Mistake [ Free Writer]

Author                  : Park Ah Young

Main Cast            : Im Yoon A, Cho Kyuhyun

Other Cast          : Kwon Yuri, Lee Sungmin, Seo Jo Hyun

PG                          : PG-13

Genre                   : Romance (One Shoot)

Annyeong!!! Ini ff pertama yang aku berani publish, maaf kalau banyak typo dan agak ngawur. Mian kalo kalian gak dapet feelnya ya dan mungkin judul ff ini udah terlalu pasaran, karena author emang agak terinspirasi sama lagu Mistake. Tapi maaf ya kalau judul sama isi ceritanya ga sesuai. Karena author masih dalam masa pembelajaran. Dimohon commentnya ya, karena itu akan sangat menghargai kerja kerasku *lebay* juga ff selanjutnya yg akan dipublish. And NO BASHING, OK? ^^ terimakasih untuk yang mau membaca ff ini…

Aku masih berdiri di tempat yang sama

Aku lelah terus berkeliaran disisimu

Bahkan sisi serakahku untuk mencintaimu kini tumbuh menjadi lelah…

+++

Yoona POV

“Annyeong.” Suara yang sudah terdengar tak asing lagi, suara Cho Kyuhyun, memecahkan keheninganku yang sejak tadi kubangun sendiri.  Aku menatapnya, dia mengukir sebuah senyum di bibirnya.

“Annyeong.” Balasku dengan senyuman tipis seperti biasanya. Walau sebenarnya aku tak berniat tersenyum semanis ini padanya. Rasanya ada yang mengganjal tiap kali dia tersenyum seperti itu, entah apa, aku tak pernah bisa dengan jelas memahami perasaan itu. bahkan menjelaskan pada diriku sendiri rasanya aku belum mampu.

Dia selalu saja tersenyum seperti itu. tersenyum seakan tak pernah ada beban dalam hatinya. Membuat semua orang selalu merasa nyaman dengan senyum itu, juga membuat semua orang akan berharap lebih padanya.

Mengapa ia harus masih begitu tersenyum dengan manisnya untukku? Mengapa ia seolah selalu saja memberi harapan padaku, harapan yang selamanya hanya akan menjadi angan-anganku.

Author POV

“Yoong, gwaenchanna?” Kyuhyun menyadarkan Yoona dari semua lamunannya.

“Gwaenchanna. Oppa, aku harus segera masuk kelas. Sampai nanti…” Yoona tersenyum sekilas padanya sebelum dia berbalik dan terus berjalan menuju kelas tanpa menengok kembali ke belakang.

“maaf Oppa, maaf aku menghindarimu. Aku hanya takut perasaan ini akan semakin dalam…”

+++

Kamu tahu

Kamu tahu bahwa aku terluka

Melihatmu tersenyum membuat hatiku semakin terluka…

 

“Yoong!” sebuah pelukan langsung menghampiri Yoona ketika ia masuk kedalam kelas.

“Yul, aku tak bisa bernafas!” Yoona berusaha melepaskan pelukan Yuri yang begitu erat.

“Ah, mian Yoong. Aku hanya terlalu senang bisa bertemu lagi. jeongmal bogoshipo,Yoong.” Yuri lagi-lagi memeluk Yoona dengan begitu erat.

“Ah, ne ne. nado bogoshipo. Tapi kau juga tak perlu memelukku seerat ini. kau mau di kampus ini ada kasus seorang mahasiswi yang mati kehabisan nafas gara-gara dipeluk oleh seorang temannya? Lagipula kita hanya 2 minggu tak bertemu, tapi kau memelukku sudah seperi bertahun-tahun tak bertemu.”

“Mian, Yoong. Mianhaeyo… tapi aku benar-benar rindu padamu! Sebentar kenapa wajahmu seperti ini? kau tak senang bertemu lagi denganku?” Yuri heran dengan wajah Yoona yang terkesan tak bersemangat. Ia tahu, Yoona tak mungkin seperti ini jika tidak sedang menghadapi masalah.

“Anio. Bukan begitu, aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya sedikit tak enak badan saja.” Yoona coba meyakinkan Yuri.

“Benar begitu?” Yuri masih ragu dengan jawaban Yoona barusan.

“Ne. sudahlah, sebentar lagi pelajaran dimulai. Cepat duduk.”

