[Freelance] Regret

 

Author : Im SooNa

Cast : Cho Kyuhyun, Im Yoona, etc.

Genre : romance, sad

Tipe : oneshoot

FF ini pernah dishare di blog pribadi saya ^^ happy reading readers :** Don`t be silent reader😀

Kyuhyun POV

Menyesal aku membiarkanmu pergi, menyesal telah mengubur sejuta rasa cinta di hatiku. Menyesal karna aku berpikir akan menemukan yang terbaik di LA. Hingga sekarang aku masih mencintaimu, sungguh mencintaimu. Seakan kau hanya satu-satunya yeoja dihatiku, aku ingin kembali lagi bersamamu. Namun masih adakah dirimu untukku? Atau kini hanya tinggal kenanganku bersamamu? Pikiranku kembali melambung jauh saat hubungan kita berakhir tepatnya 1 tahun yang lalu.

Flashback

Taman ini menyuguhkan keindahan, taman kesukaanku dan dia dan taman yang menjadi saksi cinta kami. Taman ini adalah tempat pertama kali aku mengenalnya, dan juga tempat yang aku pilih untuk menyatakan cintaku padanya.

“Oppa, kau tau aku sangat menyukai taman ini.” Seru yeoja yang tidak lain adalah yeojachinguku, senyumnya mengembang.

“Aku juga, taman yang menjadi saksi cinta kita.” Jawabku riang.

“Kini akan menjadi taman yang menyedihkan bagi kita.” Raut wajahnya berubah, kini ada nada kekecewan di setiap kata yang ia ucapkan.

“M..mwo? Apa maksudmu Yoong-ie?” kutatap kedua matanya, namun ia menundukkan kepalanya. Aku melihat ia mengusap pipinya, apa ia menangis? Kuangkat dagunya dan kemudian kuhapus air mata yang menghilangkan senyum manisnya. “Waeyo Yoong-ie?” tambahku lagi.

“Kyu oppa, sepertinya kita hanya bisa sampai disini.” Ucapnya, bibirnya bergetar. Air mata kembali membanjirinya, tak terasa aku juga meneteskan air mataku. Bagaimana mungkin aku akan menerima pernyataan itu setelah menjalin cinta dengannya selama 3 tahun?

“Kau bercanda bukan? Aku mencintaimu Yoong~ apa kau sudah bosan denganku?” tanyaku, ia hanya terdiam. Lalu ia menggelengkan kepalanya, dan kemudian memelukku.

“Anni oppa aku serius~ A..aku sudah bosan denganmu.” Ia semakin mengeratkan pelukannya padaku, aku menatapnya namun ia tak berani menatapku.

“Kau.. ahh!” Nadaku meninggi, kurasakan emosi ditubuhku mulai bergejolak. “Sudahlah, kalau kau memang mau mengakhiri hubungan kita AKHIRI SAJA! Sekarang lepas!” emosi menang, kini aku bersikap kasar padanya. Pertama kalinya aku memperlakukan gadis yang paling aku cintai seperti ini. Aku langsung bergegas meninggalkan taman itu, masih kudengar tangisnya.

Flashback Off

Menyesal telah memperlakukannya seperti itu, menyesal pergi ke LA tanpa memberitahumu. Mungkin kini ia telah bersama namja lain, memiliki sebuah rumah impian yang pernah kami impikan. Memikirkan hal yang bukan-bukan makin mempercepat perjalananku ke Seoul, ya benar aku akan menuju ke sana. Sebenarnya aku ingin manyampaikan permintaan maafku karna telah kasar padanya, walau sebenarnya aku ingin mengajaknya bersama kembali walau kutau dulu ia telah bilang bahwa telah bosan denganku. Tapi hatiku berkata lain, hatiku bilang ia masih mencintaiku. Dan betapa bodohnya aku karna baru kusadari sekarang ini.

Kini aku telah tiba di Incheon Airport, aku urungkan niatku menuju ke apartement untuk sekedar mencari kabar Yoona. Mengingat kantornya yang tidak terlalu jauh dari airport, kini kuputuskan untuk menaiki taxi menuju kantornya.

Yoona`s Office

Aku bertanya pada salah seorang karyawan yang dulu teman dekat Yoona yaitu Jessica, karna kebetulan aku bertemu dengannya di lobi.

“Annyeong, Sicca-sshi.” Aku menyapanya, yaoja bernama lengkap Jung SooYeon namun akrab dipanggil Jessica itu menoleh kearahku.

“Annyeong.” Terdengar nada gugup di sapaannya, jangan-jangan ia lupa denganku.

