SKY

Tittle : SKY

Author : Riri

Main Cast :

  • Im Yoona
  • Cho Kyuhyun
  • Xi LuHan

Genre : Romance, Friendship,  Angst

Rating : PG -13

Length : Oneshoot

Disclaimer : I don’t own the characters, characters belong’s god. Plot is mine, please don’t copy.

Recomended Song : Super Junior KRY – SKY

SKY 

“Aku akan akan selalu bersamamu, dimanapun kau berada aku bisa mendengarmu”

“Dengarkan aku,” protes seorang yeoja pada namja yang duduk di sampingnya.

“Daritadi aku mendengarkanmu Yoong,” namja itu bersandar malas pada punggung kursi.

“Tapi kau seperti mau tidur Kyuhyun-ah,” Yoona memanyunkan bibirnya.

“Aku mendengarkanmu kok, kapan sih aku tidak mendengarkanmu ketika bicara?” Kyuhyun membenarkan posisi duduknya, sementara Yoona hanya nyengir lebar.

“Aku serius, tadi Luhan sunbae berpapasan denganku dan dia tersenyum kepadaku,” ujar Yoona bersemangat, “Senyumnya sangat manis, dan itu ditujukan untukku Kyuhyun-ah.”

“Kau tak pernah menyebutku sunbae, aku juga sunbaemu. Aku seangkatan dengan Luhan,” protes Kyuhyun yang entah untuk keberapa kalinya jika Yoona menyebut teman seangkatannya sunbae, terlebih lagi Luhan.

“Kau juga mau disebut sunbae?” tanya Yoona polos.

“Tidak sebenarnya, tapi terserahmu.”

Mereka berdua bersahabat sejak kecil, Kyuhyun lebih tua satu tahun dari Yoona. Sekolah mereka selalu sama, rumah mereka pun berdekatan. Meskipun Kyuhyun lebih tua satu tahun dari Yoona, ia jarang atau lebih tepatnya tidak pernah memanggil Kyuhyun dengan sebutan sunbae jika di sekolah atau Oppa. Kyuhyun adalah mahasiswa semester 6, sedangkan Yoona adalah mahasiswa semester 4. Dan Luhan adalah teman seangkatan Kyuhyun, Kyuhyun dan Luhan juga berteman baik. Yoona menyukai Luhan saat pertama kali ia menjadi mahasiswa.

“Dulu kau berjanji akan mengenalkanku pada Luhan sunbae, kapan?” Yoona melipat kedua tangannya di dada, “Sejak aku semester 1, kau sudah berjanji seperti itu.”

“Kau saja yang tidak mempunyai waktu, jika kau ada waktu, Luhan yang tidak bisa.”

“Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus mengenalkanku pada Luhan sunbae semester ini.”

Kyuhyun hanya diam, ia sedikit enggan untuk menuruti permintaan Yoona kali ini. Biasanya ia paling tidak bisa menolak permintaan Yoona, tapi untuk permintaan kali ini ia sedikit ragu. Entah apa tapi ia tak mengerti, sebuah penolakan dari hati kecilnya. Itu semua berada di luar ruang kendali Kyuhyun, ia tak pernah seperti ini. Ia bisa menjadi egois dengan menuruti ketidakmauannya, tapi ini Yoona, orang yang selama ini ia anggapdongsaengnya sendiri. Tapi benarkah hati kecilnya masih menganggap seperti itu sekarang?

***

Yoona memasuki perpustakaan kampus yang lengang, saat ini ia tak memiliki jadwal kelas. Ia tadi hanya mengambil hasil nilai semester kemarin karena ada beberapa nilai miliknya yang tertukar. Ia menyusuri setiap rak yang ada di perpustakaan, mencari judul buku yang menurutnya menarik. Yoona sengaja tidak segera pulang karena di rumahnya ia hanya sendiri. Kyuhyun entah pergi ke mana, setahunya Kyuhyun juga tak memiliki jadwal kelas hari ini.

Yoona menyusuri rak yang lainnya, ia menemukan buku yang covernya sampingnya menarik karena warnanya, juga karena judulnya. Ketika ia akan menarik buku tersebut, sebuah tangan juga berniat sama. Yoona menoleh, ia mendapati Luhan juga tengah menoleh kepadanya. Mereka berdua buru-buru menarik tangan masing-masing, momen canggung pun terjadi diantara mereka berdua. Terlebih lagi Yoona, orang yang selama ini sukai ada di depannya kini.