+++

Yuri POV

“Yoong, kau mau ke kantin?” ujarku setelah pelajaran berakhir. tapi ku perhatikan sejak tadi sepertinya Yoona hanya terdiam melamun tanpa memperhatikan apa yang baru kukatakan. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

Benar saja, dia tak menggubris pertanyaanku. Dia masih saja terdiam dengan lamunannya.

“Yoong, Aku sedang bicara padamu!” Aku jadi agak kesal padanya. Sejak pagi, tingkah lakunya sudah aneh. Aku yakin untuk kesekian kalinya dia sedang menghadapi masalah yang sama, masalah yang sebenarnya kurasa tak akan pernah ada akhirnya bile terus seperti ini. Lama-lama aku tak tega melihatnya seperti ini, dia terus menekan perasaannya sendiri. Ini terlalu tak adil untuknya.

“Ah, mian, Yul. Aku… aku tidak apa-apa. Bukankah sudah kukatakan tadi? Kalau kau mau ke kantin, pergilah. Aku sedang tidak lapar.” Walau ia akhirnya berbicara, tetapi ekspresi mukanya sangat datar. Tergambar raut kesedihan dimukanya yang berusaha ia tutupi dariku.

“Kau tidak mau menitip sesuatu untuk kubelikan?”

“Tidak. Pergilah, aku tidak apa-apa. Oh ya, jika nanti Kyuhyun Oppa bertemu denganmu dan menanyakanku bilang saja kau tidak tahu.”

“Memangnya kau mau kemana?”

“Aku meu ke bukit dibelakang sekolah.”

“Kau menghindarinya lagi, Yoong?” Yoona hanya menarik nafas dalam dan kembali menghadapkan wajahnya ke jendela.

“Mau sampai kapan kau seperti ini? lupakanlah, Yoong. Aku yakin suatu saat nanti kau akan menemukan yang lebih baik darinya. Aku hanya ingin kau mendapat seseorang yang bisa membalas cintamu, bukan seperti ini. aku tak mau selamanya melihat diwajahmu hanya ada bayang-bayang kesedihan. Ini terlalu tak adil untukmu, Yoong.”

“Sudahlah, Yul. Kau pergi saja. Aku butuh waktu untuk semuanya…”

Aku hanya dapat menarik nafas dalam melihatnya. Aku tahu, melupakan seseorang itu tak mudah. Yoona tak mungkin begitu saja melupakannya. Semuanya butuh waktu yang lama. Mungkin ceritanya akan lain jika orang yang dicintai Kyu itu Yoona…

Author POV

Di kantin, Kyuhyun tampak sedang mencari seseorang. Ia terus mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tampaknya sosok yang ia cari belum juga ditemukan.

“Tunggu, bukankah itu Yuri? Dia pasti tahu dimana Yoona. dari tadi aku sama sekali tak melihatnya, bahkan saat pagi saja sikapnya begitu dingin padaku.” Kyuhyun lalu menghampiri Yuri yang tengah duduk sendiri melahap makanannya tanpa ditemani Yoona yang biasa menemaninya.

“Annyeong, Yuri-ah.” Kyuhyun tersenyum kecil.

“Ah, anyyeong, Oppa. Ada apa?” Yuri sejenak berhenti mengunyah makanannya.

“Kau tidak bersama Yoona?”

“mmm…ani.”

“Apa kau tahu sekarang Yoona dimana?”

“A..aku..aku tidak tahu, Oppa. Saat istirahat dia langsung meninggalkan kelas, tapi aku tak tahu dia kemana. Dia juga tak bicara padaku akan pergi kemana. ” Yuri tampak gugup.

“Kemana dia? Aku ingin sekali menemuinya. Tadi pagi sikapnya sangat dingin padaku. apa kau benar-benar tak tahu dia kemana, Yul?”

“Ani, Oppa. Mianhe…”

Ada raut kecewa yang tergambar di wajah Kyuhyun.”Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu Yuri-ah…”

“Oppa! Tunggu!”

“Ne?”

“sebenarnya, mmm… aku tau dimana Yoona sekarang.” Ia mencoba merangkai kata agar tak terjadi salah pemahaman oleh Kyu.

“Apa? Tapi, kenapa kau tadi..”