“Masih ingat denganku bukan?” tanyaku, ia mematung. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu.

“E..eh? Tentu saja ingat, Cho Kyuhyun-sshi right?” tanyanya, ia tersenyum. Aku mengangguk.

“Apa aku boleh tau dimana Yoona?” Tanyaku to the point, aku enggan untuk basa-basi.

“Ehm, a..aku tak bisa menceritakan ini secara detail. Namun yang jelas ia sudah tak bekerja disini.” Jawabnya, kenapa ia gusar? Apa ada masalah antara dia dan Yoona?

“Eh? Wae? Memang kini dia bekerja dimana?” tanyaku kemudian.

“Aku tak berhak menceritakan ini, kau bisa tanya pada keluarganya. Permisi~” ia menghilang dari pandanganku, kini yang terlihat hanyalah orang barlalu lalang didepanku. Dan terbesit sebuah pertanyaan ‘ada apa dengan Yoona? Bukankah ia dan Jessica tidak pernah bertengkar?’

Kuputuskan untuk mengunjungi rumah Yoona, namun aku harus ke apartement dulu mengingat banyaknya barang yang kubawa .__.

***

Dengan menggunakan mobil teman baikku, Lee Hyuk Jae aku langsung menancap gas menuju rumah Yoona. Setelah sampai di depan rumahnya, aku melihat kesekeliling rumah. Tatanan taman di rumahnya masih sama, namun kini terlihat lebih sepi. Kuketuk pintu rumah itu dan segera mendapati seorang yeoja yang tidak lain adalah kakak Yoona, Im Taeyeon. Ia mempersilahkanku duduk, sungguh aku merasa sanggat canggung masuk ke rumah ini.

“Noona~ bisakah aku bertemu Yoona?” tanyaku, raut wajahnya yang tadinya tersenyum kini menjadi sedih. “Taeyeon Noona, waeyo? Kenapa jadi sedih begitu?” tambahku.

Ia malah mengajakku keluar rumah, mengantarku ke suatu tempat. Tempat yang tak asing bagiku karna Yoona sering mengajakku kemari, ini adalah pemakaman. Tempat dimana makam kedua orang tuanya.

“Noona~ untuk apa ke makam? Aku kan ingin bertemu Yoona bukan kedua orang tuanya.” Tanyaku, kemudian kami berhenti di depan sebuah makam.

“Y..Yoona telah tiada, Kyuhyun-ah.” Jawabnya, bibirnya bergetar ketika mengatakan itu. a..apa? Tiada? Kalian bercanda bukan?

“Kau bohong kan?” tanyaku, mataku berkaca-kaca seakan mencari kebohongan di matanya.

“Anni~ aku serius Kyuhyun-ah. Ia telah tiada, ini adalah makamnya.” jawabnya lagi, rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Ingin meluapkan kekecewaanku pada siapa saja yang ada di hadapanku, namun kutau itu salah.

“Tolong katakan kalau kau bohong! Katakan!” teriakku. Memang benar nisan itu bertuliskan R.I.P Im Yoona. Apa benar? Aku tak percaya semua ini!

“Kyuhyun-ah~ mianhe aku tak memberitahumu.” Aku menghiraukan perkataan Taeyeon, aku hanya menangis.

“Yoong-ie kenapa meninggalkanku? Aku mencintaimu, aku tak ingin kau pergi. Aku tak rela dulu kau mengakhiri hubungan kita, mianhe aku kasar padamu. Mianhe aku meninggalkanmu, kau tau aku tak bisa melupakanmu. Aku benar-benar kecewa saat kau mengatakan itu, aku kecewa! Hanya kau Yoong, hanya kau yang mampu membuatku tersenyum. Hanya kau yang mampu membuatku bahagia!” aku mengatakan itu dengan pandangan lurus ke nisannya, Yoona gadis yang sangat kucintai. Aku mencintainya lebih dari aku mencintai diriku sendiri, kini ia telah pergi untuk selamanya. Meninggalkan orang-orang yang menyayanginya dan juga sejuta kenangan kami.

“Yoona kau tau aku seperti orang bodoh telah meninggalkanmu, Yoona tolong kembali padaku. Aku ingin bersama lagi denganmu, bukankah kau ingin membangun rumah impianmu? Mari kita bangun rumah impianmu….” karna tak tega Taeyeon segera memotong kata-kataku.

“Bagaimana kalau kembali ke rumah? Kau harus menenangkan hatimu dulu, jangan seperti ini.” Ucap Taeyeon, aku hanya menganggukan kepalaku. Mengingat tidak baik bersikap seperti ini, apalagi ini di pemakaman.