“Kau saja, kau kan yang duluan,” ucap Luhan sopan.

Ani, kau yang duluan sunbae,” Yoona menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal itu.

“Tidak apa-apa, aku bisa ambil yang lain.”

“Kalau sunbae mau yang ini, aku saja yang mencari yang lain.”

“Tidak juga sebenarnya jika kau mau, kalau begitu kita membaca bersama. Aku akan mencari buku yang lain, nanti jika kau selesai membaca giliranku.”

“Baiklah kalau begitu,” Yoona sedikit gugup, ia mengambil buku tadi.

Luhan yang sebenarnya juga merasa gugup segera mencari buku lain secara acak, ia mengambil buku besampul biru di rak buku yang ada di belakangnya. Kemudian berjalan menuju meja di dekat jendela, sementara Yoona mengekor di belakangnya. Ia duduk di samping jendela di lantai dua itu yang menghadap ke taman belakang, sementara Yoona duduk di hadapannya. Yoona segera membuka buku yang ada di tangannya, membacanya atau lebih tepatnya pura-pura membaca, sementara Luhan malah menyimpan buku di meja.

“Kita juga belum berkenalan,” Luhan menatap Yoona dan membuat gadis itu salah tingkah.

“Aku…,” belum selesai Yoona berbicara Luhan sudah memotongnya.

“Aku tahu, kau Im Yoon-Ah. Mahasiswa jurusan teater, semester 4,” potong Luhan.

“Dari…darimana sunbae mengetahuinya?”

Luhan mengedikkan bahunya, “Hanya tahu saja.”

“Ah…itu,” Yoona semakin gugup dan salah tingkah sekarang.

“Perkenalkan namaku…,” kali ini Yoona yang memotong ucapan Luhan.

“Aku sudah tahu, sunbae adalah Xi LuHan. Mahasiswa jurusan musik semester 6, sunbaejuga teman dekat Kyuhyun,” potong Yoona yang berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Ne, aku baru ingat, kau sahabat dekat Kyuhyun kan?”

“Kau mengetahuinya sunbae?”

“Aku juga dekat dengan Kyuhyun.”

Akhirnya mengalirlah obrolan-obrolan kecil diantara mereka, percakapan yang sangat mengasyikan. Buku yang tadi menjadi incaran mereka berdua pun teronggok begitu saja di meja. Terkadang Luhan melontarkan lelucon kecil, membuat mereka tertawa bersama. Selama ini karakter Luhan yang Yoona ketahui adalah seorang pria yang cuek, dingin, dan tentunya sempurna. Tapi dibalik itu semua, Luhan adalah orang yang ramah dan mengasyikan.

***

“Meskipun apa yang telah kau lakukan, angin akan tetap berada di sampingmu”

Kyuhyun menyusuri lorong lantai dua gedung kampusnya, ransel berisi makanan yang dibuat oleh eommanya menemani langkah kakinya. Tadi ia berniat makan bersama Yoona di rumahnya, tapi saat ia akan menjemput Yoona, rumahnya kosong. Ia tahu dimana Yoona saat tidak ada jadwal kuliah dan sendiri di rumah. Maka ia membawa bekalnya dan bekal Yoona.

Ia memasuki perpustakaan yang lengang itu, berjalan menyusuri rak-rak buku dan menuju meja tempat Yoona duduk seperti biasa. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat Yoona tengah duduk bersama Luhan. Ia mengintip di sela-sela buku dan menguping pembicaraan mereka berdua. Wajah Yoona terlihat gembira, Kyuhyun pun mengurungkan niatnya.

Kyuhyun pun pelan-pelan mundur dan berbalik meninggalkan perpustakaan. Ia kembali bersama bekal yang sengaja dibawanya. Kyuhyun berjalan dengan penuh kekecewaan, semua yang ia lihat terlalu seperti drama. Ia harus sadar, ia hanyalah angin untuk Yoona. Angin yang selalu menemaninya dan melindunginya, hanya sahabat. Bekal yang ia bawa hanya akan berakhir di tempat sampah sekarang.