“Mian, Oppa. Mianhe. Aku sebenarnya memang tak boleh memberitahukannya. tapi aku tak tega.”

“Tak boleh? Memangnya aku kenapa? Apa ada yang salah denganku?”

“entahlah, oppa. Ini bukan hak ku untuk berbicara banyak. Yoona hanya berpesan agar aku tak memberitahu oppa dimana dia.”

“Yoona yang menyuruhmu?” hanya sebuah anggukan kepala dari Yuri.

“Dimana dia sekarang?”

“Dia ada di bukit dibelakang sekolah. Tapi Oppa, kumohon jangan beritahu dia aku yang memberitahumu. Aku tak mau dia marah padaku.

“Ne, arasseo. Untuk itu kau tenang saja. Aku tak akan memberitahunya. Aku pergi dulu Yuri-ah.” Kyu membalikan badannya membelakangi Yuri, namun Yuri membuatnya menghentikan langkahnya kembali.

“ Oppa!”

“ada apa lagi Yuri-ah?”

“Ani. aku hanya ingin bilang tolong jangan membuat sesuatu yang akan membuatnya tambah bersedih. Kumohon…”

“Apa maksudmu?”

Yuri tak menjawab pertanyaan Kyu. ia lebih memilih kembali aktivitas makannya yang sempat terhenti tadi. kini Kyu pun memilih meninggalkannya dan berlari menuju bukit di belakang sekolah.

+++

Salahku karena mencintaimu lebih dari kau mencintaiku

Salahku karena tak membuatmu mencintaiku sebanyak yang aku mau

Yoona POV

“Aku tahu, sikapku yang seperti ini tak akan mampu mengubah perasaanku sedikitpun padanya. Tak akan pernah…Tapi setidaknya, aku bisa sejenak lepas dari siksaan itu.” gumamku dalam hati. Pandanganku hanya tertuju pada hamparan bukit yang luas, tak ada keributan atau apapun. Disini mungkin adalah tempat paling nyaman untuk sejenak menghindar darinya. Tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk pundakku, aku melirik ke arah tangan itu, atau lebih tepatnya aku membalikan posisiku kebelakang.

“Dia? Untuk apa dia kemari? Dan darimana dia tau aku disini, Bukankah tadi pagi aku sudah bersikap dingin padanya? Tapi kenapa sekarang dia masih saja mau menemuiku?” aku terhentak kaget begitu melihat orang yang ada dihadapanku kini adalah Kyuhyun Oppa.

Dia tersenyum padaku. tersenyum seperti biasanya. Sama sekali seperti tak ada yang berbeda. Aku semakin bingung jika melihatnya seperti ini, aku sama sekali tak dapat bersikap dingin padanya saat dia tersenyum padaku. itu akan terasa sangat kejam.

“Yoong, boleh aku duduk?” dia tersenyum lembut. Aku hanya mengangguk pelan, Karena mana mungkin aku mengusirnya.

“Oppa, kenapa kau tahu aku ada disini? Yuri yang memberitahumu?”

“kenapa, Yoong? Kau sedang menghindariku?” kini dia yang malah balik bertanya dan menatap wajahku dengan tatapan tajamnya.

Kumohon jangan menatapku seperti itu. aku benci tatapan itu! kau tak tahu betapa tersiksanya aku dengan tatapan itu!

“Ani, aku tak menghindari siapapun. Aku… aku pergi dulu, oppa. Pelajaran sebentar lagi dimulai.” Ujarku cepat lalu bangkit dan berusaha secepatnya menjauhi orang ini. kuharap sejauh-jauhnya. Tapi, terasa tangan dinginnya kini menahan tanganku, mencengkramnya dengan kuat.

“Kumohon, oppa. Jangan seperti ini. tolong lepaskan…” perlahan tangan dingin itu terlepas. Aku berlari sebisaku dengan pipi yang mulai basah tanpa sedikitpun berniat menoleh ke arahnya.

+++

Author POV

Ini sudah waktunya jam pulang. Yoona masih terlihat melamun tanpa berbicara sedikitpun pada Yuri sejak pelajaran dimulai. Yuri tak tahu harus berbuat apa kalau Yoona sudah seperti ini.

“Yoong, ini sudah waktunya pulang.” Ucap Yuri dengan nada lembut.