Kami terduduk di ruang tamu rumah Yoona, kami saling berdiam walau beribu pertanyaan menghujam otakku. Hingga kemudian Noonanya membuka pembicaraan.

“Yoona meninggal 1 tahun yang lalu, tepat 1 bulan setelah kepergianmu.” Ucapnya lirih, suaranya parau. Aku mengarahkan mataku padanya seakan berkata ‘Benarkah? Aku tak percaya.’

“Aku akan menceritakan mulai dari awal Kyuhyun-ah.”

Flashback

“Eonnie, ada apa? Kenapa wajahmu murung sekali?” tanya Yoona yang sedang berbaring di ruang rawat nomor 30.

“Yoong~” ucap Taeyeon lirih, ia langsung duduk di kursi sebelah tempat tidur Yoona.

“Hmm.” Yoona hanya membalas seperti itu. “Waeyo? Apa kata dokter eonnie?” Tambahnya.

“Yoong~ kau terkena Kanker Darah.” Suara Taeyeon parau, ia merundukkan kepalanya. Yoona langsung terperanjat kaget, ia hanya mematung.

“L..l..leukimia?” tanya Yoona lirih yang hanya dibalas anggukan oleh kakaknya.

“Mianhe, aku tak bisa menjagamu dengan baik.” Ucap Taeyeon segera, dibalas senyuman oleh Yoona.

“Kau yang terbaik eonnie, lagipula ini bukan akhir zaman bukan?” ia masih berusaha tersenyum dan tak ingin membuat kakaknya sedih walau ia sendiri terpukul. “Bisakah kau berjanji kepadaku?” tambah Yoona.

“Apapun untukmu saeng.”

“Eonnie, aku tak ingin Kyu oppa tau tentang ini. Aku juga tak mau semua orang tau tentang penyakitku.”

“Bukankah ia akan menjagamu Yoong jika mengetahui ini?”

“Anni~ itu malah membuat Kyu oppa khawatir.” Jawabnya. “Kau kan sudah janji eon. Harus kau turuti bukan?” tambah Yona, ia tersenyum.

“Ne. Ne. Arraseo.” Taeyeon hanya bisa menyetujui itu.

1 year later (still flashback)

Aku semakin khawatir dengannya, fisiknya semakin lemah. Ia juga tidak mau kemoterapi ataupun operasi, yang ringan seperti minum obat saja tidak mau. Hingga suatu hari disaat ia pulang dari bertemu Kyuhyun ia langsung pingsan. Saat itu Kyuhyun sudah pulang, dengan segera Taeyeon menuju ke RS menggunakan taxi.

Hospital

Setelah Dokter keluar dari kamar rawat ia ingin menyampaikan sesuatu pada Taeyeon, Dokter menyuruhnya untuk menemuinya di Ruang Dokter.

“Ny. Im tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Kemungkinan medis umurnya hanya tinggal 5 bulan saja, namun bisa saja usianya kurang dari 5 bulan atau bahkan 2 minggu. Keadaanya semakin melemah, kita harus segera mengambil tindakan. Mungkin kami bisa memperpanjang usianya dengan kemoterapi.” Ucap sang dokter, rasanya Taeyeon kini telah kehilangan separuh nyawanya setelah mendengar pernyataan dokter itu.

“A..apa tidak ada jalan lain selain kemoterapi dok? Ia sama sekali tidak ingin kemo, minum obat saja ia enggan.” Ucap Taeyeon, kali ini perasaannya benar-benar kalut.

“Ini sudah stadium akhir, kita harus segera mengambil keputusan atau akan terjadi sesuatu yang fatal.” Perkataan itu makin membuat Taeyeon tertekan, tak tau apa yang harus ia katakan pada adik tersayangnya.

“S..s..saya akan mencoba berbicara pada adik saya, Dok.” Ucapku lirih, Taeyeon ingin sekali menangis saat itu.

“Saya akan menunggu kabar darimu Ny. Im.” Jawab sang dokter, Taeyeon-pun segera keluar dari ruangan itu dan menuju ke kamar rawat Yoona.

“Eonnie, apa kata dokter?” tanya Yoona, ia menyunggingkan senyumnya seakan ingin membuat Taeyeon juga tersenyum. Namun bagaimana bisa Taeyeon tersenyum setelah tau pernyataan dokter.

“Eonnie, kau kenapa? Tersenyumlah.” Tambah Yoona lagi seakan membuyarkan kekalutan kakaknya.