***

“Meskipun air mata berjatuhan, angin akan membuang jauh dari semua itu”

“Yoona-ya!” teriak Kyuhyun pada Yoona yang tengah duduk bawah pohon besar di taman belakang rumahnya.

Tapi Yoona tak bergeming, Kyuhyun segera membuka pagar pembatas rumahnya dan rumah Yoona yang berwarna putih dan hanya setinggi pinggangnya. Kyuhyun berjalan menghampiri Yoona dan duduk di sampingnya. Kyuhyun menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Yoona. Kyuhyun mendengar Yoona terisak pelan, ia mengangkat dagu Yoona sehingga gadis itu tak menunduk lagi dan Kyuhyun dapat melihat jelas bulir-bulir kristal bening yang keluar dari mata indah Yoona menuruni pipinya.

“Kau kenapa,” tanya Kyuhyun sedikit khawatir.

“Kyuhyun-ah, ap…appa dan eomma bertengkar lagi,” suara Yoona bergetar, sebulan terakhir ini kedua orangtuanya selalu bertengkar.

“Mereka sebenarnya bertengkat tentang apa? Sudahlah jangan menangis,” Kyuhyun mendekap Yoona ke dalam pelukannya, mengelus-elus rambutnya pelan.

Appa menyuruh eomma untuk berhenti bekerja, eomma menerimanya tapi entah apa lagi yang mereka debatkan,” tangis Yoona sedikit mereda.

“Sudahlah, nanti juga mereka berhenti bertengkar,” hibur Kyuhyun.

“Sekarang berhenti menangis, kau itu kalau menangis jelek,” Kyuhyun masih setia mengelus-elus rambut Yoona.

Hingga akhirnya hanya terdengar deru nafas yang teratur, isakan Yoona telah berhenti. Yoona tertidur di pelukan Kyuhyun, semetara Kyuhyun terus mengelus-elus rambut Yoona. Jantung Kyuhyun berdetak cepat, ia merasakan hangat dan nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya. Deru nafas Yoona membuatnya bergidik, rasa hangat yang memabukkan. Melihat Yoona menangis sama saja menghancurkan hatinya, ia berjanji akan terus menghapus airmata yang, mengalir dari mata Yoona.

“Aku akan selalu ada di sampingmu, menenangkan tangismu. Tak peduli apa yang telah kau lakukan padaku, aku adalah angin yang selalu menemanimu.”

***

“Meskipun kau berada jauh dariku, angin akan senantisasa memanggil namamu

Semakin hari Yoona semakin dekat dengan Luhan, tak jarang mereka berjalan bersama. Kyuhyun terkadang hanya menemani mereka berdua dan rela dicuekkan selama berjam-jam karena ia tak tahu harus berbicara apa untuk mengikuti obrolan Yoona dan Luhan. Yoona dan Luhan sering terlihat makan siang bersama, Yoona sudah jarang makan bersama Kyuhyun di taman belakang ditemani bekal buatan eomma Kyuhyun.

Setiap hari Kyuhyun tetap membawa 2 kotak bekal makanan, untuknya, dan untuk Yoona. Meskipun pada akhirnya 1 kotak bekal makanan akan berakhir di tempat sampah, karena Yoona tak memiliki waktu untuk makan bersamanya. Tapi ia tetap tak peduli, harus ada 2 kotak bekal makanan di dalam ranselnya. Meskipun terlihat seperti anak kecil, tapi ini adalah kebiasaannya dan Yoona, dulu sebelum Yoona dekat dengan Luhan.

Yoona semakin sulit untuk ia gapai, lebih sulit dari dulu. Ketika ia berpapasan dengan Yoona, mereka hanya saling bertegur sapa. Atau jika mereka sedang duduk berdua di taman belakang rumah Yoona, gadis itu selalu menceritakan tentang Luhan. Sebenarnya, Kyuhyun sedikit muak dan bosan. Ia tak bisa terus-terusan seperti ini, hanya menjadi seorang pendengar setia sementara perasaannya sendiri perlahan-lahan hancur. Ketika Yoona berada jauh dari gapaiannya, ia selalu mengingatnya, hatinya selalu memanggilnya.