Lagi-lagi Yoona tak bergeming. Ia masih terus menatap keluar jendela. Pikirannya seperti tidak ada pada jiwanya. Yang ada dihadapan Yuri kini hanyalah wujudnya.

“Yoong…” untuk kedua kalinya Yuri megingatkan Yoona sambil coba menepuk pundaknya. Kali ini Yoona tersadar. Yoona melirik ke arah Yuri, membereskan tas dan buku lalu beranjak pergi meninggalkan Yuri.

“Yoong, tunggu!” Yuri lalu juga beranjak dan lari mengejar Yoona.

Ia akhirnya berhasil menyusul Yoona. untung saja Yoona tak berjalan terlalu cepat. “Yoong, bicaralah. Jangan buat aku bingung seperti ini melihat sikapmu.”

Namun rupanya Yoona terus berjalan tanpa mengindahkan perkataan Yuri sedikitpun. Sampai akhirnya Yoona menbarak seseorang…

“Ah, mian… mianhaeyo.” Yoona membungkukan badannya tanpa terlebih dulu melihat sosok di depannya. Tapi orang  itu tak berkata apapun. Ia hanya terus berdiri di tempatnya. Perlahan Yoona menaikan pandangannya, mencoba melihat sosok yang tepat di depannya.

“Oppa…”

“Mian, Oppa. Aku tak sengaja. Permisi…” baru satu langkah Yoona beranjak, Kyuhyun menarik tangannya agar Yoona tak bisa pergi.

“Maaf, Oppa. Aku harus pergi. Tolong lepaskan tanganku.” Yoona masih saja membelakangi Kyuhyun meski tangannya kini digenggam oleh Kyu.

Kyuhyun tak melepaskan tangan itu. malah kini ia makin erat menggenggamnya walau Yoona berusaha melepaskannya.

“Oppa tolong lepaskan aku mau pergi!” kini Yoona berbiacara dengan nada yang lebih tinggi. Masih tak ada jawaban dari Kyuhyun. Kyu malah menarik tangan Yoona dan membawanya pergi tanpa mengucapkan apapun pada Yuri yang sedari tadi ada bersama mereka disitu.

“Oppa mau membawaku kemana? Tolong lepaskan!” Teriak Yoona malah membuat Kyuhyun semakin mempererat pegangannya dan mempercepat langkahnya. Tak ada guna sama sekali Yoona berusaha berteriak sekeras apapun. Karena yang ada, cengkeraman tangan Kyuhyun malah semakin kuat. Akhirnya Yoona memilih untuk diam mengikuti kemana langkah Kyuhyun membawanya.

Sampailah mereka pada bukit di belakang sekolah. Kyuhyun melepaskan cengkeramannya. Tapi tak ada satu katapun yang keluar dari mulut keduanya.

“Bicaralah, bukankah Oppa membawaku kesini untuk membicarakan sesuatu? Kalau memang tak ada yang dibicarakan, aku mau pergi.” Ujar Yoona dengan nada dingin.

“Cukup, Yoong! Seharusnya aku yang menyuruhmu untuk bicara! Kenapa kau jadi seperti ini? kau berubah dingin padaku. bukan hanya padaku, bahkan pada semua orang disekitarmu. Kau ini sebenarnya kenapa?!” Kyuhyun membentaknya dengan nada cukup tinggi.

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Yoona. ia hanya diam dengan tatapan sendu. Berusaha untuk menahan air mata yang sudah hampir jatuh dari pelupuk matanya.

Kyuhyun menyadari raut wajah Yoona yang ingin menangis. Ia jadi tak enak hati karena barusan membentak Yoona agak kasar. “Mianhae, Yoong. Aku tak bermaksud membentakmu seperti tadi. Aku hanya ingin kau bicara, sebenarnya ada masalah apa antara kita?”

“Sudahlah, Oppa. Bukankah tadi pagi sudah kukatakan kalau aku tak apa-apa. Jadi, tak ada yang harus dibicarakan. Lebih baik aku pergi…” Kyuhyun menahannya kembali.

