Sequel Love You, Love Starcraft : ICE CREAM

Tittle : Love You, Love Starcraft

Author : Adele / Cho Youra Yukiko

Main Cast :

  • Im Yoona
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Kwon Yuri
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
  • And other

Genre : Romance,Family,Angst

Rating : PG-13

Length : Oneshoot

Disclaimer : This story insprated from Strawberry Ice Cream Movie.Cast belong’s god. Plagiator and Silent Readers Not allowed !! Love You So Much, Musketeers. :*

Note : word with orange is Yoona memory and pink is flashback.🙂

Yoona POV

 “Kyuhyun-ah, Mianhee. Saranghaeyo. Happy Anniversarry 3rd year, chagi-ah. Walaupun sudah berakhir, aku tetap akan mencintaiimu…” belum aku menyelesaikan ucapanku, aku merasakan Bis ini menabrak sesuatu dan para penumpang yang lainnya berteriak histeris. TUbuhku lemas, apa aku akan mati. Kalau itu benar, TUhan aku mohon. Lindungilah KYuhyunku. Batinku.

“Nona, gwencana?” Tanya seseorang yang menepuk pipiku.
Samar-samar aku melihat orang itu. “Nugu?” tanyaku tanpa suara.
“Aku Choi Minho dari tim SAR. Apa kau nona Im?”
Aku mengangguk pelan. “Nee.” Entah kenapa aku seperti kehilangan suaraku.
Namja bernama Minho itu tersenyum. “Hyung. Aku menemukannya.” Teriaknya. Lalu kembali menatapku. “Bertahanlah. Kami akan membawa anda.”
Aku mengangguk tapi entah kenapa mataku begitu berat. “Nona. Nona. Bertahanlah.” Ujarnya hingga tiba-tiba semuanya gelap.

Author POV

“Yuri-ah.” Panggil Kyuhyun saat mendapati Yuri berada didepan pintu ICU.
Yuri menoleh, menatap Kyuhyun sekilas lalu kembali menunduk.
“Otte?” Tanya Kyuhyun.
Yuri menghela nafas. “Molla.” Jawabnya lemah.
“Sudahlah chagi. Jangan terlalu dipikirkan.” EUnhyuk mencoba menenangkan istrinya itu.
“Kau memang tidak tahu rasanya.” Sentak Yuri dan membuat kedua namja itu terdiam.
“Annyeong Haseyo.” Sapa namja tampan dengan pakaiannya yang cukup kotor.
Kyuhyun, Eunhyuk dan Yuri mendongak. “Annyeong.”
“Apa kalian keluarga nona Im?” Tanyanya.
Ketiganya mengangguk. “Nee.”
Namja itu tersenyum. “Naneun Choi Minho imnida. Dari tim SAR.”
“Kau yang menemukan saengku?” tebak Yuri.
Minho mengangguk. “Nee. Aku menemukannya tadi sore. Bagaimana keadaannya?”
Yuri menggeleng. “Sedari tadi dokter belum keluar.”
Kyuhyun sedari tadi menatap Minho dengan tatapan sinis. ‘Ada apa namja ini kemari?’
Tidak berapa lama seorang namja berjas putih dan berkacamata keluar dari ruangan tersebut. “Apa kalian keluarga pasien?” tanyanya.
Semuanya mengangguk terkecuali Minho. “Saya kakaknya, dok.” Jawab Yuri cepat dari Kyuhyun.
Dokter itu tersenyum. “Semua ini Mukjizat dari Tuhan. Adik anda dalam keadaan baik-baik saja. Karena pasien terlalu banyak meminum air sungai dan itu membuatnya sedikit kehilangan kesadaran tapi selain itu pasien baik-baik saja.”
Mendengar itu semua orang yang disana bernafas lega. Yuri memeluk Eunhyuk erat.
“Kalau begitu saya permisi dulu.” Terang dokter tersebut.
Semuanya mengangguk. “Nee.”

*****

Yoona mengerjapkan matanya pelan. Berlahan namun pasti mata indah itu terbuka. “Eodiga?” gumamnya pelan bahkan berbisik. Membuat Kyuhyun yang sedari tadi duduk disebelahnya mendongak dan menatap Yoona. “Kau sudah bangun?” tanya Kyuhyun lembut.
berlahan Yoona menduduki tubuhnya diatas ranjang lalu menoleh menatap Kyuhyun dengan tatapan sendu. “Nuguya?” tanyanya dengan tatapan kosong dan sukses membuat namja putih pucat itu tersentak.
“Yoona-ah.” Panggil Yuri yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Kau sudah sadar?” tanyanya mendekati Yoona lalu mengelus kepala Yoona yang diperban.
Yoona menatap Yuri dengan tatapan bertanya. “Eonni, nuguya?” tanyanya sambil menunjuk kearah Kyuhyun.
Yuri ikut tersentak mendengar perntanyaan itu. “Kau tidak mengenalnya?” tanya Yuri lembut.
Yoona menggeleng pelan. “Memangnya dia siapa?”
Yuri tersenyum mengelus saengnya itu. “Dia Cho Kyuhyun, Namjachigumu.”
Yoona diam lalu menatap Kyuhyun dari atas sampai bawah. “Kau, bukannya sunbae yang suka bermain games itu?” tebak Yoona dan membuat sebuah senyuman dari wajah Kyuhyun.Dengan cepat Kyuhyun mengangguk.
“Annyeong Haseyo, sunbaenim. Senang berkenalan denganmu.” Sapa Yoona.
Kyuhyun dan Yuri saling bertatapan dan menghela nafas. “Lebih baik kau bicara dengan dokter.”
Terdengar suara pintu terbuka, Eunhyuk dan Minho masuk kedalam ruang rawat.
“Yoona sudah sadar?” Tanya Eunhyuk yang begitu melihat Yoona yang duduk diatas kasur. Semuanya menoleh kesumber suara. “Eunhyuk oppa.” panggil Yoona senang.
Eunhyuk mengeluarkan senyum gusinya lalu memeluk Yoona. “Kau tahu kami bertiga begitu merindukanmu.” Terang Eunhyuk.
“Bertiga?”
Eunhyuk melepaskan pelukannya. “Nee. Bertiga, aku, eonniemu dan Kyuhyun.”
Yoona menoleh kearah Kyuhyun. “Kau merindukanku? Bukankah kita baru kenal hari ini.” Terang Yoona pada Kyuhyun.
Semuanya terdiam menatap keduanya bergantian. “Apa maksudnya?” bisik Eunhyuk pada Yuri.
“Aku juga bingung. Mungkin Yoona amnesia tapi hanya Kyuhyun yang terlupakan.” Balas Yuri.
“Annyeong, Nona Im.” Sapa Minho sopan.
Yoona menoleh menatap namja imut itu. “Minho-ssi, kau juga disini.” Terang Yoona senang lalu menepuk kasur agar Minho duduk didekatnya. Eunhyuk, Yuri dan Kyuhyun kembali tersentak.
“Lebiih baik anda memanggil dokter?” bisik Minho pada Kyuhyun saat melewati namja itu.