Yoona memang tak pernah meninggalkannya dan membencinya, tapi Yoona berada jauh dari jangkauannya. Tak ada lagi Yoona yang manja padanya, tak ada lagi Yoona yang akan menangis dalam pelukannya, tak ada lagi Yoona yang akan makan siang bersamanya, tak ada lagi seorang yang berumur di bawahnya tidak memanggil dengan sebutan Oppa atausunbae. Semuanya pergi, jarang terjadi dan mungkin akan hilang sebentar lagi. Hanya ada Yoona yang akan menyapa saja jika berpapasasan, dan hanya ada Luhan dalam setiap percakapan mereka.

Kyuhyun tak pernah menyalahkan siapapun sekarang, tentang Yoona yang mulai menjauh darinya. Ia tak menyalahkan Luhan atau Yoona, ia menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa ia terlalu ketergantungan dengan Yoona, sehingga mereka berdua harus selalu berdua. Ia juga menyalahkan perasaannya sendiri, kenapa ia harus menyukai Yoona? Padahal harusnya mereka berdua hanya sahabat, tak lebih dari itu. Harusnya Kyuhyun tak menyalahkan perasaannya, perasaan itu timbul dengan sendirinya.

Sebenarnya siapa yang salah dan siapa yang harus ia salahkan?

***

Hari-hari Yoona kini terisi dengan Luhan, ia bahkan tak bisa mendeskripsikan perasaannya kini. Luhan selalu mengajaknya untuk makan siang bersama, menghabiskan waktu di perpustakaan atau hal lainnya. Meskipun ia merasa berbeda jika ia bersama dengan Luhan dibandingkan bersama Kyuhyun. Mungkin karena mereka berdua adalah orang yang berbeda atau apapun, ia tak pernah mengetahui kenapa.

Luhan, orang yang disukainya sekarang selalu bersamanya. Terkadang ia tiba-tiba berubah menjadi canggung ketika sedang bersama Luhan. Berbeda dengan Kyuhyun, ia bisa melakukan apapun dengan pria itu. Ia bisa bermanja-manja dengan Kyuhyun, tetapi ketika bersama Luhan tentu ia jangan terlalu bersikap manja. Dan terkadang ia masih mencari-cari kalimat untuk membuka percakapan diantara mereka berdua.

Saat ia sedang berbicara dengan Kyuhyun di taman belakang rumahnya seperti biasa. Hanya ada Luhan yang menjadi bahan pembicaraan mereka, sebenarnya hanya Yoona yang menceritakan tentang Luhan dan Kyuhyun selalu menjadi pendengar setia. Yoona tak pernah memikirkan apakah Kyuhyun bosan atau tidak dengan pembicaraannya, atau lebih tepatnya tidak menyadarinya. Kyuhyun selalu diam dan tidak protes, berkomentar hanya jika mau saja.

Semuanya terjadi seperti roll film, begitu cepat berlalu. Yoona masih belum percaya seandainya ia tak sadar dengan Luhan yang selalu berbicara di depannya, menggenggam tangannya, membuktikan semuanya itu nyata. Ia tak pernah menyangka dari perkenalan tak terduga membawa mereka menjadi lebih dekat.

Tapi seperti ada yang hilang dari hidupnya, entah apa itu. Ia tak pernah benar-benar tahu. Meskipun kadang sebuah pernyataan muncul dari hati kecilnya, menjelaskan apa yang hilang dari hidupnya. Namun ia tidak benar-benar menyadarinya, belum lebih tepatnya. Semuanya menjadi pertanyaan besar dalam hidupnya, kehilangan yang tidak pernah disadari.

Sebenarnya apa yang hilang?

***

Semilir angin sore itu mengantarkan Kyuhyun pada sebuah kenyataan. Langkah mantapnya menuju taman belakang kampus, tempat Yoona biasa menghabiskan waktu di sore hari. Bunga yang ada di tangan Kyuhyun mengiringi langkahnya. Setelah pikiran dan hatinya berdebat hebat menentukan apakah ia harus melakukan ini atau tidak. Sebuah keputusan yang sangat berat tapi membuatnya tenang dan takut diasaat bersamaan.

Tapi langkahnya terhenti ketika ia sampai dibalik dinding bangunan, ia hanya tinggal memerlukan beberapa langkah lagi untuk menemui Yoona. Ia melihat sosok lain yang duduk di samping Yoona, Luhan. Kyuhyun mengintip di balik dinding tersebut sembari menguping pembicaraan mereka. Tangkai dari bunga yang Kyuhyun bawa sedikit ia remas dalam genggamannya, perasaan takut mulai menghantuinya.

“Sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu Yoona-ya,” suara Luhan mulai terdengar di telinga Kyuhyun.

“Apa itu Oppa?” keringat mulai membasahi tangan Kyuhyun, ia mencengkram bunganya lebih keras.

Hening sejenak, “Nae yeoja chingu ga dwae-o jullae? (Maukah kau menjadi kekasihku?),” kaki Kyuhyun lemas seketika, ia ingin meninggalkan tempat itu sekarang tapi kakinya seperti tidak bisa diajak bekerjasama karena ia sama sekali tak meinggalkan tempat itu.

Kemudian Kyuhyun mengintip lagi, tepat saat itu Yoona menganggukkan kepalanya sebagai tanda gadis itu menerima pernyataan Luhan. Kemudian bunga yang ada di tangan Kyuhyun terjatuh begitu saja, rasa takutnya benar-benar terjadi. Ia sudah didahului oleh Luhan, kakinya benar-benar lemas dan ia menyandarkan tubuhnya pada dinding. Kemudian ia meninggalkan tempat itu, bunga yang tadi dibawanya tergeletak begitu saja di tanah. Perasaannya benar-benar kacau sekarang.

***

2 Years Later

Dua tahun sudah Yoona dan Luhan menjalin hubungan dan dua tahun pula Kyuhyun menahan rasa sakitnya. Ia masih bersahabat dengan Yoona dan Yoona masih sering berbicara padanya juga duduk berdua di belakang rumah Yoona. Meskipun sekarang rasanya berbeda, seperti ada dinding tembus pandang yang menghalangi mereka. Tapi ia tetap menjadi sahabat yang baik untuk Yoona, menjadi pendengar yang baik meskipun apa yang didengarnya membuatnya semakin merasa sakit.

Dan pada hari ini adalah hari yang mengantarkannya pada luka yang tak pernah lagi bisa disembuhkan dan rasa sakit yang semakin dalam. Sebuah undangan tiba di tangannya dengan nama Xi Luhan & Im Yoon-Ah yang tertulis di sana. Bahkan Yoona sendiri yang memberikan itu padanya, membuat luka itu menganga dengan lebarnya. Dengan berat ia tersenyum saat menerima itu dari tangan Yoona.

Sekarang Luhan telah lulus seperti Kyuhyun dan bekerja di perusahaan milik keluarganya, meskipun awalnya Luhan ingin menjadi seorang penyanyi. Seperti dirinya kini, lulusan dari jurusan musik dan terjebak di perusahaan milik keluarga yang harus ia kelola. Sedangkan Yoona masih harus menyusun skripsi miliknya, satu tahun lagi ia lulus.

Mengenai acara pernikahan itu, Kyuhyun tak yakin bisa datang. Ia mungkin pengecut karena tidak berani datang hanya untuk acara pernikahan sahabatnya –yang juga menjadi orang yang dicintainya-. Tapi memang benar adanya, ia tak mau luka itu semakin lebar dan terus melebar membuatnya lebih tersiksa dari sebelumnya. Tapi mau bagaimanapun ia harus datang, ia tak mau mengecewakan Yoona.

***

Hari ini Yoona duduk dengan gelisah dengan gaun putih yang terlihat pas dengan tubuhnya, juga riasan yang membuat dirinya semakin terlihat cantik. Sejak kemarin ia selalu merasa gelisah, ia tidak benar-benar tahu kenapa. Ia merasa berat untuk melakukan ini, pernikahannya dengan Luhan. Orang yang selama ini ia sukai, orang yang dua tahun ini mengisi hari-harinya.

Pintu ruang rias yang hanya berisi Yoona sendiri terbuka, menampakkan sosok Kyuhyun dengan setelan jas rapi. Kyuhyun berjalan mendekati Yoona, pria itu ingin pamit sekaligus mengucapkan selamat pada sahabat baiknya. Hari ini ia memiliki tugas ke luar negeri untuk mengurus perusahaan cabang untuk beberapa bulan ke depan. Kyuhyun merasa bersyukur keberangkatannya dijadwalkan hari ini, karena ia tak harus melihat acara pernikahan tersebut.