“Yoong~ apa kau menyayangiku?” tanya Taeyeon, akhirnya membuka mulutnya. Kemudian ia duduk di kursi sebelah ranjang Yoona yang memang telah disediakan.

“Ne? Tentu saja, aku sangat menyayangimu eonnie.” Jawabnya, ia menyuguhkan senyum tipis pada Taeyeon. Kemudian Taeyeon memegang tangan Yoona dan merasakan betapa dinginnya tangan adik tersayangnya.

“Lakukan kemoterapi kalau memang kau menyayangiku.” Ucap Taeyeon lirih, Yoona hanya menatap kakaknya dengan tatapan sendu hilang sudah senyumannya.

“Eonnie, aku tidak ingin melakukan kemoterapi.” Tolak Yoona, ia tetap memandang kakaknya dengan tatapan sendu.

“Ini untuk kebaikanmu, aku tak ingin kehilanganmu saeng-ya. Aku sangat menyayangimu.” Tak terasa air mata Taeyeon mulai mengalir di pipinya.

“Eonnie, kemoterapi hanya memperpanjang usiaku bukan menyembuhkanku. Aku tidak ingin eonnie, sakit rasanya hidup lama dengan penyakit ini.” Yoona juga menitihkan air matanya, Taeyeon berdiri dan memeluk adik tersayangnya.

“Yoong~ aku hanya ingin yang terbaik untukmu, kini aku tak akan memaksamu lagi.” Taeyeon mengusap kepala adik tersayangnya itu dan tetap memeluknya.

“Gomawo, eonnie. Dokter bilang usiaku tidak lama lagi, apa benar?” tanyanya lagi, jujur Taeyeon bingung untuk menjawab pertanyaan ini. Rasanya enggan menjawabnya.

“N..ne Saeng-ya.” Taeyeon menitihkan air matanya lagi, kali ini Yoona mengusap air mata kakaknya.

“Uljima~ mungkin ini takdirku eonnie, dan mungkin aku harus mengakhiri hubunganku denga Kyu oppa.” Ucap Yoona lirih.

“Apa itu hanya akan menyakitinya saja? Kenapa tidak jujur saja?” tanya Taeyeon kemudian.

“Anni~ keputusanku telah bulat. Jika ia tau aku sakit, ia pasti akan lebih tersiksa eonnie. Jika kami berakhir pasti akan ada rasa benci Kyu oppa padaku, lalu pasti akan mudah melalui itu.” jawab Yoona panjang lebar.

“Yoong~ Kyu sangatlah mencintaimu, kukira ia takkan melupakanmu semudah itu. Namun jika memang itu keputusanmu aku akan berusaha menyetujuinya.” Ucap Taeyeon pelan.

“Ia harus melupakanku eonnie.” Jawabnya lirih.

***

‘I Need U hey~~

Oh nan tteollineun georeumeul
josimhi dagaga bwa (joshimhi dagaga bwa~)
(Oh Somebody help me~)’

Ponsel Taeyeon berdering, pertanda bahwa ada telpon masuk. Dan penelponnya adalah Yoona, namun ada apa ia menelponku? Bati Taeyeon. Dengan segera ia mengangkat telpon itu.

“Annyeong Haseyo.” Suara dari seberang sana. DEG~ suara siapa ini? Kenapa seorang namja? Dan ini juga bukan suara Kyuhyun.

“Eh? Nuguya?” jawab Taeyeon, ia nampak kebingungan.

“Apa anda keluarga dari pemilik ponsel ini?” tanya penelpon diseberang sana. DEG~ pemikiranku mulai yang bukan-bukan.

“Ne~ aku kakaknya.” Jawab Taeyeon.

“Saya di Seoul Hospital, saudara anda kini telah berada di ruang rawat ia tak sadarkan diri….” belum selesai sang penelpon bicara, Taeyeon dengan cepat menuju ke rumah sakit tanpa mempedulikan ponselnya yang tergeletak di tempat tidurnya.

Seoul Hospital

Dengan segera ia menanyakan ruang rawat adiknya, dan segera menuju kamar rawat itu. Taeyeon membuka pintu ruang rawat Yoona pelan dan mendapati ia sedang terbaring di ranjangnya. Ada seorang namja yang tak kukenal duduk kursi sebelah ranjang Yoona, mungkin ia yang menelponku tadi.

“Apa anda kakaknya?” tanya namja itu, kemudian ia berdiri dan mendekat kearahku. Aku hanya mengangguk. “Ah, aku Park Jung Soo. Tadi aku menemukannya sedang pingsan di taman, setelah ia berbincang dengan seorang namja ….” Jelas namja bernama Jung Soo.