Kyuhyun berdiri menyender disebrang pintu ruang rawat. Tubuhnya begitu bergetar. Namja itu menangis. Melihat itu Eunhyuk mendekati saengnya itu lalu menenangkannya. “ini hanya untuk sementara.”
“Bahkan dia hanya melupakanku.” Ucap Kyuhyun.
“Sudah. Ini masih awalnya, Kyu. Kita akan membantunya untuk mengembalikan ingatannya.”
“Kenapa dia mengenal Minho hyung? Padahal kita baru mengenalnya hari ini. Tapi lihatlah sikapnya, ia begitu menginginkan Minho didekatnya bukan aku.”
Eunhyuk menghela nafas. Lalu dokter keluar dari ruang rawat Yoona. Dengan cepat Kyuhyun menghapus air matanya. Ia tidak ingin dianggap orang terlalu cengeng.
Eunhyuk mendekati dokter tersebut. “Ottohke dok?”
Dokter tersebut menghela nafas. “Pasien mengalami amnesia ringan. Ia akan melupakan kejadian sebelum kecelakaan tersebut bahkan ia akn melupakan orang-orang yang ikut menjadi pelaku kejadian tersebut.”
“Ja-jadi dia melupakanku.” Terang Kyuhyun.
Dokter mengangguk lemah. “Karena anda selalu bersamanya sebelum kejadian tersebut dan mungkin juga karena anda selalu ada didalam pikirannya. Kalau begitu saya permisi. Annyeong.”
Eunhyuk membungkuk hormat namun tidak bagi Kyuhyun. Ia begitu terpukul. Seminggu kehilangan yeoja itu tapi setelah ditemukan yeoja itu melupakannya begitu saja.
“Ayo masuk.” Ajak Eunhyuk. Kyuhyun hanya mengikuti Eunhyuk dengan langkah lemah.
“Jadi kau hobi bermain basket?” Tanya Yoona antusias sambil memegang ponsel milik Minho. Minho hanya mengangguk.
‘Apalagi ini Tuhan?’ batin Kyuhyun. Ia merasa sesak begitu melihat yeojachingunya dengan namja lain. Chakkaman? Yeojachigu? Bukankah dia sudah menyetujui ajakkan Yoona untuk putus. Tapi sudahlah, itu hanya sebuah emosi.
“Kalau aku sudah sembuh. Kau mau mengajariku bermain basket?” tawar Yoona pada Minho.
Minho yang terlihat cagung mengangguk. “Tentu saja.” Choi Minho, namja itu tidak enak pada Kyuhyun. Namja manapun pasti merasakan apa yang Minho rasakan saat dalam posisi Minho kali ini.
“Kau bilang kau adalah Tim SAR tapi kenapa kau bekerja di Choi corp.” terang Yuri tiba-tiba.
Minho menatap Yuri lalu tersenyum. “Aku hanya menggantikan Jjong hyung. Aku kasihan padanya yang begitu lelah.”
“Kau anak yang baik, eoh.” Terang Yoona mengacak rambut Minho. Minho terkekeh. “Tentu saja.” Jawab Minho mengeluaran aegyonya.
“Ya. Jangan mengeluarkan aegyomu itu.” rengek Yoona lalu membuat keduanya terkekeh.
Disisi lain, Kyuhyun melihat adegan itu dan sukses membuatnya sesak. Cemburu. Namja itu sangat cemburu.

****

“Bagaimana keadaan Yoona?” Itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh para karyawan pada Yuri, Kyuhyun dan Eunhyuk. Sayangnya Kyuhyun tidak menjawabnya. Menurutnya Yoona tidak dalam keadaan baik, bagaimana menjadi baik? Yoona bahkan tidak mengenalnya sama sekali.Syukurlah Yuri dan Eunhyuk mengerti perasaan namja itu.
“Aku dengar Yoona amnesia?” Tanya Luhan sinis tepat didepan meja Kyuhyun.
Kyuhyun mendongak dengan tatapan sinisnya lalu kembali pada laptopnya. “Bukan urusanmu Xi Luhan.” Ujar Kyuhyun.
Luhan tersenyum sinis. “Takdirmu begitu menyeramkan. Yeojachingumu sendiri tidak mengenalmu. Malangnya.”
Kyuhyun hanya diam dan terus melakukan kegiatannya.
“Cih, jangan sok tegar Cho Kyuhyun. Aku tahu perasaanmu sekarang. Hancurr… Berkeping-keping.”
Kyuhyun naik pitam dengan cepat ia menarik kerah kemeja Luhan. “Sudah ku kataka ini bukan urusanmu dan jangan ikut campur masalahku.” Bentak Kyuhyun membuat semua orang dikantor itu menatap mereka.
“Kyuhyun-ah.” Eunhyuk meleraikan mereka. “Sudahlah.” Terangnya lalu menatap Luhan. “Pergilah.”
Luhan membenarkan kerah bajunya lalu pergi begitu saja.
“Kau kenapa? Jangan terpancing emosi, Kyu.”
Kyuhyun memijat pelipis matanya. “Aku tidak kuat hyung.”
“Kyu, ini hanya untuk sementara. Aku yakin ingatan Yoona akan kembali lagi.” Eunhyuk mencoba menguatkan saengnya itu.
“Sampai kapan hyung? Sampai kapan aku harus melihat Yoona bergelut manja dengan Minho. Kau tau betapa hancurnya aku melihat itu semua.”
Eunhyuk hanya terdiam. Sejujurnya, ia tidak begitu mengerti apa yang dirasakan namja itu.

Kyuhyun POV.

Aku masuk kedalam ruang rawat Yoona. Aku melihatnya duduk diatas kursi sambil mengganti Channel TV. “Kau bosan?” tanyaku dan membuatnya menoleh.
“Sunbae?” panggilnya. “Ada apa sunbe kesini?” tanyanya lemas. Mendengar itu aku hanya tersenyum hambar.
“Aku hanya ingin menjengukmu.” Terangku sambil menaruh sebuah kotak makanan.
Aku mendengar Yoona menghela nafas. “Kukira Minho yang datang.” Ucapnya lemah dan membuat hatiku sakit.
“mungkin dia sibuk.” Jawabku lalu membuka kotak makanan itu. “Mau makan siang bersamaku?”
Yoona menatap makanan yang ku bawa. “jjangmyeon.” Teriaknya senang dan membuatku tersenyum.
“Wah, sunbae tau saja. Aku menyukai ini.”
Aku mengetahui semuanya tentangmu Im Yoona.batinku. Aku memperhatikannya yang sedang makan dengan lahap. “Sunbae tidak makan?” tanya Yoona.
Aku tersenyum. “Aku hanya ingin melihat kau makan.” Terangku.
Yoona mengerucutkan bibirya lalu membuka kotak makan itu dan menyiapkan sumpitnya. “Makanlah. Bukankah makan berdua terlihat lebih akrab.” Terangnya.
Aku tersenyum lalu mengambil sumpitku. “Baiklah. Sepertinya kau sangat memaksa.” Terangku dan sukses membuat Yoona tersenyum senang.
Aigoo, melihat senyuman itu untukku. Betapa senangnya aku.

“Ini.” Aku menyerahkan PSPku.
Yoona menatapku. “Untuk apa?”
Aku tersenyum. “Itu PSP untuk menemanimu saat kau bosan.”
“Gomawo.” Ucapnya senang dan sibuk bermain PSP.
“Yoona-ah.” Panggil seseorang dari arah pintu. Kami berdua menoleh dan mendapati Minho datang. Minho masuk lalu membungkuk melihatku.
“Kenapa lama sekali?” rengek Yoona.
Minho mengaruk tekuknya. “Mianhee, tadi pekerjaan di kantor sangat banyak dan Hyungku itu tidak mengizinkanku pulang cepat.”
“Hyungmu itu tidak pernah muda ya?” terang Yoona mengerucutkan bibirnya.
Minho tersenyum lalu mengacak rambut Yoona. “Memangnya kenapa?”
“Apa dia tidak tau kalau aku merindukanmu?” terang Yoona polos dan membuat aku dan Minho bertatapan. Aku menghela nafas lalu mengangguk. Seperti mengizinkan Minho.
“Kau merindukanku? Kau yakin?” canda Minho mengalihkan kecagungan kami.
Yoona mengangguk. “Untung saja Kyuhyun sunbae menemaniku dari makan siang. Lihat, sunbae memberiku PSP.”
“Wah. Kau beruntung sekali. Boleh aku meminjamnya?” terang Minho.
Yoona menyembunyikan PSPnya itu. “Shirreo. Sunbae memberikan ini untukku bukan untukmu.”
Aku tersenyum mendengarnya, setidaknya ia masih menghargai pemberianku.

“Yoona hari ini pulang.” Terang Yuri saat kami makan siang.
“Kau akan menjemputnya Kyu?” tanya Eunhyuk hyung.
Aku mengangguk. “Tentu saja.” Jawabku santai sambil menyantap makananku.
“Shirreo. Biar Minho saja yang menjemputnya.” Ujar Yuri membuatku tersentak.
“wae? Kenapa tidak Kyuhyun? Kyuhyun adalah namjachingu Yoona.”
Yuri menatapku sinis. Sepertinya dia masih kesal denganku. “Itu dulu. Sebelum Yoona kecelakaan.” Ucap Yuri sinis.
Aku menghela nafas. “Yuri-ah, kau masih marah denganku? Bukankah aku sudah meminta maaf padamu.”
“Apakah semudah itu kau meminta maaf? Kau tahu bagaimana keadaanya sekarang. Syukurlah Tuhan membuatnya melupakanmu. Aku tidak ingin saengku menangis karenamu.” Jelasnya lalu beranjak meninggalkan kami berdua.

