[Freelance] One Year Later (Part 1 of 2)

Author : Im SooNa

Cast : Im Yoona, Cho Kyuhyun, Im SeoHyun, etc

Genre : Sad, Romance

Rating : PG+13

Length : Chapter

~Yoona POV~

Mengapa kau harus datang kembali? Mengapa? Mengapa kau datang disaat aku ingin melupakan semuanya? Saat aku sudah mengubur dalam sedalam-dalamnya perasaanku padamu. Oh, Tuhan. Singkirkan dia dariku dari pandanganku, aku benar-benar sakit ketika melihatnya.

Tok…Tok…Tok

Suara ketukan itu membangunkanku dari lamunan pagiku. Selalu saja ketukan itu mengangguku, namun terkadang membangunkanku dari segala mimpi burukku. “Yoona-ah, segera turun.” Teriak eommaku dari seberang pintu. Pintu itu sengaja kukunci karna jika tidak aku bisa-bisa diguyur air dingin oleh eommaku yang tidak sabar membangunkanku.

Dengan langkah malas, aku segera turun sebab jika tidak eomma pasti akan berteriak lagi. Kulihat Seohyun sedang menyantap roti selai bakarnya dan eomma sedang mencuci piring. Dengan langkah pelan aku duduk di meja makan namun Seohyun dengan keras berteriak.

“Yoona eonnie.” Teriaknya, aish kenapa harus berteriak seperti itu? Bukankah dengan tidak berteriak aku masih bisa mendengar suaranya? Tapi itu memang kebiasaannya, kebiasaan yang sangat amat menyebalkan.

“Hey, Im SeoHyun!! Bisakah kau pelankan suaramu itu? Tak usah berteriakpun aku tetap mendengar suaramu.” Geramku, benar-benar menambah BAD MOODku yang sejak kemarin kupelihara (?) saja.

“Yah, eonnie. Mengapa kau selalu memelihara BAD MOODmu itu?” ejek Seohyun. Ya memang kuakui setelah kepergian namja itu diriku menjadi berbeda. Tepatnya tujuh tahun yang lalu hingga sekarang aku menjadi YoonA yang pendiam dan tidak ceria lagi.

“Eonnie, kau mulai lagi. Aish, setiap pagi kau begini.” Pekik Seo Hyun, yang membuyarkan lamunanku.

“Apa? Aku mulai apa huh?” tanyaku datar, jangankan makan melihat makananpun aku kenyang. Kulihat SeoHyun hanya menekuk wajahnya karna pertanyaan ritorisku.

“Eomma, aku sudah kenyang. Aku berangkat ya.” Ucapku pada Eomma yang masih asik dengan gemercik air dan piring-piring.

“Eomma, bahkan ia belum makan sesendokpun dan hanya memakan lamunan paginya.” Tambah Seohyun yang membuat Eomma berbalik ke arah kami. Yah, yah, yah paling berakhir dengan memaksaku makan walaupun sesendok saja.

“Sudahlah, eomma capek menyuruh kakakmu makan. Hati-hati di jalan, arraseo.” Jawab Eomma yang sedang menyiapkan nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.

“NE~~” Jawabku dan Seohyun bersamaan. Lantas aku segera keluar dari rumah dan berjalan beriringan denga Seohyun.

“Eonnie, apa kau tau? Aku merindukan seorang Im YoonA yang dulu, yang selalu ceria dan tertawa seperti rusa.” Ucap Seohyun yang memecah keheningan diantara kita. Aku hanya tersenyum, senyuman teraneh yang pernah kutampilkan.

“Hiiiih, berhenti tersenyum. Senyummu begitu aneh, tampak tak ikhlas.”ketus Seohyun kemudian. “Eonnie, ceritakan padaku. Mungkin aku bisa membantumu, masih belum cukup 7 tahun berdiam tanpa mengatakan yang sebenarnya?” tambahnya. Memang benar kupendam ini semua sendiri selama 7 tahun. Aku hanya terdiam, dan terus berjalan menuju kampus kami.

“Jika eonnie tidak ingin bercerita tentang semuanya setidaknya ceritakan padaku apa yang membuat BAD MOOD terburukmu pagi ini dan kemarin.” Tambah Seohyun, sebenarnya aku sangatlah ingin bercerita tentang semua ini kepada Seohyun. Tapi aku tidak pernah ingin memperlibatkan orang lain ke dalam masalahku, maka dari itu aku terkesan tertutup kepada semua orang. Namun untuk kali ini aku ingin berbagi kepada seseorang untuk meminta pendapatnya.

“Mmmm, sebenarnya aku. Ah, aku tidak tau cara menceritakan ini Seohyun-ah.” Jawabku.

“Kau bisa menceritakannya dengan perlahan seperti yang kulakukan jika bercerita denganmu eonnie.” Jawabnya, benar juga. Bukankah selama ini aku adalah tempat curahan hati adikku? Bahkan aku tempat untuk menimbun curahan hatinya, kekekeke.

“Se….” belum selesai aku mengucapkan kata itu, kami telah sampai di kampus. Karena suasananya sangat ramai, aku memutuskan untuk menceritakannya di rumah.

“Saeng-ah, lebih baik ceritanya dirumah saja ya. Suasananya tidak memungkinkan.” Jawabku kemudian yang hanya dibalas anggukan oleh Seohyun.

In The Class

Tiba-tiba ponselku berdering, dengan segera aku menyambar ponselku yang berada di dalam tas yang ternyata dari Seohyun.

From : Seo~

Eonnie, kita tidak bisa pulang bareng. Jam terakhirku kosong, jadi aku akan pulang sekarang. Tidak apa-apa kan?

Dengan lihai aku mengetikkan kata demi kata dan teragkai menjadi sebuah kalimat, dengan segera aku menekan pilihan ‘SEND’.

