sudah bosan hidup dalam kebohongan meskipun aku selalu berusaha mencintaimu,” lanjut Kyuhyun, sedangkan Seohyun masih dalam kebisuan, berusaha menjadi seorang pendengar yang baik.

“Perkataanmu dulu memang benar, hidup itu hanyalah sebuah skenario yang berusaha kita mainkan,” Kyuhyun menghembuskan nafasnya pelan, “Tapi aku benar-benar tak ingin bermain peran dalam skenario yang ini, skenario yang sedang aku jalankan bersamamu.”

“Dulu aku hanya menuruti saja apa perkataan appaku, aku tak berani membantahnya atau lebih tepatnya aku tidak bisa. Tapi lagi-lagi perkataanmu benar, hidup itu pilihan dan kita harus memperjuangkan pilihan kita jika pilihan tersebut sulit untuk dijangkau.”

“Lalu sekarang aku harus bagaimana?” tanya Seohyun pelan.

“Kita akhiri saja pertunangan ini,” kata-kata yang menurut Seohyun sangat pahit dan tabu untuk ia dengarkan kini terucap begitu saja dari mulut Kyuhyun.

“Kalau itu yang terbaik, aku hanya bisa menurutimu Oppa.”

“Maafkan aku, jika ini menyakitimu. Aku benar-benar tak pernah bermaksud menyakitimu,” Kyuhyun masih memandang lurus dengan tatapan kosongnya.

“Itu tak masalah, aku akan menerima semuanya,” asalkan Oppa bahagia, lanjut Seohyun dalam hatinya.

“Kau memang orang yang baik, karena itu aku tak pantas untukmu,” Kyuhyun tersenyum tipis.

“Jangan pernah berkata seperti itu Oppa, justru aku yang tak pantas untukmu,” karena aku tak memiliki cintamu, lagi-lagi Seohyun melanjutkan kalimatnya di dalam hati.

“Sekali lagi, jika aku benar-benar menyakitimu, maafkan aku.”

“Kau tak perlu meminta maaf Oppa, tak ada yang salah disini.”

“Kalau begitu, segera kejarlah apa yang kau inginkan Oppa,” Kyuhyun tak pernah memberitahu Seohyun apa keinginannya. Namun, Seohyun mengetahui semuanya tanpa harus diberitahu.

“Aku benar-benar minta maaf dan gomawo,” Kyuhyun pun pergi meninggalkan Seohyun yang masih menatap punggungnya yang terus menjauh.

“Semoga kau bahagia Oppa,” Seohyun memandang nanar punggung Kyuhyun yang semakin tak terlihat.

***

“Kau itu, makanya jaga kesehatan,” omel Onew. Sekarang ia, Yuri, dan Taemin sedang berada di ruang rawat Yoona.

“Dan kau juga harus mau dibawa ke dokter,” Yuri menyambung omelan Onew.

Sejak ibunya meninggal, Yoona malas untuk pergi ke dokter apalagi ke rumah sakit. Ia benar-benar tak mau, seolah hal itu dapat membangkitkan kenangan buruk dalam hidupnya. Jika membujuk Yoona ke dokter, butuh segala cara agar ia mau. Ketika sakit, hanya Kyuhyun yang bisa membujuknya untuk pergi ke dokter dan memakan obat. Mereka tak pernah tahu kenapa, yang bahkan Onew dan ayah Yoona sendiri tak bisa membujuknya.

“Kau juga tak usah pura-pura kuat jika memang sedang sakit,” Onew seakan belum puas mengomeli adiknya itu.

“Dan kau tak usah menyembunyikannya pada orang lain,” Yoona hanya mengangguk-angguk saja setelah Yuri dan Onew selesai mengomelinya.

“Apalagi jika penyakit itu parah,” ucap Taemin, tapi kemudian ia tersadar dan merutuki kebodohannya. Sementara Onew dan Yuri menatap tajam Taemin dan seolah berkata kenapa-kau-mengatakan-hal-itu.