Author POV

“Chakkaman.” Terang Yoona pada Minho tepat didepan pintu apartmentnya. Yoona menekan kode passwordnya berkali-kali tapi pintu tidak terbuka.
“Waeyo?” tanya Minho.
Yoona mengaruk kepalanya. “Aku terus memasukkan kode yang salah.”
“Coba lagi?”
Yoona menggeleng. “Tidak bisa Minho.”
“Coba telpon Yuri. Mungkin dia tahu nomornya.” Terang Minho dan membuat Yoona mengangguk sambil mengeluarkan ponselnya.
“Eonnie-ah,  apa eonni tau kode apartmentku? 3003? Tanggal apa itu? Oh, arraseo. Gomawo eonnie-ah. Saranghaeyo.”
“Kajja.” Ajak Minho saat pintu sudah terbuka.
Yoona tersenyum lalu masuk kedalam apartment.
“Wah, apartmentmu rapi sekali.” Terang Minho melihat sekitar.
Yoona hanya tersenyum lalu berjalan menuju kamarnya. “Taruh saja barangnya disana.” Suruh Yoona pada Minho lalu menuju ke dapur. Tapi langkah Yoona terhenti setelah mendapati sebuah pigura photo yang bergambar dirinya bersama Kyuhyun yang hendak berciuman dengan posisi Yoona mencubit hidung namja itu di Namsan Tower. “Kenapa ada photoku bersama Kyuhyun sunbae?” gumam Yoona. Memori-memori sebelumnya teringat kembali di kepala Yoona.

 “Baiklah kalau itu pilihanmu. Kita pisah.”
“Silahkan saja. Aku akan mencari yeoja yang bisa menerimaku apa adanya.”
Airmata mendorong  untuk keluar tapi sekuat tenaga Yoona menahannya untuk turun. Hingga sebuah bis bernomor 30 datang.
“Bismu telah datang. Pergilah dan berhati-hati, karena aku tidak ingin mendengar kabar tentang kecerobohanmu.”

Yoona menatap Yuri dengan tatapan bertanya. “Eonni, nuguya?” tanyanya sambil menunjuk kearah Kyuhyun.
Yuri ikut tersentak mendengar perntanyaan itu. “Kau tidak mengenalnya?” tanya Yuri lembut.
Yoona menggeleng pelan. “Memangnya dia siapa?”
Yuri tersenyum mengelus saengnya itu. “Dia Cho Kyuhyun, Namjachigumu.”

Tubuh Yoona bergetar. Kepalanya pusing. “AUW.” Pekiknya keras dan membuat Minho kaget. Yoona terduduk ditempatnya sambil memegang kepalanya.
“Yoona-ah, gwencanayo?” Tanya Minho.
Tiba-tiba Yoona memeluk Minho erat. “Aku takut. Jangan tinggalkan aku Minho.”
Minho mengelus rambut Yoona. “Gwencana. aku akan disampingmu.” Terang Minho lalu mengecup pelan puncak kepala Yoona.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Kyuhyun tepat saat Minho keluar dari kamar Yoona.
“Gwencana. Dia baik-baik saja.” Terang Minho tak melepaskan senyumannya. “Kyuhyun hyung. Ada yang ingin kusampaikan padamu.” Lanjut Minho.

Kyuhyun POV.

Aku meneguk minuman kalengku yang kedua. Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Ap a itu benar-benar keinginannya?

“Kau ingin bicara apa?” tanyaku pada Minho.
“Izinkan aku untuk menjaga Yoona.” Jawabnya.
Aku tersentak. “Apa maksudmu?”
“Aku menyukai Yoona? Izinkan aku untuk menjaganya. Aku mohon.” Pintanya.
“Apa kau gila? Aku kekasihnya.”
Minho menghela nafas. “Aku tahu. Tapi saat ini Yoona sama sekali tidak mengingatmu. Aku mohon izinkan aku menjaganya dan aku berjanji akan membantunya untuk mengingatmu. Kyuhyun-ssi, aku mohon.”

Aku menghela nafasku. Dadaku sesak. Kenapa harus seperti ini? Kenapa Yoona kembali bukan menjadi lurus bahkan semakin berkelok. Apa ini karma untukku? Karma karena terlalu banyak menyakiti Yoona hanya demi pekerjaan dan Gamesku. Kalau itu benar. Aku menyerah Tuhan, aku menyerah. Aku hanya menginginkan Yoona bahagia. Bahagia bersamaku bukan dengan namja lain.

“Yoona sudah sehat?” tanya seseorang membuatku mendongak dan melihat Yoona tampak ramah dengan karyawan lain. Aku tersenyum melihat keadaannya. Memang sudah satu minggu ini aku tidak menemuinya. Aku hanya memberikan waktu untuk hatiku.
“Annyeong Sunbae.” Sapanya padaku kali ini.
Aku tersenyum. “Annyeong. Bagaimana keadaanmu? Sudah sehat?”
Yoona mengangguk. “Lumayan dari sebelumnya tapi hanya sering pusing mendadak.”
“Kenapa tidak kedokter?” tanyaku cemas.
Yoona menggeleng. “Aku tidak ingin merepotkan Minho.”
Aku mengerutkan dahi.
“Setiap hari dia selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Jadi, aku tidak ingin merepotkannya.”
Aku menghela nafas. Anak itu ternyata benar-benar serius. “Bagaimana kalau kau kutemani setiap check up?” tawarku.
“Jinjja? Sunbae mau?”
Aku mengangguk. “Tentu saja.”
Yoona membungkuk hormat. “Gomawo sunbae. Kalau begitu aku mulai bekerja.”

Sedari tadi aku sering memperhatikan Yoona. Padahal sebelumnya sekalipun aku belum pernah memperhatikannya selama bekerja karena bagiku meskipun ada pacarmu dalm satu ruangan, kau harus fokus pada tujuan awalmu. Tapi sepertinya komitmen itu akan menghilang. Buktinya saja dalam sehari ini aku terus memperhatikannya berkali bahkan selalu tertangkap basah olehnya.

“Kyu, lihat. Yoona sedari tadi memperhatikanmu.” Terang Ryeowook, teman sebelahku.
Aku hanya tersenyum tanpa memperdulikannya.
“Kau beruntung sekali, Kyu.
Yoona itu seperti dewi. Semua orang pasti ingin memiliki kekasih seperti Yoona. Aku iri padamu.” Terangnya.
“Ya. Ryeowook-ssi kita sedang dalam kantor. Jadi, bahaslah masalah kantor saja.”
“Aiish. Namja ini, selalu saja begitu. Lihat saja nanti, suatu saat kau yang akan berbalik memperhatikan Yoona.” Ucapnya.

Aku hanya tersenyum miris mengingat itu. Ryeowook benar. Akhirnya aku yang memperhatikan Yoona.
“Kka, makan siang?” Eunhyuk hyung menepuk pundakku.
“Bertiga?” tanyaku.
“Berempat. Bersama Yoona tentunya.” Jawab Yuri cepat langsung berjalan kearah Yoona.
Kamipun berjalan berempat. “Bagaimana hari pertamamu?” Tanya Eunhyuk hyung pada Yoona.
“Menyenangkan tapi aku sedikit risih oppa.” Jawab Yoona.
“Waeyo?” Tanya Yuri sambil membuka pintu restoran.
“Semua karyawan selalu bertanya denganku bagaimana hubunganku dengan Kyuhyun sunbae? Mereka juga menceritakan kalau Kyuhyun sunbae sangat kehilanganku saat aku menghilang.” Jawabnya lalu duduk ditempat kami biasa duduk. Aku terdiam lalu tersenyum miris.
“Kau mau pesan apa?” Tanyaku mengalihkan perhatiannya.
Yoona tampak berpikir. “Aku ingin mie Ramen.” Jawabnya dan sukses membuat kami bertiga kaget. Bukankah dia tidak menyukai ramen.
“Yoong? Kau kenapa? Tiba-tiba ingin ramen.” Terang Yuri.
Yoona mengeluarkan cengirannya. “Aku ingin mulai menyukai apa yang Minho sukai. Berhubung Minho suka ramen, aku akan belajar menyukainya.” Terangnya santai.
AKu menghela nafas. Kenapa semakin sakit? APa Yoona sengaja membuatku cemburu?