To : Seo~

Ne, arraseo. Mungkin sore hari aku baru pulang, tugasku banyak.

Kini waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore waktu Korea Selatan, dengan segera aku melangkahkan kakiku meninggalkan arena kampus mengingat cuaca yang sangat tidak mendukung dan aku yang lupa membawa payung. Dan tiba-tiba BRES~ *anggap suara hujan* aish, mungkin hari ini adalah hari sialku, dengan segera aku berteduh di depan toko yang tutup. Aku segera merogoh kantongku untuk mengambil ponselku dan tidak lupa mengambil headsetnya. Telingaku kini sedang diservis oleh dentuman irama yang sangat serasi, lagu ballad yang dinyanyikan oleh Jessica dan Onew.

‘It feels like I’ve been dreaming for a long time

I’ve wandered and wandered around for a while

As if we made a promise

Standing here in front of each other like that day from four seasons ago

Those beautiful stories that we wrote down together

Those eternal promises that we prayed for at that time

They’re all coming back to me now and I don’t think my heart can take it

I’ve even restrained myself at the thought of you

How has your one year been’

          Lagu ini sangatlah pas denganku, dan juga dengan kisah cintaku. Menjalani tahun demi tahun tanpanya. Tanpa melihatnya, melihat senyumnya. Tanpa mendengar suaranya, mendengar tawanya. Oh Tuhan, apa aku merindukannya? Namun tentu aku tidak boleh mengharapkannya, walau ia kemarin muncul dihadapanku. Aku tak ingin kekecewaanku akan terulang kembali, ditinggalkan seseorang yang ‘sangat’ aku cintai tanpa memberitahu atau bahkan selama 7 tahun ini aku tidak mendengar kabarnya.

Kurasa ada seseorang yang berlari ke arah toko ini, aku masih tetap saja menutup mataku tanpa melihat siapa yang berada di sebelahku.

‘hanchameul ijeun chae saraji
handongan kawaenchanh deut haesseo
hajiman shigani heureumyeon ggaedara gago isseo
neo obshineun an dwoedaneun geol’

          Tiba-tiba aku menyanyikan bagian itu dengan lirih, bagian yang amat sangat menyayat hatiku. Bagian yang terjadi padaku, seberapapun berat aku mencoba untuk melupakannya aku tetap tak bisa. Hanya dirinya, bayangan dirinya walau aku berusaha dengan keras menolak bayangan itu aku tetap tidak bisa.

Kubuka mataku perlahan dan mengambil nafas dalam-dalam, lagu itu masih terdengar jelas di telingaku. Namun kurasa ada sepasang mata yang memperhatikanku, dan dengan segera aku melihat kearahnya. Oh Tuhan, aku bertemu mimpi burukku yang kutemui kemarin sore. Ingin pergi dari tempat itu? jawabanku pasti IYA! Namun bagaimanapun hujannya sangatlah deras, apa aku harus menerjang itu?

“Yoong~” ucap namja itu, aku hanya mematung berharap aku segera terbangun di dalam kamar tidurku yang nyaman.

“Cho Kyuhyun-sshi?” desisku, namun kuyakin ia dapat mendengar suaraku dengan jelas. Mimpi apa aku semalam? Ah anni~ bahkan dua hari yang lalu sehingga bisa bertemu dengannya. Aish, aku harus pergi dari tempat ini dengan segera. Aku tak ingin berharap dan mencintainya lagi walau aku masih mencintainya. Aku berlari menerobos hujan yang lebat di kota ini, tak peduli lagi dengan diriku yang pasti akan basah kuyup. Kini yang terpenting bagiku adalah berlari menjauh darinya, dari CHO KYUHYUN!~

“Tunggu, jangan lari. YOONAAAAAAAAAAA~!” teriak kyuhyun yang berlari kearahku sontak aku melihat ada sebuah truk melaju dengan kecepatan sedang siap menubrukku namun kemudian kurasakan ada seseorang yang mendorongku ke trotoar. Dan ternyata adalah Kyuhyun, tubuhnya bersimbah darah.

“ANDWAEEEEEEEEEE~ KYUHYUN OPPA!!!!” teriakku aku segera berlari kearahnya memeluknya agar ia tetap terjaga, dan kemudian ambulance datang dan membawa kami ke Rumah Sakit.

“Oppa, sadarlah. Oppa, mianhe. Tolong sadarlah.” Aku menangis sejadi-jadinya, tidak peduli lagi dengan tubuhku yang terkena darah segar miliknya.

“Aku selalu mencintaimu, rasa itu tak akan pudar.” Ucapnya lirih. Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu.

“Nado oppa, nado.” Ucapku segera, namun tidak ada jawaban darinya.

Dengan segera ia dibawa ke ruang IGD, aku hanya dapat menunggunya di ruang tunggu dengan tubuh basah kuyup dan bersimbah darah. Perasaanku sangatlah tidak tenang, gusar, khawatir, sedih semua menjadi satu. Oh tuhan, tolong selamatkan dirinya. Jika kau mengijinkan kami bersama lagi, izinkan Tuhan. Aku begitu mencintainya, jika memang kami memang tak bisa bersama lagi tolong selamatkan dia TUHAN~

‘I wish we could go back to those good times
Those lovely times that were beautiful and happy
Heart aching stories, meaningless quarells
Let’s forget them all and let’s not bring them up again
After seasons pass
Even after many years pass
Wish there would be meeting like today’

Apa anda keluarga korban?” tanya seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruangan UGD.

TBC

Gimana readers? Menurut kalian gimana kelanjutannya? Ditunggu part selanjutnya ya ^^ jangan lupa komennya ya J

17 thoughts on “[Freelance] One Year Later (Part 1 of 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s