“Yoong, tolong jangan berusaha menghindar lagi. kau tak bisa terus seperti ini. katakanlah, katakanlah jika aku mempunyai salah padamu…”

“Kau mau aku menjawab seperti apa, Oppa?” Yoona sudah tak mampu membendung air matanya. Biarlah, biar Kyuhyun menganggapnya lemah pun tak apa. yang pasti ia sudah tak kuat menahan air matanya.”Tak ada yang salah. Tak ada yang salah padamu Oppa. Kalaupun ada yang salah, itu semua pasti salahku. Salahku…”

“Sudah, tak usah kau lanjutkan.” Kyuhyun lalu mendekatkan wajah Yoona kedalam pelukannya. Tapi Yoona malah berusaha melepaskan pelukan itu, walau sesungguhnya pelukan itu sungguh sangat nyaman. Tapi, itu malah akan membuatnya merasakan sakit yang lebih dalam.

“Ini semua salahku, Oppa. Sepenuhnya salahku…” Yoona memukul kecil dada bidang Kyuhyun. Kini, Yoona memilih membiarkan pelukan itu sejenak mendekap hangat tubuhnya. Ia sudah tak mampu lagi mendustai hatinya untuk menerima pelukan itu.

Sudah tak ada air mata yang keluar lagi. kini suasana hatinya sedikit lebih tenang menerima pelukan hangat yang sampai saat ini terus mendekap hangat tubuhnya, walau tak ada perkataan yang keluar dari mulut keduanya.

“Oppa…”

“Ne, Yoong. wae?” jawab Kyu masih terus mendekapnya.

“Mianhae, aku tadi…”

“Sudahlah. Selamanya, sampai kapanpun kau akan selalu kumaafkan.”

“Benarkah begitu?”

“Ne. tentu saja. kenapa kau Tanya seperti itu?” Kyu merenggangkan pelukannya dan menatap Yoona.

“Ani…” Yoona menggelengkan kepalanya pelan, lalu tersenyum tipis.

Benarkah, Oppa? benarkah selamanya kau akan selalu memaafkanku, bahkan hingga nanti waktunya tiba…

“selamanya kau harus berada di sisiku, eo? Karena kau dongsaeng kecilku yang paling manis…”

“lagi-lagi aku harus menahan sakit ketika kau berucap seperti itu. seharusnya aku sudah tau, selamanya, selamanya aku hanya bisa menjadi dongsaengmu, bahkan sampai saatnya nanti waktuku untuk menunggu sudah habis…” batin Yoona lirih perlahan ia kembali menitihkan air matanya tanpa diketahui Kyuhyun.

+++

Kaki kecilnya perlahan menitih jalanan menuju ke rumahnya yang sudah terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih berlalu lalang. Yoona memang tak diaantar oleh Kyu. ia memilih pulang sendiri, dengan berdalih ingin pergi mengunjungi rumah neneknya. Karena jika ia tak mencari alasan, Kyu pasti akan memaksa untuk mengantarkannya pulang.

“Kau dari mana, Yoong? Kenapa baru pulang? Tadi eomma telepon tapi sepertinya handphonemu mati. Eomma sangat khawatir padamu.” Suara eomma begitu melihat putrinya yang muncul dari balik pintu.

“Aku tadi mengerjakan tugas untuk presentasi besok, eomma. Handphoneku habis batrai sepertinya. Eomma, aku sangat lelah, aku ke kamar dulu.”

“Baiklah, kau mandi dulu lalu lekaslah tidur. Kau sudah makan bukan?”

“Ne. Permisi, eomma.”

Yoona menaiki tangga dengan langkah tergontai. Sepertinya seharian ini tak ada alasannya untuk tersenyum sekalipun. Dari pagi wajahnya sudah tak bersemangat.

Setelah membersihkan badannya, ia berjalan ke balkon kamarnya. Menatapi langit malam tanpa satupun bintang yang menampakkan wujudnya.

“langit itu. langit yang gelap itu, kelak akan menjadi tempat tinggalku sebentar lagi…”

Tapi tibatiba ia merasakan ada darah segar yang keluar dari hidungnya. Sakit ini benar-benar nyata, bukan karena sesak yang ia rasakan tentang perasaan hatinya, namun ini benar-benar sakit yang nyata. Sangat nyata. Ia terus coba menghentikan aliran darah yang terus bercucuran. Rasanya untuk berteriak meminta tolongpun ia sudah tak cukup tenaga apalagi untuk mengambil handphonenya yang sedari tadi berbunyi. Tubuhnya sudah tak mampu lagi untuk terus bertahan, rasanya ini sudah terlalu sulit.