“Kau menyukai Seafood?” Tanyanya  padaku saat kami makan malam diluar.
Aku mengangguk. “Semua jenis seafood, aku menyukainya.”
Yoona mengangguk. “Kalau begitu, aku akan mulai menyukainya juga.”
Aku mengernyitkan dahi. “Untuk apa?”
Yoona mengenggam tangannku. “Aku akan mulai belajar apapun yang kau sukai meskipun awalnya aku tidak menyukainya.”
Aku tersenyum lalu mengacak rambutnya. “Gomawo.” Ucapku tulus.
Yoona tersenyum hingga matanya yang indah itu tak terlihat. Ia tersenyum tulus untukku.

“Kau tidak ingin pesan ice cream? Biasanya kau memesan itu.” Saran Eunhyuk hyung ketika pelayan itu pergi meninggalkan kami.
Yoona menggeleng. “Minho akan mengantarkannya untukku.”
“Ya. Kau ini kebiasaan sekali menyuruh orang.” Amuk Yuri menjitak kepala Yoona.
“Ya. Eonni, appo.” Rengeknya sambil menghelus kepalanya. “Aku tidak menyuruhnya. Dia yang menawarkan diri ketika kami bercerita tentang satu sama lain.”
“Dasar namja bodoh.” Sindir Yuri.
“Eonni-ah. Jangan menyindir nae namjachingu, eoh.” Rengeknya dan sukses menohok hatiku. Namjachigu? Jadi mereka sudah jadian. Sumpah demi apapun. Apakah ini mimpi?
“Aku keluar sebentar. Sepertinya Minho sudah ada didepan.” Terang Yoona membuatku tersadar.
“Kalian tahu tentang ini?” tanyaku pada pasangan suami istri itu.
Eunhyuk hyung dan Yuri hanya menggeleng. Aku memijat pelipisku. “Kenapa jadinya seperti ini?”
“Annyeong, hyung, noona.” Sapa Minho pada kami.
“annyeong Minho-ah.” Sapa Yuri ramah. Aish, dia berpihak padaku atau pada Minho.
“Bergabung dengan kami.” Ajak EUnhyuk hyung.
Minho menggeleng. “mian…”
“Dia lebih memilih makan siang bersama hyungnya.” Potong Yoona cepat. Minho hanya mengeluarkan senyuman sungkannya. “Pergilah. Bukannya kau hanya ingin menyapa mereka.” Rajuk Yoona.
“Chagi-ah.” Rengek Minho dan itu membuatku benar-benar muak.
“Pergilah. Aku ingin makan. Hyungmu itu sudah menunggumu.” Yoona duduk kembali ditempatnya.
“Arraseo. Kalke.” Minho mengecup pipi Yoona cepat. Dadaku sesak, kenapa mereka harus bermesraan didepanku. Aku bisa merasakan Yuri dan EUnhyuk hyung menatapku.

Author POV.

‘Eodi?’ Yoona mengirim pesan tersebut pada Minho. Sesekali ia melirik jam tangannya. “Namja itu kemana?” gumamnya sendiri. Tidak berapa lama terdapat balasan dari Minho.
‘Aku masih dikantor. Apa kau sudah sampai?’
Yoona menghela nafas. ‘Aku sudah sampai dari dua jam yang lalu.’ Yoona terus setia menunggu. “Kenapa dia selalu telat?” gumam Yoona.

“Kau sudah menunggu lama?” Tanya Kyuhyun menghampiri Yoona.
Yeoja itu mendongak lalu berdiri. “Kkaja. Aku bosan disini.”
Kyuhyun mengacak rambut yeojanya itu. “Baiklah kajja.”

Yoona merasakan kepalanya kembali sakit. “Appo.” Pekiknya kesakitan.
“Nona, gwencana.” Tanya orang-orang yang melihat Yoona.
“Wae?Wae?” tanya seseorang yang berusaha melihat kejadian tersebut. “Yoona-ah.” Panggilnya.
Yoona mendongak. “Sunbae.” Panggilnya sambil menangis.
Kyuhyun duduk disebelah Yoona lalu memeluk yeoja itu untuk memberikannya ketenangan. “Kepalaku sakit, sunbae. Sangat sakit.”
Melihat itu semua orang-orang perg meninggalkan keduanya yang masih berpelukkan. “Gwencana, aku disini. Aku akan menjagamu.”

Yoona berdiri didekat jendela unuk menikmati pemandangan Seoul yang begitu mendung. Hingga terdengar sambaran petir yang menggelegar. “Arrgh.” Teriaknya ketakutan lalu terduduk dibawa jendela.
“Yoona-ah.” Pangil Kyuhyun saat mendengarkan teriakkan dari kekasihnya.
“Hiks.Hiks. Aku takut.” Yoona menangis terisak. Tubuhnya gemetar, yeoja cantik itu takut petir.
Kyuhyun mencari asal isakkan itu. “Chagi-ah.” Panggilnya saat mendapat Yoona.
“Kyuhyun-ah.” Panggil yeoja itu lalu memeluk kekasihnya. “Aku takut.”
“Gwencana, aku disini. Aku akan menjagamu.”
Yoona menangis dipelukkan Kyuhyun hingga yeoja cantik itu terlelap dipelukan Kyuhyun.
Kyuhyun memperhatikan wajah kekasihnya itu. sesekali ia membenarkan anak rambut Yoona. “Yeppeo.” Gumamnya pelan.

“Kau kemana saja? Kau tau Yoona menunggumu.” Marah Kyuhyun tepat saat ia membukakan pintu untuk Minho.
“Mianhee hyung. Aku sibuk mengurus urusan kantor.”
“Kau memintaku untuk mengizinkanmu menjaga Yoona, tapi kau malah sibuk dengan pekerjaanmu. Apa aku bisa percaya denganmu.” Amuk Kyuhyun.
“Hyung, bukankah hyung dulu lebih mementingkan games daripada Yoona. Lebih baik Hyung memeriksa diri terlebih dahulu.” Balas Minho dengan nada tak kalah tinggi. Kyuhyun terdiam. Keduanya saling melempar tatapan tajam.
“Jangan samakan aku dengan dirimu, Choi Minho. Kau tidak tahu apa-apa tentangku.”
“Aku tahu tentang kau, hyung. Aku tahu semuanya. Lebih baik hyung keluar dari apartment Yoona.”
“Kau mengusirku.” Bentak Kyuhyun.
“Ya. Aku mengusirmu. Sekarang kau dan Yoona tidak ada hubungan sama sekali dan sekarang aku adalah namjachingu Yoona. Aku berhak mengusir siapapun yang bisa menganggu Yoona.”

Yoona POV

Aku masuk kedalam kantorku dan mencari Kyuhyun sunbae.
“Sunbaee.” Panggil didepan mejanya.
Kyuhyun sunbae mendongak lalu tersenyum melihatku. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya.
Aku tersenyum. “Sedikit membaik. Kenapa sunbae meninggalkanku?”
Kyuhyun sunbae mengernyitkan dahinya. “Bukankah ada Minho? Aku pulang tepat saat Minho datang.”
“Jinjja? Tapi dari semalam dia belum menghubungiku.” Jelasku heran.
Kyuhyun sunbae tersenyum. “Yoona-ah, bisakah kau jangan memanggilku sunbae?”
“Baiklah, aku akan memanggil oppa. Kyuhyun oppa.”
“Shirreo. Aku hanya ingin kau memanggilku Kyuhyun.”
“Waeyo?” tanyaku heran. “Bukankah semua namja ingin dipanggil oppa? Awalnya aku juga ingin memanggil Minho dengan oppa tapi berhubung kami seumuran, aku tidak ingin memanggilnya itu.”
Kyuhyun sunbae anie maksudku Kyuhyun tersenyum. “Aku hanya ingin dipanggil nama saja.”
Aku menggeleng. “Panggil nama saja itu tidak special.” Jawabku sambil berpikir. “Bagaimana dengan Gamekyu? Bukankah sunbae menyukai games.”
“Anything for You.” Ujarnya terkekeh.
“Aku ke mejaku dulu, sunbae eh Gamekyu oppa.”
“Nee. Selamat bekerja” ucapnya.