“Parah? Memangnya penyakitku apa?” Yoona memandang ketiga orang yang ada di sana, memandang penuh harapan agar ia mengetahui apa yang sekarang terjadi pada dirinya sendiri sementara Taemin hanya merutuki dirinya sendiri.

“Tidak, Taemin hanya mengada-ada saja,” Onew tersenyum dan Yoona dapat mengartikan senyum milik Onew, terlihat seperti terpaksa dan menyembunyikan sesuatu.

“Benar itu, Taemin hanya mengada-ada saja. Benar kan?” Yuri memandang Taemin dan bibirnya bergerak tanpa bersuara seolah berkata cepat-katakan-iya.

Ne, benar Yoong. Tadi aku hanya mengada-ada saja, percayalah padaku,” Yoona masih diam, ia tak mudah untuk mempercayai ini semua.

“Kata dokter kau hanya mimisan biasa, kemarin itu juga karena kau kelelahan,” Yuri mulai mengeluarkan alasan-alasan agar Yoona percaya.

“Kau juga sibuk dengan urusanmu selama di Jepang, Nara bilang kau mengikuti banyak kegiatan dan jadwal kuliahmu padat. Jadi kau kelelahan,” lanjut Onew.

Yoona masih menangkap gelagat aneh dari mereka semua, mata mereka seperti mengatakan bahwa sebenarnya mereka berbohong. Yoona terus menatap ketiganya agar ia mengetahui semuanya tanpa ada sedikitpun kebohongan. Ia benar-benar membenci kebohongan, terlebih lagi kebohongan itu beralasan karena tak ingin menyakitinya atau apalah.

Tapi pada akhirnya kebohongan itu akan menjadi bom waktu yang akan meledak sewaktu-waktu. Seperti yang terjadi pada ibunya dulu, ayahnya dan semua orang berusaha menutupi semuanya darinya agar ia tak merasa terbebani. Tapi pada akhirnya bom itu meledak, ibunya meninggalkan semua orang termasuk dirinya.

“Sebaiknya kau istirahat, kita berbicara terlalu banyak. Nanti kau kelelahan,” Onew menyuruh Yoona untuk tidur dan menyelimuti Yoona.

Yoona hanya menurut, ia kemudian menutup matanya. Kemudian ia mendengar pintu tertutup, Onew, Yuri, dan Taemin meninggalkan ruangannya. Tapi ia sedikit penasaran, ia mendengar orang yang berbicara di depan ruang rawatnya tapi ia tak tahu isi percakapan itu. Karena rasa penasaran yang sangat tinggi, akhirnya ia memutuskan untuk menguping.

Yoona menyibakkan selimutnya dan bangun, mengambil infus yang tergantung di samping tempat tidurnya. Ia berjalan ke arah pintu dan menempelkan telinganya. Ia berusaha mendengar percakapan yang terjadi di depan ruang rawatnya. Ternyata memang benar, percakapan itu sedang membahas dirinya.

“Taemin-ah, sudah kubilang jangan bilang pada Yoona,” suara Onew terdengar dari balik pintu.

“Maafkan aku hyung,” kini suara Taemin terdengar olehnya.

“Sudahlah Onew, Taemin tidak sengaja. Ia juga tidak menyebutkan apa penyakit Yoona,” suara Yuri juga ikut terdengar.

“Tapi Yoona hampir saja mengetahuinya.”

“Itu baru hampir Onew, Yoona tidak benar-benar mengetahui ini semua.”

“Taemin, kau jangan sampai kembali hampir mengatakan itu di depan Yoona. Setidaknya kita masih harus mencari waktu yang tepat.”

“Baiklah hyung.”

“Setidaknya kita masih mempunyai waktu sebelum Yoona benar-benar mengetahui semuanya Onew-ah.”

Kemudian terdengar suara langkah kaki, langkah kaki itu semakin menjauh. Yoona masih bersandar pada pintu ruang rawatnya, mencerna semua percakapan yang ia dengar. Dugaannya benar, ada yang disembunyikan darinya. Dan itu adalah tentang penyakitnya, bahkan ia tak bisa mengetahui penyakitnya sendiri. Sebenarnya ia kenapa?