Bruuuk

“kurasa ini sudah saatnya…”

+++

Terlihat Yuri sedang mencari-cari sosok seseorang. Matanya ia edarkan ke segala arah. Raut mukanya begitu sangat tergesa-gesa.

“Tuhan, kemana dia, kenapa susah sekali ditemukan pada saat-saat seperti ini…” Yuri terus berusaha menemukan orang yang dicarinya.

Yuri memutuskan untuk bertanya pada salah satu orang yang ada di kelas itu.

“Annyeong, Sungmin sunbae. Maaf aku mau bertanya, apa Kyuhyun sunbae ada? Aku tak menemukannya di mana-mana.”

“Entahlah. tapi kurasa tadi dia berjalan kearah bukit di belakang sekolah.”

“Baiklah, Kamsahamnida, Sungmin Sunbae.”

“Ne, cheonma.”

 

Dilain tempat…

“Oppa!” Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang cukup melengking memanggil. Secara reflex, Kyuhyun pun menoleh kearah datangnya suara. Perlahan pemilik suara itu pun mendekatinya.

“Yuri-ah, ada apa? Kenapa kau menangis?”

“Yoona…Yoona, Oppa! Yoona!” ucap Yuri dengan nada tergesa-gesa.

“Kenapa dengannya? Tolong tenangkan dulu dirimu.”

“bacalah…” ujar Yuri sambil menyerahkan sepucuk surat dari tangannya.

“Apa ini?” namun tak ada jawaban dari Yuri. Yuri masih terus menangis, tersirat kesedihan yang sangat dalam dari wajahnya. Kyuhyun akhirnya membuka surat itu dengan sejuta pertanyaan dalam benaknya.

To : Kyuhyun Oppa

From : Deer Yoong

Oppa, saat kau membaca surat ini, mungkin kita tak akan bertemu untuk sementara waktu. Karena tempat ku sekarang terlalu sulit untuk kau gapai.

Oppa…

Pada awalnya kupikir aku tak akan terluka seperih ini, karena kupikir Oppa menyimpan rasa yang sama padaku. sampai akhirnya, kau sendiri yang mengingatkanku, mengingatkan hubungan yang memang seharusnya sama seperti yang kau ucapkan tempo lalu saat di bukit itu…

Benar, perasaanku padamu lebih dari pada seorang dongsaeng pada oppanya. Perasaan ini tak sesederhana itu. ini bahkan lebih rumit dari yang kubayangkan. Aku bahkan tak pernah berharap seperti ini. jika bisa memilih, akupun lebih memilih tetap menjadi dongsaengmu, tanpa ada rasa yang menyesakan dada ketika kau tersenyum padaku karena perasaan yang terus kupendam.

Mian, jika oppa terkejut dengan semua ini. inilah jawaban dari semua pertanyaan yang tadi oppa selalu tanyakan padaku. kenapa aku tiba-tiba berubah? Inilah jawabannya. Aku tak mau perasaan ini semakin dalam. Sedang perasaan itu, hanya anganku belaka. Menyedihkan bukan? Tapi aku juga tak menyalahkan oppa dalam hal ini. ini memang semua sepenuhnya salahku, semuanya akan baik-baik saja jika saja rasaku padamu hanya sebatas yang oppa katakan.  

Kadang aku merasa seperti orang bodoh.Aku tahu aku akan terluka dan tak dapat pergi.Tapi hatiku, Cintaku untukmu, terus tumbuh begitu saja…

Mianhe, jeongmal mianhe. Aku terlalu pecundang untuk memilih mengungkapkan semuanya lewat tulisan ini. aku hanya berfikir aku tak akan mampu mengungkapkan semuanya secara perlahan, dan aku sudah merasa waktuku sudah tak banyak.

Sebentar, sepertinya sejak awal aku selalu mengucapkan maaf padamu di surat ini. sehingga terkesan aku mempunyai banyak salah padamu. Tapi tak apa, karena ku yakin Oppa akan memaafkanku seperti janji oppa waktu itu. selamanya kau akan memaafkan aku, bahkan untuk janji yang tak bisa kupenuhi untuk terus bersamamu.