“Minho tidak mengantarkan es krim untukmu?” Tanya Eunhyuk oppa saat kami makan siang.
Aku hanya menggeleng. “Sunbae, besokkan hari sabtu. Bisakah sunbae menemaniku check up? Aku ingin menanyakan tentang yang kemarin.” Ajakku tapi Kyuhyun tidak menyautnya. “Ya. Aku bicara denganmu.” Terangku.
“Bukankah kau sudah berjanji sesuatu padaku?” tanyanya.
Aku menepuk jidatku lalu menyengir. “Mianhee, aku lupa Gamekyu.” Terangku.
Kyuhyun mengacak rambutku. “Itu baru anak pintar.”
“Kalian mulai akrab?” terang Yuri eonni.
Kami berdua mengangguk.

Author POV.

“Keadaan nona Im cukup membaik.” Terang sang dokter.
“Lalu dok, kenapa akhir-akhir ini aku sering sakit kepala.” Tanya Yoona yang baru saja turun dari ranjang periksa.
“Itu tandanya, ingatanmu kembali pulih.”
“Ingatan?” Tanya Yoona heran.
Dokter menatap Kyuhyun yang menggeleng tanda agar dokter tidak memberi tahu sesuatu.
“Anie. Kau hanya lebih butuh istrahat.” Sang dokter mengalihkan perhatian.
Yoona tersenyum. “Okei bosa.” Terang Yoona memberi hormat.

“Kita mau kemana?” Tanya Yoona pada Kyuhyun.
Kyuhyun tampak berpikir. “Aku ingin mengajakmu ke Namsan Tower.”
“Wah. Jinjja? Bukankah itu tower yang banyak gembok.”
Kyuhyun mengangguk. “Aku ingin menghabiskan waktu denganmu.”
Yoona menatap Kyuhyun yang menyetir. “Sepertinya saat pertama kali bertemu dirumah sakit, kau kelihatan sangat sedih.”
“Jinjja? Apa benar-benar terlihaat.”
Yoona mengangguk. “Matamu bengkak. Kau tau, itu mengurangi charisma yang kau punya. Bagaimana yeoja ingin mendekatimu.”
Kyuhyun tersenyum hambar. ‘Aku tidak membutuhkan charisma itu tapi aku hanya membutuhkanmu Im Yoona.’ Batin Kyuhyun

“Kita ke Namsan Tower, eoh.” Terang Kyuhyun pada Yoona.
“Jinjja? Bukankah itu tower yang banyak gembok.”
Kyuhyun mengangguk. “Aku ingin menaruh gembok dengan nama kita disana.”
Yoona tersenyum. “Sepertinya kau serius padaku?” yoona menggoda Kyuhyun.
“Tentu saja. Aku ingin kau yang akan menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku. Kau tahu, aku begitu mencintaimu.”
“Kau merayuku?”
Kyuhyun mengacak rambut Yoona. “Apa itu yang kau pikirkan?”
Yoona mengeluarkan cengirannya. “Dipiranku, kau tidak sekedar merayu.”

“Ya.Ya. kenapa kuncinya dibuang?” ujar Yoona mencoba menghalangi Kyuhyun melemparkan kunci tapi sayang, Kunci itu sudah terbang jauh.
“Wae? Kau mau membukanya suatu saat nanti.” Kyuhyun memanyunka bibirnya.
“Bukannya begitu, aku hanya ingin membuat kunci itu menjadi liontin kalung yang kau berikan.” Terang Yoona sambil memegang kalungnya.
Mendengar itu Kyuhyun tersenyum. “Tapi aku lebih memilih untuk membuangnya. Itu tandanya, meskipun kita tidak bersama lagi, kita masih terikat dari gembok itu dan aku yakin kita akan kembali bersama.”
Yoona mendekatkan wajah kearah Kyuhyun lalu mencubit hidung mancung namja itu. “Kau romantis sekali.” Gumam yeoja itu. –klik-.
Tanpa Yoona sadari Kyuhyun memotret adegan mereka.
“Ya.” Yoona memukul pundak Kyuhyun.
Kyuhyun mengeluarkan smirknya sambil menahan tangan Yoona. “Popppo.”
Yoona membulatkan matanya lalu Kyuhyun mengecup bibir Yoona dengan lembut. That Their First Kiss.

“Jadi, di Namsan ini kalian berciuman pertama kali?” terang Yoona pada Kyuhyun saat keduanya berbaring di kap mobil Kyuhyun.
“Begitulah.” Jawab Kyuhyun seadanya.
“Lalu kemana dia sekarang? Kenapa kau tidak mengenalkannya padaku?”
Kyuhyun tersenyum miris. ‘Kau orangnya, nona Im.’ Batin Kyuhyun.
“GameKyu-ah, jawab pertanyaanku.” Rengek Yoona.
“Entahlah dia dimana.”
“Ya, kau ini. Aku sedang serius.”
Kyuhyuun terkekeh mendengar Yoona begitu memaksa. “Dia selalu ada didekatku tapi dia tidak mengenaliku.”
“Apa kecelakaan itu sangat parah ?”
Kyuhyun mengangguk. “Karena kejadian itu, dia hilang ingatan dan melupakanku. entahlah, aku merasakan dia bukan seperti yang kukenal.”
Yoona menepuk pundak Kyuhyun. “Kau harus bersabar. Ini hanya masalah waktu saja.”
Kyuhyun memandang Yoona lekat lalu tersenyum. “Tentu saja aku akan melakukannya. Karena aku hanya mencintainya dan menyesali sikapku.”
“Lalu kalau dia kembali menjadi dirinya, kau akan melakukan apa?”
Kyuhyun memandang langit-langit. “Aku akan mengubah sikapku sepenuhnya. Aku akan melupakan gamesku dan akan focus hanya padanya, menuruti semua keinginannya.”
“Sepertinya kau begitu mencintainya?”
Kyuhyun mengangguk. “Begitulah. Aku baru menyadarinya ketika ia pergi jauh dariku.”
“Andai saja, Minho sama sepertimu. Aku yakin, aku jadi yeoja yang paling bahagia karena mendapatakan namja yang begitu mencintaiku.”
Mendengar itu Kyuhyun hanya menghela nafas. “Apa kau tidak menyadarinya Nona Im?” batin Kyuhyun perih.

Yoona masuk kedalam apartmentnya dan menemukan Minho sedang menonton tvnya. Berlahan Yoona berjalan lalu memeluk leher Minho dari belakang. “Bogoshippo.”
“Kau darimana?” Tanya Minho tanpa mengalihkan pandangannya dari televise.
“Jalan-jalan.” Jawab Yoona santai lalu duduk disebelah Minho. “Kau menungguku lama?”
“Kau pergi bersama Kyuhyun hyung?” Minho mengalihkan pembicaraan.
Yoona mengangguk. “Aku kasihan padanya.”
Minho menoleh menatap kekasihnya itu.”Waeyo?”
“Dia punya yeojachigu tapi yeoja itu tidak mengenalinya sama sekali. Bukankah nasibnya malang sekali padahal dia begitu mencintai yeoja itu karena aku bisa melihat tatapannya saat bercerita yang begitu sedih.”
Minho menahan nafasnya. Rasa bersalah menjelajari tubuhnya. ‘Apa aku harus mengalah?’
“Minho-ah, aku seperti sangat mengenal yeoja itu.” terang Yoona dan sukses membuat Minho keringat dingin. “Sepertinya itu aku.” Lanjut Yoona dan sukses membuat namja itu tersentak.
“Darimana kau bisa merasakan itu?” Tanya Minho takut-takut.
“Entahlah tapi aku selalu teringat kejadian yang disana ada Kyuhyun dan aku bersama dan itu selalu membuat kepalaku sakit.”
“Lebih baik, kau tidur saja. Bukankah kau lelah.” Minho mengalihkan perhatian Yoona lalu menuntun yeoja itu menuju kabarnya.