“Taeyeon.” Jawab Taeyeon, seakan mengerti bahwa ia tak mengetahui namanya.

“Ne, Taeyeon. Subelum itu kulihat ia menangis, namja itu kemudian pergi tanpa peduli pada gadis ini yang tetap menangis dan kemudian ia jatuh pingsan.” Jelas JungSoo panjang lebar.

“Fisiknya memang semakin melemah.” Ucap Taeyeon Lirih.

“Apa ia sedang sakit?” tanya JungSoo yang kemudian melirik ke arah gadis itu.

“Ne, ia terkena kanker darah.” Jawab Taeyeon lirih. jungSoo terperanjat kaget, ia hanya terdiam. “Dan dokter menganalisis bahwa hidupnya tak lama lagi.” Tambah Taeyeon.

“Aku turut menyesal Taeyeon-ah.” Ucap JungSoo.

Flashback end

“Sejak saat itu Yoona terpaksa dirawat di rumah sakit, semakin hari semakin lemah kondisinya.” Taeyeon menghentikan pembicaraannya. Hatiku hancur berkeping-keping mendengar ini semua. Ternyata ini bukan candaan belaka, Yoongku kini telah tiada. Seseorang yang mampu membuatku tersenyum, seseorang yang selalu membuatku bahagia kini telah tiada.

“Ditambah lagi ia tak pernah mau minum obat, dan sehari sebelum ia tiada ia ingin aku memberikan ini padamu.” Tambah Taeyeon, ia menyerahkan kotak pink dengan motif hati. Saat Kyuhyun akan membuka kotak itu, Taeyeon mencegahnya.

“Kyu, lebih baik dirumahmu saja.” Tambah Taeyeon, Kyuhyun hanya menurut.

***

          Benar-benar tak kusangka kau pergi selama-lamanya Yoong. Tidak membiarkan aku mengetahui keadaanmu yang sebenarnya, kau tau aku sangat menyesal telah melepasmu. Aku begitu bodoh. Bodoh! Aku tak bisa mengisi sisa hidupnya, aku tak bisa memberinya kebahagiaan di sisa hidupnya.

Setelah menenangkan diri kuputuskan untuk membuka kotak yang diberikan Taeyeon tadi. Isinya adalah surat dan sebuah kaset, kini aku mulai membaca surat itu.

Dear, My Price Kyuhyun

Kuyakin saat oppa membaca surat ini aku telah tiada. Kuharap surat ini dapat menjawab beberapa pertanyaan yang akan kau pertanyakan jika aku masih hidup. Aku tidak akan bosan dengan Cho Kyuhyun karna aku akan selalu mencintaimu. Maafkan jika aku bohong kepadamu tentang itu, aku hanya ingin kau membenciku dan mudah untuk melupakanku. Karna kutau usiaku sudah tidak lama lagi, dokter berkata 5 bulan namun kuyakin kurang dari itu. Karna jika aku tidak bicara seperti itu kuyakin kau tak mau mengakhiri hubungan kita.

Oppa ingatlah 1 hal, bahwa aku akan selalu mencintaimu walaupun kini dunia kita telah berbeda. Aku akan selalu disisimu oppa, walau kau tak menyadari itu. Jiwaku akan selalu hidup oppa, walau kini ragaku telah tiada. Aku sangat bahagia dengan takdirku, karna mencintaimu adalah hal terindah yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Oppa, aku ingin kau selalu tersenyum walau kini aku telah tiada. Tersenyumlah kepada semua orang, jangan hilangkan senyummu oppa. Saranghaeyo Cho Kyuhyun :*

PS. jangan lupa melihat kaset yang aku berikan, arraseo ^^ di kaset itu aku sedang menarikan dance gee dan kau menarikan dance sorry sorry, semoga kau menyukainya :* aku sampai lupa, oppa mianhe tidak memberitahumu tentang penyakitku. SARANGHAEYO YEONGWONHI :*

From Yoong

 

Kini perasaanku telah bercampur aduk, ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya. Wae? Kenapa harus aku? Aku masih ingin bersama dengannya, aku sangat mencintainya. Oh tuhan, berikan aku kesempatan untuk bertemu dengannya lagi.

END

Mianhe jika terdapat beberapa typo, mianhe kalau FF ini kurang bagus L jangan lupa komennya ya ^^ ditunggu kritik dan sarannya :**

9 thoughts on “[Freelance] Regret

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s