Tolong maafkan aku karena menjadi seperti ini.Tolong maafkan orang itu, orang yang mencintaimu…

From : Deer Yoong

 

“Apa maksudnya ini?”

“Apa masih perlu aku menjelaskannya?” jawab Yuri dengan nada ketus dan tangisan yang makin menjadi.

“Jangan bermain-main denganku, Yul” ucap Kyuhyun lirih, kini ia menitikan air mata hingga bulirannya membasahi surat yang ada di genggamannya.

“Apa sebenarnya yang terjadi?”

“Aku pun tak tahu jelasnya seperti apa. Karena sejak malam teleponku pun tak ada jawaban. Kurasa saat itulah, semuanya terjadi… paginya Ny.Im menemukan ia tertidur di tempat tidurnya dengan seperti biasa, hanya saja raut mukanya terlihat sangat damai. Tapi mungkin itulah kedamaian terakhir yang terpancar dari wajahnya…” Yuri kembali menangis. Ia tak sanggup mengatakannya, bahkan mempercayai dengan akal sehatnya kini.

“semua salahku…”

“Dia selalu menceritakannya semua padaku. sejak awal dia menyukai Oppa. tapi dia terus menekan perasaannya sendiri. Bahkan ia menahan rasa sakitnya setiap kali Oppa menceritakan Seohyun padanya. Tahukah Oppa setiap kali kau menceritakan Seo padanya, ia langsung menghubungiku sambil menangis. Mungkin memang benar, Yoona sama sekali tak menangis dihadapanmu. Bahkan kalau aku mampu, aku ingin membuat orang yang ia sukai itu bukan Oppa! karena ini terlalu tak adil untuknya. Aku tak tahan melihatnya setiap kali ia menahan sakit. Bukan hanya sakit yang dirasakan hatinya, bahkan kondisi fisiknya pun semakin memburuk. Hingga akhirnya kanker darah yang ia idap selama ini telah sampai pada batas akhirnya…” ujar Yuri dengan nada terisak. Rasanya semua ini tak nyata. Yoona, kini benar-benar pergi.

“Apa aku sudah benar-benar terlambat?” Kyu seperti orang kehilangan kesadaran normalnya. Tatapannya kosong.

“entahlah, tapi kurasa kita bisa pergi ke acara pemakamannya, setidaknya mungkin bisa mengurangi rasa penyesalan oppa padanya.”

+++

“Sudahlah, Oppa. mari kita pulang. Sudah tak ada orang lagi disini. Biarkanlah Yoona pergi dengan damai. Melihatmu seperti ini, kuyakin ini hanya akan menambah kepedihannya. Walau mungkin kita tak dapat melihatnya, kurasa dia dapat merasakan kehadiran kita.” Yuri coba menenangkan Kyu yang sedari tadi hanya terdiam menatap nisan bertuliskan Im Yoon Ah.

Kyu menarik nafas dalam. Terasa sangat berat. Ia tak menyangka, semuanya akan begitu singkat dan terlalu perih. Andai ia tahu Yoona menyukainya, mungkin ceritanya tak akan seperti ini. andai ia juga tak pernah pura-pura mencintai Seohyun, hanya untuk menutupi kalau sebenarnya yang ia cintai adalah Yoona. semuanya telah terjadi, penyesalannya tak akan membuat semuanya kembali.

Kyu berniat beranjak, tapi ia melihat sosok itu. sosok seorang wanita mengenakan gaun putih, sosok yang sangat ia kenali.

“Yoona… apa dia benar-benar Yoona?”

Kyu memperjelas penglihatannya, sejenak ia pikir itu hanya ilusinasinya karena rasa bersalahnya yang terlalu dalam. Tapi tidak, sosok itu terlihat sangat nyata. Yoona tersenyum ke arah Kyu, walau mukanya pucat pasi, ia masih terlihat sangat cantik, wajahnya menyiratkan kedamaian. Namun perlahan sosok itu menghilang, benar-benar menghilang…

+++

Selamat tinggal, Oppa. Maaf, aku tak bisa memenuhi permintaanmu waktu itu untuk terus bersamamu. kuharap jika nanti Tuhan mempertemukan kita kembali dalam dunia dan waktu yang berbeda, aku bisa memenuhi janji itu, janjiku yang tertunda…

24 thoughts on “Mistake [ Free Writer]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s