Yoona sibuk mengetik tepat saat sewadah ice cream chocomint  diatas mejanya. Yoona mendongak lalu tersenyum melihat orang yang mengantarkannya. “Kyuhyun-ah.” Panggilnya.
Yang dipanggil tersenyum sumrigah. “Ice cream?” tawarnya.
Yoona mengangguk. “Mau makan bersama?” ajaknya.

“Rasanya enak.” Terang Yoona sambil menyuapi ice cream ke mulutnya.
“Tentu saja. Yeojaku sangat menyukai rasa ini.” Terang Kyuhyun.
“Jinjja? Wah, sepertinya aku akan menyukai rasa ini juga.” Ujar Yoona semangat.
Kyuhyun mengangguk. “Say AAA.” Pinta Kyuhyun Kyuhyun sambil menyodorkan sendok.
Yoonapun membuka mulutnya. “AAA.”
“Anak pintar.”  Kyuhyun mengacak rambut Yoona sambil tersenyum dan membuat yeoja itu terdiam sejenak. Entah kenapa tiba-tiba saja jantung yeoja itu berdebar cukup kencang.
Yoona tertawa garing untuk menghilangkan kecagunggannya.
“Bagaimana hubunganmu dan Minho? Lancar?” ujar Kyuhyun cuek sambil memakan ice creamnya.
Yoona hanya mendesah. “Entahlah, akhir-akhir ini dia sering marah tidak jelas.”
Kyuhyun mengepalkan tangannya tepat saat Yoona mengucapkan itu. “Marah? Kenapa?”
Yoona mengangkat bahunya. “Entahlah. Mungkin masalah di kantornya.”
“Kalian sedang berkencan?” terang Eunhyuk yang baru datang. Keduanya mendongak lalu tersenyum sungkan. “ANIE/NEE.” Terang Kyuhyun dan Yoona serentak. Keduanya saling bertatapan lalu terkekeh bersama. “Nee. Kami sedang berkencan. Jadi lebih baik Hyung pergi dan jangan menganggu acara kami. Kkka..” Kyuhyun mendorong tubuh Eunhyuk.
“Ya.Ya. Kau dongsaeng kurang ajar.”

“Jauhi Kyuhyun hyung.” Terang Minho ketika ia dan Yoona sedang makan malam berdua.
“Apa maksudmu Minho?” Yoona menatap namja itu lekat. Ia tidak mengerti kenapa namja itu melarangnya untuk berdekatan dengan Kyuhyun.
“Aku tidak menyukai kau berdekatan dengan Kyuhyun hyung.” Jawab Minho.
“Wae? Kenapa kau tidak menyukainya? Kau cemburu padanya? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” pertanyaan Yoona yang bertubi-tubi itu membuat Minho kesal.
“Kataku jauhi ya Jauhi.” Bentak Minho.
Tiba-tiba terlintas memori-memori Yoona di masa lalu.

“Kataku tidak ya tidak.” Ujar Kyuhyun dengan nada tinggi.
“Ini pekerjaanku Cho Kyuhyun. Kau saja bisa bermain games sesukamu kenapa aku tidak bisa pergi sesukaku.”
“Kau menyamakannya dengan games. Tentu saja berbeda, karena…”
“Karena games bagimu adalah segalanya.” Potong Yoona cepat lalu berjalan keluar apartment Kyuhyun tanpa menghiraukan teriakkan dari namja itu.

Yoona memegang kepalanya. “Auww.” Pekiknya menahan sakit.
“Yoona-ah.” Minho beranjak dari kursinya lalu berjalan mendekati Yoona. “Gwencanayo?” tanyanya.
Yoona tidak menjawab, kepalanya begitu sakit.
“Yoona-ah.”
Yoona mendorong tubuh Minho hingga namja itu terjatuh. “kka.” Pintanya.
“Chagi..”
“KKA.” Pekiknya lalu berjalan menuju kamarnya sambil memegang kepalanya tapi belum sampai dikamarnya Yoona pingsan begitu saja.

****

Kyuhyun berlari menelusuri koridor rumah sakit. Pikirannya begitu kalut. Baru saja ia mendapatkan telpon dari dokter yang merawat Yoona. Ia mengibaskan gorden pembatas pasien berkali-kali tapi hasilnya nihil. Saat ia membuka gorden pembatas terakhir, nafas lega keluar dari hidungnya. Ia tersenyum ketika mendapati yeoja yang begitu dikhawatirkannya itu sedang tertidur diatas ranjang. Berlahan Kyuhyun mendekati Yoona. Memandangi wajah malaikat milik yeoja yang begitu dicintainya itu.

“Apa saat operasi aku akan merasakan sakit?” Tanya Yoona pada Kyuhyun saat keduanya berada diruang rawat.
Kyuhyun menggeleng sambil menyuapi kekasihnya itu sepotong apel. “Tentu saja tidak. Nanti kau akan dibius, chagi.”
Yoona hanya tersenyum sambil mengunyah apelnya.
“Makanya kau jangan terlalu banyak makan pedas.” Terang Kyuhyun menyentil hidung Yoona.
Yoona mengeluarkan cengirannya. “arraseo.arraseo.”

“Tidak akan sakitkan?” Tanya Yoona sambil mengenggam tangan Kyuhyun ketika mereka diperjalanan menuju ruang operasi.
Kyuhyun membalas genggaman tangan Yoona sambil menggeleng. “Percaya padaku. Itu tidak akan sakit dan waktu akan sangat cepat.”
Yoona tersenyum. “Kau akan disampingkukan saat aku sadar.” Terang Yoona.
Kyuhyun mengangguk. “Tentu saja. Aku akan selalu ada disampingmu.”

“Gamekyu-ah.” Panggil Yoona pelan saat mendapati Kyuhyun mengenggam tangannya erat.
Kyuhyun mendongak lalu mengeluarkan senyumannya. “Kau sudah sadar?”
Yoona mengangguk. “Kau akan tidur disini?”
Kyuhyun mengangguk. “Aku akan menemanimu. Tidurlah.”
Yoona tersenyum. “Kyuhyun-ah.” Panggilnya.
“Nee.”
“Izinkan aku untuk menggantikan yeojamu itu.” pinta Yoona dan membuat Kyuhyun tersentak lalu mengangguk.
“Nee. Sekarang lebih baik kau beristirahat. Aku akan menemanimu.”
Yoona mengangguk pelan lalu memejamkan matanya.  Tanpa keduanya sadari dari balik gorden pembatas seorang namja mendengar semua perkataan mereka.
‘Aku akan mengalah.’ Batin namja itu.

“Nee. Arraseo. Jaga dia baik-baik eoh, setelah pulang kantor kami akan kesana.” Ujar Eunhyuk yang sedang berbicara diponselnya.
“Nugu?” tanya Yuri.
“Kyuhyun. Hari ini dia tidak bisa masuk.”
Yuri mengernyitkan dahinya. “Waeyo?”
“Dia akan menjaga Yoona. Semalam Yoona pingsan sekarang sedang di rumah sakit.” Ujar Eunhyuk santai.
“Ya. Kenapa tidak memberitahuku? Aku ini eonninya.” Amuk Yuri pada suaminya.
“Ya. Nyonya Lee,  aku saja baru tahu pagi ini.” Balas Eunhyuk. “Sudahlah. Biar Kyuhyun yang mengurusnya. Apa kau tega melihat Kyuhyun seperti orang tidak ingin hidup? Aku tahu kau masih kesal padanya tapi bukankah dari sikapnya sudah terlihat kalau dia begitu menyesalinya. Sekarang saja dia tidak pernah bermain games lagi.” Cerocos Eunhyuk.
Yuri hanya mendesah mendengar ocehan dari suaminya itu. “arraseo.”

“Apa ini cocok untukku?” tanya Yoona yang baru keluar dari ruang fitting
Kyuhyun mendongak dan terpesona mendapati kekasihnya itu sangat anggun memakai gaun berwarna silver itu. “Yeppeoda.” Ucapnya polos dan membuat Yoona tersenyum malu.
“Wah, Nona cantik sekali.” Terang pegawai itu. “Aku yakin kecantikan calon pengantin akan kalah dengan kecantikan nona kalau nona datang di acara pernikahan.”
“Gomawo, agashi.” Ucapnya.