***

Yoona masih berada di rumah sakit dan sampai saat ini ia masih mempertanyakan apa sebenarnya penyakit yang sekarang ia derita. Ia masih teringat percakapan Onew, Yuri, dan Taemin dua hari yang lalu. Mereka bertiga selalu dengan mudahnya mengelak jika Yoona bertanya tentang penyakitnya dan kenapa ia belum bisa pulang ke rumah dan kembali ke Jepang karena ia masih harus menyelesaikan kuliahnya.

Tapi ada juga sisi menguntungkannya, Kyuhyun mengunjunginya setiap hari. Membawa bunga dan mengganti bunga yang kemarin ia bawa di vas yang ada di meja sebelah tempat tidur Yoona. Sebenarnya Yoona sedikit aneh dengan perubahan sikap Kyuhyun, tapi mungkin karena ia sudah lama tak bertemu dengannya, 6 tahun dan ia tak berada di samping Kyuhyun.

Yoona tak pernah benar-benar tahu apakah Kyuhyun mengetahui tentang penyakitnya. Namun jika ia bertanya pada Kyuhyun, pria itu selalu bilang tidak tahu atau mengalihkan pembicaraan mereka. Yoona merasa nyaman Kyuhyun berada di sampingnya setiap hari. Tapi ia menyadari Kyuhyun sudah bukan lagi miliknya, pemilik dalam artian adalah seorang sahabat. Ia masih ingat bahwa Kyuhyun bertunangan dengan Seohyun.

Berbicara mengenai Seohyun, beberapa kali Seohyun mengunjunginya di rumah sakit. Tapi sikapnya masih seperti biasa, tetap dingin meskipun sekarang tak sedingin dulu. Ia sudah lelah bersikap acuh, karena sekarang ia merasa sakit. Sakit karena Seohyun telah merebut semuanya, meskipun Yoona tahu bahwa ayahnya lebih menyayanginya.

Namun ketika semuanya telah terungkap, yang menurutnya adalah sebuah bom waktu. Ia tak akan pernah tahu apa yang terjadi setelahnya. Ketika ia penasaran dengan penyakitnya, ia malah terjebak dalam dua pikirannya sendiri. Di satu sisi ia merasa takut untuk mengetahui semuanya, di sisi lain ia benar-benar penasaran karena ini adalah penyakitnya sendiri dan tidak lucu jika ia tidak mengetahuinya.

Sampai akhirnya, waktu mengantarnya pada kebenaran. Kebenaran yang selama ini Yoona cari, penyakitnya. Sebuah hal yang memang tidak sengaja, tapi membuatnya tahu kebenaran yang sebenarnya. Penyakitnya benar-benar tak main-main, ia tak pernah menyadari itu. Ia selalu menganggap itu hal yang ringan ketika ia sering mimisan dengan alasan yang tak jelas. Ia mendengar kebenaran itu ketika tak sengaja melewati ruangan dokter dan pintu ruangan itu terbuka menampakkan Mr. Im yang sedang berbicara dengan seorang dokter.

“Separah itukah dok?” tanya Mr. Im.

“Kurasa tidak jika ini diketahui sejak awal, semuanya telah terlambat tuan.”

“Tak adakah cara lain?”

“Kita hanya perlu mencari sumsum tulang yang cocok untuk putri anda, dan kita harus mendapatkannya secepat mungkin.”

“Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak cocok, kakaknya tak cocok, semua orang terdekatnya tak memiliki sumsum tulang yang cocok dengan Yoona,” Mr. Im menghembuskan nafas berat, “Apakah penyakit itu benar-benar diderita Yoona?”

“Benar tuan, hasil pemeriksaan mengatakan seperti itu. Gejala-gejala yang diderita putri anda ketika saya berbicara dengannya dua hari yang lalu, sebelum hasil pemeriksaan keluar. Ia sering mimisan, cepat lelah dan akan merasa lemas jika terlalu lelah, putrimu berkata jika ia lelah, teman-temannya berkata bahwa ia sangat pucat dan nafasnya tak beraturan.”