Chukkae Yoong,” Kyuhyun tersenyum kecil, “Akhirnya kau bisa bersama dengan orang yang kau sukai.”

Gomawo Kyuhyun-ah,” Yoona balas tersenyum kecil. Namun senyumnya itu hanya berupa senyum pahit menurutnya.

Mianhae aku tidak bisa menghadiri acara pernikahanmu, aku memiliki urusan mendadak untuk beberapa bulan ke depan dan aku harus berangkat hari ini.”

Yoona menatap Kyuhyun dengan tatapan kecewanya, “Aku benar-benar minta maaf, aku harus pergi sekarang. Semoga kau bahagia Yoong,” Kyuhyun berbalik meninggalkannya.

Sementara Yoona hanya menatap punggung Kyuhyun yang berjalan menjauh. Kemudian hilang dengan suara pintu tertutup, hal inilah yang membuatnya berat, Kyuhyun. Dan bodohnya, ia baru menyadari sekarang.

***

Luhan memasuki ruang rias tepat setelah Kyuhyun keluar, ia mendapati Yoona tengah duduk dengan pandangan kosong. Ia mengetahui perasaan Yoona sekarang, sebenarnya ia sudah mengetahuinya sejak lama. Namun kedatangan Kyuhyun tadi membuat semuanya menjadi lebih jelas. Selama ini Yoona hanya mengagumi dan menyukainya, tapi sepertinya Yoona mengartikan lain. Rasa cinta yang selama ini ia cari dalam diri Yoona ada pada Kyuhyun, itu terlihat dari cara Yoona memandang Kyuhyun.

“Yoona-ya,” panggil Luhan.

Ne?”

“Sepertinya kau harus pergi dan susul Kyuhyun sekarang,” Luhan dengan berat mengatakan hal yang selama ini ia hindari, kalimat yang membuatnya harus melepas Yoona.

“Tapi…,” Yoona terlihat ragu, ia menunduk.

Luhan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, “Salah satu dari tanganku berisi cincin, jika kau memilih tangan yang berisi cincin, maka kau pergi susul Kyuhyun. Dan aku akan benar-benar melepaskanmu.”

“Benarkah?” tanya Yoona dengan mata berbinar, hal itu membuat Luhan merasa sakit. Luhan mengangguk dan ternyum pahit, Yoona benar-benar menanggapinya bahkan dengan suara yang sangat bersemangat.

Yoona menunjuk tangan kiri Luhan, kemudian Luhan membukanya. Dan cincin itu benar-benar ada di sana, “Sekarang pergilah susul Kyuhyun.”

“Gomawo Oppa, kau benar-benar orang yang sangat baik,” Yoona memeluk Luhan sebentar, Luhan hanya menghembuskan nafasnya berat. Sebenarnya ia telah berbohong pada Yoona.

Kemudian semuanya berlalu begitu saja, Yoona pergi meninggalkan ruangan itu. Setelah Yoona pergi, Luhan membuka kepalan tangan kanannya. Dan tangan itu juga berisi cincin yang sama, cincin yang harusnya menjadi pengikat mereka berdua. Luhan sengaja menaruh cincin pada kedua tangannya, selain untuk melihat reaksi Yoona juga agar tak membuat Yoona tertekan. Reaksi Yoona yang membuat rasa sakit itu menusuk ke dalam tubuhnya, tapi ia harus melepaskan Yoona sekarang. Karena ia harus berkorban demi orang yang dicintainya.

Luhan lagi-lagi hanya tersenyum pahit, “Selamat tinggal, semoga kau bahagia.”

***

Kyuhyun berjalan dengan berat menuju mobilnya, semuanya benar-benar harus berakhir dan ia harus menyimpan perasaannya pada Yoona dengan baik-baik. Ia memasuki mobilnya, menyalakan mesinnya dan meninggalkan parkiran, meninggalkan Yoona. Ia memarkirkan mobilnya di dekat ruang rias, jadi jarak gerbang sedikit jauh.

Yoona berlari keluar dari ruang rias, ia meneriakkan nama Kyuhyun. ia melepas high heelsyang diapakainya, menjinjingnya agar larinya lebih cepat. Mengejar mobil Kyuhyun yang semakin menjauh, ia tahu mungkin ini sia-sia. Tapi ia benar-benar harus menyusul mobil itu bagaimanapun caranya, sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk menaikkan gaunnya agar ia bisa berlari lebih cepat lagi.