“Kau kenapa?” tanya Kyuhyun yang sedari tadi memperhatikan kekasihnya yang tampak gelisah.
Yoona menoleh lalu tersenyum. “Gwencana. Aku hanya sedikit gugup.”
Kyuhyun tertawa tertahan. “Gugupp? Kita hanya tamu chagi bukan pengantinnya.”
Yoona memanyunkan bibirnya. “Yang menikahkan juga eonnieku.”
Kyuhyun hanya menahan tawanya. “Arra.arra. Aku mengerti perasaanmu, nona Im.”

Yoona POV

Aku merasakan seseorang mengelus rambutku dengan lembut. Berlahan aku membuka mataku dan mendapati Kyuhyun yang mengelus rambutku. Ternyata dia benar-benar menemaniku.
“Kau sudah bangun?” Tanyanya dan membuatku mengangguk. Aku melihat Kyuhyun menuangkan air putih untukku. “Minumlah.” Suruhnya. Aku meraih gelas tersebut lalu meminum air itu hingga habis.
“Kau perlu beristirahat dan jangan terlalu banyak pikiran.”
Aku mengangguk. “Nee.”
“Aku akan menemani sampai kau pulang.” Terangnya.
Aku mengernyitkan dahiku. “Bagaimana urusan kantor?” tanyaku.
“Gwencana. bukankah aku bisa mengurusnya saat menemanimu.” Ujarnya mengacak rambutku dan membuat jantungku berdebar. Aku memegang kepalaku. Tiba-tiba kepalaku pusing, memori-memori kembali tergambar.

“Aku akan selalu menemanimu.” Ucap seseorang sambil mengacak rambutku.
“Janji?” ujarku mengulurkan jari kelingking.
“Janji.” Ucapnya mengaitkan jarinya.
“Tapi aku tidak ingin kau menemaniku sambil bermain games.” Rengekku layaknya anak kecil.
Orang tersebut mengangguk. “Nee. Aku akan sepenuhnya menemani kekasihku ini.” Terang orang tersebut menyentil hidungku.

“Yoona-ah, waeyo?” Tanyanya dengan nada khawatir.
Mendengar suara itu. Suara itu. Suara mereka sama dengan memori-memori yang ku ingat. Aku menatapnya. “Kau akan selalu menemaniku?” tanyaku spontan.
Kyuhyun tersenyum. “Aku akan selalu menemanimu.” Ucapnya. Suara mereka sama, nada bicara mereka juga sama.
Berlahan aku mengulurkan jari kelingkingku. “Janji?”
Kyuhyun mengaitkan jarinya. “Janji.”
“Kau tidak ingin menemaniku sambil bermain games?” tanyaku hati-hati. Aku memastikan siapa orang yang selalu datang di memoriku.
“Anieya. Aku akan sepenuhnya menemani kekasihku ini.” Ceplosnya dan sukses membuat hatiku mencelos. Dia. Kyuhyun-lah yang selama ini ada di memoriku.
“Yoona-ah.” Panggilnya menggoyangkan tubuhku.
Aku langsung memeluknya erat lalu menangis dipelukannya. “Katakan kalau akulah yeojamu itu? benarkan? Katakan yang sebenarnya Cho Kyuhyun.” Ujarku dalam tangis. Aku yakin ia pasti sangat terkejut dengan sikapku. Berlahan aku merasakan Kyuhyun mengelus rambutku lembut. Tubuhnya bergetar seperti tubuhku, ia membalas pelukanku. “Mianhee.” Ucapnya ikut terisak.
“Mianhee, saat itu aku lebih memilih games daripada dirimu. Mianhee, aku membiarkanmu pergi begitu saja. Mianhee, chagi-ah.” Ucapnya.

Aku menaruh kembali buku tersebut lalu berjalan keluar toko tersebut.
“Mian aku telat.” Ujar Kyuhyun tepat ketika aku keluar dari toko buku.
Aku tidak mengubrisnya dan terus berjalan.
“Yoona-ah. Mianhee.” Terangnya sambil mengikuti langkahku tapi aku masih meneruskan perjalanan. Hingga pada akhirnya Kyuhyun mengentikan langkahku tepat sebelum halte bis.
“Yoong, dengarkan aku.”
Aku menghela nafas “Nee. Cho Kyuhyun.”
“Mianhee.” Ucap Kyuhyun.
“Hmm.” Sahutku
“Aku bangun kesiangan karena semalam aku…”
“Bermain starcraft.” Jawabku cepat dan sukses membuatnya diam. “Aku sudah tahu kebiasaanmu. Bekerja.Games.Bekerja.Games. kapan ada aku di pikiranmu?”
“kau selalu dipikiranku yoong.”
Aku kembali menghela nafas. aku berusaha selalu sabar menghadapi kegilaanya terhadap games tapi sekarang kesabaranku telah habis. “Pilih aku atau gamesmu itu?”
Kyuhyun tersentak. “Kau ini kenapa?
Kenapa tiba-tiba kau seperti ini? Bukankah biasanya kau bisa terima.”
“Aku punya kesabaran, Kyu. Dan hari ini kesabaranku sudah habis.” Jawabku sedikit meninggi.
“Jadi maumu apa?” terang Kyuhyun dengan nada sedikit tinggi.
“Aku atau Gamesmu itu?”
“Kau gila. Tentu saja aku memilih gamesku. Antara kau dan games, aku lebih dulu mengenal games.”
Aku tersentak. Jadi, dia lebih memilih games dari pada aku. “Baiklah kalau itu pilihanmu. Kita pisah.”
“Silahkan saja. Aku akan mencari yeoja yang bisa menerimaku apa adanya.”
Airmata mendorong  untuk keluar tapi sekuat tenaga aku menahannya untuk turun. Hingga sebuah bis bernomor 30 datang.
“Bismu telah datang. Pergilah dan berhati-hati, karena aku tidak ingin mendengar kabar tentang kecerobohanmu.”
Dadaku begitu sesak setelah mendengar ucapannya yang begitu kasar. Aku hendak pergi tapi aku teringat sebuah persiapan yang sudah aku buat di apartmentku. “Baiklah kalau begitu. Kalau kau sempat datanglah ke apartmentku saat makan siang.”
“Aku sibuk. Gamesku semalam masih belum selesai.” Jawab Kyuhyun ketus.
Aku menghela nafas. Sia-Sia. Dia benar-benar lebih memilih games daripada aku. Kuputuskan untuk berjalan menuju bis tapi langkah ku terhenti, “Datanglah bila sempat. Aku akan menunggumu.” Kyuhyun hanya diam. Aku tahu dia sedang kesal sekarang karena didalam hidupnya, siapapun yang menentang hobinya dia akan membenci orang itu. Aku memejamkan mataku lalu masuk kedalam  bis dan masih menatap Kyuhyun yang masih berdiri menatap lurus kedepan.

Kami berdua menangis dalam keadaan saling berpelukkan. Hingga aku merasakan dadaku sesak dan kepalaku begitu sakit. Sangat sakit. Tubuhku lemah tanpa sengaja aku melepaskan pelukanku.
“Yoona-ah. Gwencana?” Kyuhyun menepuk pipiku tapi pandanganku memudar. Samar-samar aku mendengar Kyuhyun berteriak memanggilku namun mataku sukar untuk dibuka.

Author POV.