“Baiklah aku percaya, tapi adakah cara lain untuk mengobatinya atau mungkin membuat umurnya sedikit lebih lama?”

“Jalan terakhir adalah dengan menunggu sampai tulang itu datang, tapi harus secepatnya. Penyakit putri anda tidak main-main, bukan hanya penyakit leukemia biasa atau leukemia akut yang bisa diatasi dengan kemoterapi dan bisa bertahan hingga 1 tahun atau bahkan lebih tetapi penyakit putri anda leukemia akut. Apabila penderita leukemia akut tak segera mendapatkan pendonor secepatnya, ia hanya bisa bertahan hanya dalam hitungan minggu atau bahkan hanya dalam hitungan hari.”

“Lalu bagaimana lagi? Kenapa ia bisa menderita penyakit yang sama seperti penyakit yang diderita ibunya dulu,” suara Mr. Im bergetar, ia menahan agar dirinya tak menangis.

“Kita hanya perlu keajaiban sekarang.”

Yoona menutup matanya, ia tak pernah menduga separah ini. Ia kemudian membuka lagi matanya dan menjalankan kursi rodanya untuk menjauh dari ruangan dokter. Bahkan sekarang ia hanya mengandalkan kursi roda. Yoona memutar roda dan kembali ke ruang rawatnya. Ia kembali duduk di kasurnya, merenungkan semuanya. Hidupnya hanya tinggal beberapa hari lagi.

***

Hari ini ia duduk di kursi taman rumah sakit yang sudah seminggu lebih ini ia tempati. Disampingnya Kyuhyun duduk dengan pesona yang seperti biasa, pesona yang baru Yoona akui akhir-akhir ini. Mereka berdua duduk dalam diam, pikiran Yoona masih pada percakapan ayahnya dan dokter kemarin. Ketakutannya benar-benar terjadi dan bom waktu akan segera meledak, leukemia akut, sebuah penyakit yang ditakutinya. Karena penyakit itulah yang merenggut nyawa ibunya.

“Jangan terus melamun,” ucapan Kyuhyun membuyarkan semua lamunannya.

“Hanya memikirkan nasibku yang begitu naas,” ucap Yoona sambil tersenyum kecil. Dan ia baru mendapatkan fakta baru, Kyuhyun telah mengetahuinya sebelum Yoona.

“Kalau hanya meratapi nasib, semuanya akan berjalan begitu cepat. Kau harusnya semangat dan menikmati waktu,” ujar Kyuhyun, “Juga harus mempercayai sebuah keajaiban dan itu akan datang padamu.”

“Oh ya? Kurasa sekarang keajaiban tak akan datang padaku,” buktinya ayah menjodohkanmu dengan Seohyun bukan aku, batin Yoona.

“Jangan begitu, keajaiban akan selalu datang,” suara Kyuhyun benar-benar meyakinkan, tapi Yoona tak akan benar-benar yakin dengan keajaiban itu.

“Aku benar-benar tak yakin meskipun suaramu benar-benar meyakinkan.”

“Karena aku yakin keajaiban itu datang, makanya suaraku meyakinkan. Aku memang tak bisa berbuat banyak tapi kau boleh meminta apa saja dariku.”

“Aku tak akan meminta apa-apa,” karena yang kuinginkan tak akan pernah bisa kudapatkan.

“Kalau begitu aku akan mengatakan sesuatu,” Kyuhyun menarik nafasnya pelan.

“Tunggu, aku ingin tahu bagaimana dan sejauh mana hubungan Oppa dengan Seohyun sekarang,” potong Yoona.

“Tidak baik,” jawab Kyuhyun.

“Kenapa? Kalian bertengkar ya?”

“Tidak juga, kita sudah tidak bertunangan.”

MWO? Kenapa? Kau menghianati Seohyun? Atau Seohyun menghianatimu?”

“Jawabanmu salah semua, itu karenamu.”

“Aku? Apa salahku? Kurasa aku tak pernah membuat salah apa-apa, aku juga tak pernah ikut campur dalam hubungan kalian.”

“Salahmu adalah membuatku menyukaimu.”