Kyuhyun tetap menjalankan mobilnya, meskipun ia mendengar namanya diteriakkan dengan suara yang ia kenali. Tapi mungkin itu hanya halusinasinya saja, itu sangat tidak mungkin. Tapi ketika ia melihat kaca spionnya, betapa terkejutnya ia ketika mendapati Yoona tengah mengejar mobilnya sembari meneriakkan namanya. Ternyata itu bukan halusinasi, ia segera menghentikan mobilnya. Kemudian ia keluar dari mobilnya, menghampiri Yoona yang terengah-engah beberapa meter dari belakang mobilnya.

Tanpa aba-aba Yoona segera menghambur ke dalam pelukannya, “Ada apa Yoong?”

Yoona tak menjawab, ia mengeratkan pelukannya. Agar Kyuhyun tak pergi lagi sebelum ia benar-benar mengatakan semuanya.

“Aku tidak jadi menikah Kyuhyun-ah, aku ingin bersamamu.”

“Maksudnya?” Kyuhyun tak mengerti semuanya atau lebih tepatnya tak ingin berharap lebih.

Saranghaeyo,” ucap Yoona yang membuat Kyuhyun tersentak kaget, tapi membuat jantungnya benar-benar berdetak dengan sangat cepat sekarang.

“A…apa?”

Saranghaeyo,” Yoona kali ini mengucapkan lebih keras, ia tidak peduli lagi dengan semuanya. Ia tak peduli jika harus ia yang mengatakan hal itu duluan, ia benar-benar tak peduli.

Kyuhyun tersenyum senang, ia mengeratkan pelukannya, “Nado saranghaeyo.”

Semuanya butuh pengorbanan, meskipun ada salah satu yang merasa terluka. Semuanya butuh pilihan, karena tak ada yang bisa menjawab dua pilihan. Dan sebuah cinta butuh kedua hal tersebut. Karena tak selamanya semua cinta terbalaskan, tak selamanya cinta bisa memiliki, dan tak selamanya cinta tak membutuhkan pengorbanan juga rasa sakit. Melihat orang yang dicintai bahagia dan kita terluka lebih baik daripada melihat orang yang dicintai terluka dan merasa tertekan dengan keegoisan hanya karena rasa ingin memiliki.

THE END

Untuk lanjutan FF Bittersweet, mungkin akan di posting besok atau lusa. FF ini terinspirasi dari lagunya Super Junior KRY – SKY, lagu yang dinyanyiin untuk OST. To The Beautiful You. Dan ada beberapa kata dari lagu yang di translate aku comot buat ff. Mianhae karena ff nya gaje, mianhae kalo ini bener-bener ancur, mianhae juga dengan poster hasil editan aku yang bener-bener dibawah standar *nangis di pundak Kyuhyun #eh*, mianhae untuk typo. Pokoknya mianhae untuk segala kekurangannya. Komentarnya sangat-sangat ditunggu, jangan malu-malu komentar (?), nggak usah malu-malu sama aku dan aku juga nggak bakal gigit ini :D

18 thoughts on “SKY

  1. Eh Ǟϑǟ Lohan oppa di sini #mksdnyaLuhanoppa ‎​Нę².. “̮ нę².. “̮ нę².. “̮ нę² ..
    Wow KyuNa fantastic ^^

  2. satu kata, “KEREEENN”.
    Ckckck, diksi kata-katanya bagus bnget. Feelnya jga dapet.
    Jadi ikutan nyesek kaya Kyu oppa
    (;>_<;)

    Ini padahal udh yakin bnget endingnya bkalan LuYoon. Eh trnyata, KYUNA!!
    Dduh, akhirnya yoong nyadar. Dan Luhan oppa jga rela ngelepas Yoong. Suit, suit…
    Udah, Luhan oppa sma aku aja… xD

    Keren, keren, keren.
    Ditunggu ya krya KYUNA yg lain.
    Keep writing ^^

  3. tor knapa critanya sad tor…?
    Iya sih kyuna bersatu, tpi d yg sdih.
    Mungkin klo d ksih orang ke4 bakalan happy.
    Ku bcanya deg2an …
    Bagus kok tor….,
    Buat ff kyuna lgi ne..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s