Kyuhyun duduk dikursi tunggu ruang ICU. Ia mengepalkan tangannya yang begitu dingin. Namja itu takut. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada yeoja yang dicintainya itu. Terdengar suara derap langkah dari arah kirinya.
“Kyuhyun-ah.” Panggil seseorang yang tak lain adalah Yuri.
Kyuhyun menoleh kearah suara. Ia tersenyum miris ketika melihat Yuri dan Eunhyuk datang bersama orang tuanya.
“Gwencana?” Tanya Eunhyuk pada Kyuhyun.
Kyuhyun mengangguk lemah. Nyonya Cho mendekati anak bungsunya itu lalu memeluknya. “Gwencana. Yoona akan baik-baik saja.”
Didalam pelukan ibunya, Kyuhyun menangis. Hatinya begitu sakit. Ia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada Yoona.
“Don’t cry. Semuanya akan baik-baik saja, Kyu.” Terang Tuan Cho menepuk pundak anaknya itu. Ia begitu mengenal sifat anaknya itu. Meskipun ia terkesan cuek dengan sekitarnya tapi hatinya begitu melankolis bila menyangkut orang yang ia cintai.
Terdengar suara pintu ruang ICU itu terbuka. Dokter yang merawat Yoona keluar dengan rasa bersalah.
“Otte dok?” tanya Eunhyuk.
Dokter menghela nafas. “Pasien mengalami koma.” Ucapnya bersalah. Yuri terduduk seketika sedangkan Kyuhyun. Ia mematung seketika.
“Kejadian seperti ini sudah biasa terjadi pada pasien yang mengalami amnesia. Tapi setelah sadar ia akan mengingat kejadian-kejadian yang sempaat terlupakan. Aku harap kalian sabar menunggu.” Ujar Dokter itu menepuk pundak Eunhyuk. “Aku permisi dulu.”

Pintu ruang rawat Yoona terbuka dan mendapati Minho berdiri diambang pintu. Seluruh orang disana menatapnya heran terkecuali Kyuhyun dan pasti Yoona.
Minho menghela nafas lalu mendekati ranjang Yoona. “Bagaimana keadaaanya?”
“Koma.” Ucap Yuri cepat.
Dada Minho sesak mendengarnya lalu ia menatap Kyuhyun yang terduduk menerawang. Wajahnya begitu pucat, lingkar matanya terlihat jelas. Minho tersenyum miris.
“Aku kesini hanya ingin mengatakan kalau aku akan pindah ke Amerika. Hyung mengirimku untuk bekerja disana.”
Semua orang disana menatap Minho termasuk Kyuhyun. Minho tersenyum. “Aku yakin setelah ia sadar. Yoona akan mengingat semuanya kembali. Jadi, aku titip Yoona pada kalian.” Terang Minho lalu ia keluar dari ruangan tapi ia terhenti didepan pintu lalu menatap Kyuhyun. “jangan sakiti Yoona lagi hyung.” Ucap Minho lalu keluar dari ruang rawat Yoona.

****

“Kalau kita menikah, kau ingin punya anak berapa?” tanya Kyuhyun ketika keduanya berdiri dipagar balkon apartment Yoona.
Yoona mematuk dagunya dengan jari. “Dua. Namja dan yeoja oh anie Yeoja dan namja.” Terang Yoona.
“Sama seperti aku dan Ahra noona?”
Yoona mengangguk. “Menurutmu?”
“Apapun yang kau mau, aku akan menyetujuinya.” Terang Kyuhyun mengelus rambut Yoona.
Kyuhyun memeluk Yoona dari belakang lalu menautkan dagunya di pundak yeoja cantik itu. Harum tubuh yeoja itu sukses membuat Kyuhyun semakin menggilainya. “Nanti setelah menikah, kita akan tinggal dirumah yang sudah appa dan eomma siapkan. Jadi kita tidak perlu membeli rumah lagi.” Ujar Kyuhyun.
Yoona mengangguk. “Andai eomma dan Appaku masih hidup. Aku yakin mereka akan bahagia melihatku menikah dengan namja yang kucintai.” Ujar Yoona sambil menahan airmatanya.
Kyuhyun mengecup pipi Yoona. “Kau bisa menganggap appa dan eommaku sebagai orang tuamu. Bukankah mereka akan menjadi mertuamu.”

“Eomma.” Gumam Yoona pelan dan membuat Nyonya Cho yang kebetulan berada disebelah Yoona menatapnya.
“Nee, chagi. Eomma disini.” Bisiknya lembut sembari mengenggam tangan Yoona.
“Eomma.” Gumam Yoona kembali serentak dengan setetes airmata keluar dari mata Yoona.
Nyonya Cho menghapus air tersebut. “Bangun, chagi. Eomma datang untukmu.”
Yoona mengerjapkan matanya berlahan. “Eomma.” Panggilnya yang sekarang melihat Nyonya Cho dengan setia menemaninya.
Nyonya Cho tersenyum. “Kau sudah bangun?”
“Bogoshiepposo.” Ucap Yoona pelan dan membuat Nyonya Cho terharu. “Nado, Yoongie.”
Yoona berusaha tersenyum. Sakit dikepalanya tidak kembali dirasakannya. “Kyuhyun eodi?”
“Aku disini.” Ujar Kyuhyun yang sedari tadi berdiri didepan pintu.
Keduanya menoleh kearah Kyuhyun dan tersenyum.
“Kau sudah sadar?” tanya Kyuhyun lembut sambil mengelus rambut yeoja itu.
Yoona mengangguk. “Kau sendiri? Dimana Appa?”
“Appa sedang mengurus sesuatu, chagi.” Terang Nyonya Cho.
“Lebih baik kau beristirahat.” Suruh Kyuhyun dan membuat Yoona menggeleng. “Aku merindukan eomma. Izinkan aku bercerita dengan eomma. Bolehkan?” pinta Yoona.
Kyuhyun tersenyum. “Nee.”

Kyuhyun POV

Aku mendorong kursi roda Yoona menuju taman rumah sakit.
“Wah. Segarnya.” Ucapnya senang dan membuatku tersenyum.
“Kyuhyun-ah, aku dengar Minho ke Amerika. Apa itu benar?” tanyanya saat aku berhenti mendorong kursi rodanya didekat kursi taman.
Aku mengangguk. “Nee dan dia menyuruhku untuk menjagamu.” Terangku sambil menyentil hidung mancungnya.
“Ya. Berhenti untuk menyentil hidungku.”
Aku terkekeh. “arrayo.”
Yoona mendesah. “Hm.. Aku merindukan Minho.” Ucapnya.
“Ya.” Teriakku. “Kau mengatakan itu didepan kekasihmu.”
Yoona melirikku denga wajah tidak suka. “Siapa yang kekasihku? KAU? Bukankah kita sudah putus sebelum kejadian itu.” Cerocosnya.
Aku mengaruk tekukku sambil mengeluarkan cengiranku.
“Cih. Aku tidak menyukai cengiranmu itu Cho Kyuhyun.” Ujarnya lalu kembali menikmati hawa pagi.
Aku langsung memeluk leher Yoona dari belakang lalu mengecup pipinya. Aku tahu ia pasti terkejut tapi aku tidak perduli. “Menikahlah denganku?” bisikku pelan agar karena aku ingin hanya Yoona yang mendengar ajakanku. “Will You Marry Me? Be My Wife and Mom for my child in future.”
Aku menunggu jawaban darinya. Untuk beberapa lama kami terdiam dalam keadaan seperti ini.
“Nee. Aku mau.” Jawab Yoona tiba-tiba dan membuat aku tersenyum lalu mengecup pipinya.
“Gomawo.”

****

“I’m Cho Kyuhyun, making Im Yoona as My Wife and Mother to my Children. I Promise, to keep her, to hold her and to love her forever. From this day until I die, in better life or worse life,  in an richer or poorer, in an sickness or in health. i will always beside her until death do us part.”  Ujar Kyuhyun lantang.

“ I’m Im Yoona, take you to be My Husband and Father to my Children  with all my love.  I promise, accompany him, care for him and to love him forever. From this day until I die, in better life or worse life, in an richer or poorer, in an sickness or in health. I will always beside him until death do us part.” Ucap Yoona.

“Kalian resmi menjadi suami istri.” Ujar saksi pernikahan.
Keduanya saling bertatapan dan mengeluarkan senyuman terbaik milik mereka. Hingga Kyuhyun mendekati Yoona tanpa mengalihkan tatapannya. “Im Yoona, saranghaeyo.” Bisik Kyuhyun lalu mencium bibir Yoona lembut dan disambut tepuk tangan dari para tamu yang lain.

***

“I Love You more than Starcraft.” Cho Kyuhyun.

“love you like eating strawberries, sour and sweet.” Im Yoona.

40 thoughts on “Sequel Love You, Love Starcraft : ICE CREAM

  1. krenz bgt thor,,, ff ne sukses dch bkin aq berlinang air mta mlm2 gne,,, owch ea,q reader bru oen, slam knal:) dtnggu krya2 selanjutnya,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s