Yoona tertegun, ia berbalik menatap Kyuhyun. Matanya bertemu dengan Kyuhyun, ia memandang mata kecoklatan itu. Ia menatap dalam mata yang ada di depannya ini, mencari kebohongan tentang apa yang didengarnya tadi. Tapi ia tak menemukan itu, apakah itu benar? Ia tak ingin harapan yang lebih dan membuat sisa hidupnya lebih menderita karena terlalu berharap pada Kyuhyun.

“Aku tidak berbohong Yoona-yasaranghae.”

Yoona tersentak kecil, “Aku…aku…”

“Kau tak perlu menjawabnya.”

“Kenapa?” Yoona menatap Kyuhyun bingung.

“Karena matamu sudah mengatakan semuanya Yoong.”

“Memang mataku bisa berbicara ya?” Yoona berusaha mengalihkan rasa gugupnya.

“Kau masih bisa-bisanya membuat lelucon di saat seperti ini.”

“Aku… tak tahu harus bagaimana.”

“Aku sudah mendapatkan jawabanku yang tadi,” Kyuhyun tersenyum kecil.

“Bolehkan… bolehkan aku memeluk Oppa untuk terakhir kalinya mungkin?”

Beberapa detik kemudian tangan Kyuhyun memeluknya hangat, ia menyandarkan kepalanya pada dada Kyuhyun. Ia balas melingkarkan tangannya pada pinggang Kyuhyun, membuat jarak diantara mereka semakin hilang. Kehangatan itu menjalar ke tubuhnya, ia ingin terus berada di posisi seperti ini. Ia berharap waktu berhenti sekarang, membuatnya terbelenggu bersama Kyuhyun. Apalagi ia tahu waktunya tinggal sebentar.

Nado saranghae,” balas Yoona, Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya.

Yoona merasakan kepalanya semakin berat, ia merasa sangat pusing. Pelukannya terasa mengendur, nafasnya sangat berat dan ia merasa sangat sulit untuk bernafas. Pandangannya sendikit mengabur, ia semakin menyandarkan kepalanya pada dada Kyuhyun. Mungkin inilah akhirnya, akhir dari segalanya. Semuanya akan berakhir, nafasnya sudah sangat berat sekarang.

Semua cerita tak harus berakhir happily ever after setelah cerita itu berakhir happy ending. Walau sebuah cerita tak harus berakhir manis dan bahagia selamanya, tapi kini ia merasa bahagia. Skenario miliknya akan berakhir happy ending meskipun tanpa katahappily ever after setelahnya. Ia sudah merasa cukup puas dengan ending skenarionya kini, ia akan tenang dalam pelukan Kyuhyun sekarang. Meskipun menurut orang lainending miliknya sangat pahit, tapi menurutnya ini adalah ending yang sangat manis. Yoona merasakan matanya sangat berat, pandangannya mengabur dan semuanya gelap.

THE END

Gimana? *brb sembunyi di punggung Kyuhyun* Mianhae klo ff ini bener-bener gaje, mainhae klo ada kesalahan. Mianhae klo ada typo (yang itu mungkin selalu ada), mianhae untuk ending yang kurang memuaskan, mianhae untuk semuanya *deep bow*. Hanya itu yang bisa author berikan *cie bahasanya (-_-)*. Big thanks buat yang udah setia komentar dari awal sampai akhir, buat siders, kalian boleh komentar di chapter ending ini, author nggak akan marah kecuali klo kalian nggak komentar sama sekali. Tunggu kelanjutan ff author yang lain dan tunggu ff baru author yang lain :D

Dan oh iya, author butuh bantuannya nih, author kan ikutan writing competition, nah kalian bantu author ya. Kalian bisa baca ff aku disini, terus kalian kasih komentar ya ^^, tapi isi komentar itu yang berbobot, jadi kalian kasih kritik dan saran, buat MDR dengan komentar paling berbobot dapet hadiah juga darisana, nah klo mau baca yang lainnya cek disini. Mohon bantuannya ^o^

26 thoughts on “Bittersweet | Chapter 7 – End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s